Sewaktu SMA dulu saya punya seorang guru, kebetulan beliau bukan guru mata pelajaran melainkan guru Bimbingan Konseling (BK). Mungkin hampir di setiap sekolah ya kalau guru BK itu sering dianggap paling disegani oleh siswa, siapapun yang berurusan dengan guru BK repot *dahh.. *urusannya. :-). Demikian halnya dengan guru BK SMA saya tersebut, karena saking segannya jarang sekali siswa-siswi yang mau akrab dengan karakternya. owh iya… beliau namanya Bapak Haryadi.

Tidak demikian dengan saya, semenjak SMP saya sering berprinsip *“Sebelum menyukai mata pelajarannya sukai dulu gurunya, dengan begitu apapun mata pelajaran yang diajarkannya kita pasti akan suka”. *Kadang saya itu masabodo dengan ranking, yang penting saya bisa memiliki hubungan yang baik dengan guru-guru saya, dengan begitu saya kira akan memberikan efek positif terhadap proses pendidikan saya, termasuk prestasi. *Aminn… :-). *Di sela-sela waktu luang saya sering menemui Pak Haryadi untuk berbincang-bincang berbagai hal, khususnya masalah mental dan karakter, karena saya rasa itu yang paling sesuai dengan tugas beliau.

Salah hatu hal yang menarik tentang dirinya terlepas dari segala kekurangannya yaitu kesederhanaannya yang membalut keluasan pengetahuannya. Bagaimana tidak sederhana, dengan status PNS dan golongan jabatan yang cukup tinggi beliau memilih tinggal dipetak kontrakan tiga ruang, usut punya usut ternyata sisa gajinya dari kebutuhan hidup  ia pergunakan untuk kuliah S3. (Semangat yang luar biasa)

Disela-sela waktu luang sepulang sekolah, saya berbincang-bincang dengan beliau, disetiap perbincangan**selalu ada makna dan filososfi hidup yang beliau curahkan untuk saya. Salah satu hal yang ia sampaikan kepada saya adalah filosofi yang tersimpan dibalik pohon bambu, kurang lebih nasehat darinya yang coba saya simpulkan adalah sebagai berikut :

Coba kamu perhatikan rumpun pohon bambu, yang pertama kamu lihat adalah pada bagian akar, dibagian akar ini kurang lebih ada tiga pelajaran yang bisa kamu ambil, selebihnya kamu cari sendiri ;

Pertama, bambu sebelum tumbuh keatas dalam hitungan waktu yang cukup lama ia akan terus tumbuh kebawah menancapkan akarnya sampai akarnya betul-betul kuat untuk menopang batang pohon yang akan tumbuh. Kalau dilihat pada diri manusia, itulah iman dan ilmu. Agar ketika kamu tumbuh semakin dewasa dalam menghadapi hidup maka perbanyaklah ilmu dan perkuatlah iman, sehingga ilmu dan iman dapat menjadi penopang pijakanmu disaat kamu menggeluti segala persoalan hidup.

Kedua, ketika pohon bambu ditebang jarang sekali orang ada yang membabad habis dengan akar-akarnya. *Artinya apa ?, *karena betapa keras dan kuatnya akar tersebut. Begitu halnya dengan dirimu, secara fisik kamu akan musnah, akan tiada dan akan mati, jasad kamu boleh tiada tapi buah keimanan dan ilmu kamu harus tetap hidup, yaitu pada generasi setelahmu.

Ketiga, secara terlihat bambu tumbuh dalam satu batang, namun salah satu sifat bambu yang paling identik adalah hidup berumpun. Ini tidak terlepas dari peran akar yang saling mengokohkan antar yang satu dengan yang lainnya. Bahkan bisa dibilang akar mereka satu dalam kesatuan tapi secara batang mereka tumbuh masing-masing dalam satu batang. Ini menggambarkan bahwa untuk kuat kita harus rukun hidup dalam persatuan dan kebersamaan untuk menjaga diri, iman dan ilmu dari kehancuran.

Sampai disitu mudah-mudahan kamu sudah bisa memahami. Berikutnya coba kamu perhatikan bagian batang pohon bambu.

*Pertama, *bambu tumbuh dalam bentuk satu batang (tidak bercabang), dalam satu batang tersebut terdiri dari beberapa bagian buku-buku. Artinya apa, ini adalah simbol kesabaran. Untuk membangun sebuah kekuatan kita tidak bisa serta merta, tetapi harus ada proses setahap demi setahap dan pada fase-fase tahapan tersebut disitulah kekuatannya. Coba kamu bayangkan bambu tanpa buku, isinya kosong semua seperti pipa dari pangkal sampai pucuk, tentunya bambu tidak akan sekuat seperti kenyataanya dalam menghadapi henbusan angin.

*Kedua, *batang bambu keras, tapi lentur. Inilah salah satu sifatnya yang membuat ia tidak mudah roboh selain karena ditopang oleh akar yang kuat dan batang yang berbuku-buku tadi. Ini mengisyaratkan akan sebuah kelenturan, kelembutan namun konsisten pada diri kita. Jadilah pribadi yang kuat tapi tidak kaku/keras terhadap perkembangan keadaan, dan kamu harus punya pijakan yang kuat (akar=iman & ilmu) sebagai titik konsistensi kamu agar tidak melenceng.

*Ketiga, *salah satu hal yang dicontohkan oleh pohon bambu ia selalu hidup berumpun dan bersatu. Ketika satu batang pohon dihempas oleh angin maka batang-batang yang lain berada disekelilingnya untuk saling menjaga agar tidak ada yang tumbang. Selayaknyalah kamupun seperti itu dalam hidup bermasayarakat, bernegara dan beragama.

Baik, baru segitu yang bisa bapak sampaikan mudah-mudahan itu bisa jadi sedikit himah buatmu, selebihnya kamu cari juga ya…

Kurang lebih itulah pelajaran dari beliau (Bapak Haryadi) dalam memaknai pohon bambu sebagai cerminan kehidupan. Kini Bapak Haryadi sudah tidak lagi hidup berdampingan dengan kita karena pada tahun 2007 Allah telah memanggilnya pulang. Namun, sebagaimana dalam curahan hikmahnya dari pohon bambu tadi *“kita akan mati, kita akan tida… namun, ilmu dan iman kita harus tetap hidup”. *Hal itu kini menjadi nyata, beliau telah tiada… beliau telah menghadap yang maha kuasa, namun percikan ilmunya dalam belajar memaknai hidup Insya Allah akan terus ada, setidaknya didalam diri saya dan yang membaca artikel ini. Semoga Allah SWT menerangi jalan bapak disana…