Seperti sebuah gerakan dengan satu komando, dalam hitungan jam media-media masa baik yang mainstream maupun yang lagi merangkak ramai-rama gencar memberitakan tentang pembubaran Front Pembela Islam (FPI).

Sebelum menyampaikan tulisan ini, saya ingin menyampaikan satu hal yang harus digaris bawahi oleh para pembaca. Bahwa, saya tidak sedang membela FPI maupun menyerang media. Saya hanya ingin menyampaikan rasa ketidakpuasan saya terhadap media, khususnya media-media besar yang cenderung tidak independen dan berimbang dalam menyampaikan berita.

Disadari atau tidak media memberikan pengaruh terhadap pesan moral, wawasan, dan sudut pandang Masyarakat. Namun sepertinya seolah ada pemanfaatan untuk pengaruh yang terakhir saya sebutkan.

Medianya tidak fair, FPI di bombardir secara sepihak untuk mengarahkan dan menggerakan pada satu opini yang negatif. Masyarakat sama sekali tidak akan pernah melihat satu sisi positifnya (yang menurut mereka itu memang tidak ada) karena terus dijejali oleh pemberitaan yang tidak berimbang.  Pemberitaan yang pesan kebencianya  melebihi apa yang dituduhan kalau FPI penyebar kebencian dan kekerasaan.

Pendapat-pendapat para tokoh yang dikutip-pun adalah pendapat tokoh-tokoh yang cenderung memang tidak suka dengan adanya FPI, terlepas itu terkait dengan masalah kekerasan atau bukan. Yang lebih lucu lagi ketika pendapat sang tokoh tersebut dikutip sepotong-sepotong. Kutipan tersebut cenderung lebih mengarahkan masyarakat untuk semakin membenci FPI. Kenapa tidak dimintai pendapat tokoh netral dan pendapatnya tidak membuat  masyarakat tergerak untuk konflik horisontal ?.

Kalau terjadi konflik horisontal dengan korban yang tidak sedikit lalu siapa yang salah, FPI kah sebagai subjek yang disorot hanya sisi negatifnya ?, Media kah yang mengaduk-ngaduk semuanya menjadi riuh ?, atau tokoh yang pendapat negatifnya dikutif oleh media ?.

Berbicara Kekerasan

Hal yang paling dijadikan alasan keinginan untuk membubarkan FPI adalah isu kekerasan. Kekerasan mana yang begitu membuat FPI terkesan lebih seram dari kelompok-kelompok yang berebut lahan parkiran ?.

Seharusnya kalau media mau menghiperbolakan isu pembubaran ormas yang identik dengan kekerasan maka bukan hanya FPI yang harus dibubarkan, dan bukan hanya FPI yang jadi bulan-bulanan media. Ada ribuan ormas yang harus “digulung”, yang lebih keras dan mungki bagi Anda sebetulnya lebih meresahkan  dibanding FPI. Tapi itu tidak pernah diangkat, entah karena apa alasannya.

Kalau FPI kisruh maka dalam beritanya nama “FPI” disebutkan dengan jelas dan di tulisan dengan kontras. Tapi kalau ada ormas lain yang “murni premanisme” rusuh, media hanya menyebut “Sebuah Ormas” dalam pemberitaanya, cenderung enggan menyebutkan nama ormasnya. Why ?

Headline beritanya “Pembubaran Ormas-ormas Anarkis”, tapi kontennya FPI semua. Sedangkan setahu saya kalau sudah ada pengulangan kata subjek, itu artinya sudah lebih dari satu (majemuk). Lalu siapa saja ormas-ormas tersebut ?, kenapa Cuma FPI yang di ekspos ?.

Berapa banyak sih jiwa  yang menjadi korban FPI ?. Lalu bandingkan berapa banyak korban narkoba dan miras yang sekali *ngefek *bisa menyebabkan belasan orang tewas seketika ?. Kenapa begitu banyak tempat hiburan yang menjadi basis penghancuran generasi bangsa, yang lebih mengancam kehadirannya dibanding FPI Anda diam saja ?, sementara FPI berusaha membersihkan *sampah-sampah *tersebut dengan caranya sendiri pemberitaan miringnya begitu luar biasa. Anda punya cara yang lebih sederhana dan efektif ?. Lakukanlah itu.

Lalu apa yang sebenernya Anda bela ?. Generasi bangsa atau kepentingan-kepentingan kelompok tertentu yang tidak peduli tentang hari esok negeri ini, yang penting mereka untung, dan mereka merasa kehadirannya terganggu oleh FPI ?

Adanya FPI bukan tanpa sebab, begitupun dengan kekerasan yang dilakukan oleh FPI saat menggeruduk tempat-tempat maksiat. Tidak kah Anda khawatir kalau kelak anak-anak Anda menjadi bagian dari lingkaran kemaksiatan ?, Apakah Anda ingin setelah meninggal maka anak Anda tidak pernah mendoakan Anda karena anak Anda sedang sibuk maksiat di tempat maksiat ?. Lalu alasan apa yang harus memperbolehkan kita akan adanya tempat maksiat ?.

FPI tidak akan ada kalau tidak ada yang mengharuskan FPI ada, ditambah lagi ketika para abdi negara ini tidak mampu menjadi abdi yang amanah dan bertanggungjawab.

Ketika terjadi demo-demo anarkis di depan gedung MPR/DPR, yang jadi korban kerusakan adalah fasilitas gedung seperti pagar, gerbang, dan lain sebagainya yang tidak lain dibangun dari uang rakyat, tapi tidak ada yang teriak-teriak menganggap itu meresahkan dan merugikan. Padahal nantinya uang rakyat lagi yang digunakan untuk memperbaikinya. *Okey, *mungkin itu karena dianggap “dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat”.

Tapi kemudian ketika FPI merusak tempat-tempat maksiat yang TIDAK DIBANGUN dari uang rakyat, sepertinya begitu banyak orang-orang yang menganggap itu sebagai sesuatu yang meresahkan. Resahnya seperti melebihi uang rakyat yang terus dikuras. Siapa sih sebenranya yang Anda bela ?, masyarakat atau yang punya tempat maksiat ?.

Atau jangan-jangan media-media sendiri merasa terancam eksistensi “kapitalis dan liberalisme”  bisnisnya sehingga sampai harus meletakan dasar-dasar jurnalisme yang semestinya independen dan berimbang, bukan mengarahkan masyarakat pada satu pendapat kepentingan.

Tidak Adakah Satu Kebaikanpun ?

26 Desember 2004, Bumi Nangroe dihempas tsunami dan gempa bumi 9,3 SR. Hampir 130 ribu jiwa masyarakat Aceh yang meninggal dunia. Mengingat banyaknya korban jiwa, jenajahpun dimakamkan secara masal kedalam liang lahat yang sama. Di beberapa proses pemakaman, nyaris tidak seperti pemakaman layaknya manusia yang meninggal. Bisa dimaklumi memang, karena kondisi yang kurang memungkinkan, dan Agamapun memaklumi itu.

Tapi ada beberapa kelompok relawan yang berusaha “memanusiakan” jenajah-jenajah tersebut. Tidak hanya sekedar membantu pencarian jenajah, tapi jenajahnya pun dimandikan, dibersihkan, dikafani, dan bahkan disholatkan. Salah satunya adalah tim relawan FPI.

Tanpa rasa jiijik ataupun kekhawatiran timbulnya penyakit akibat terkena kulit jenajah yang mengelupas, dengan sigap mereka lindungi hak-hak manusia meskipun sudah tinggal raga.

Sobat-sobat tidak tahu tentang ini ?

Wajar saja, karena media-medianya memang begitu benci terhadap FPI, dan sudah barang tentu enggan memberitakan sisi hal ini.

Lalu kenapa FPI nya sendiri tidak menyebar luaskan aktivitas ini ?

Kalau sudah *Lillahita’ala, *mungkin publikasi tidak lagi penting. Kalaupun FPI melakukan publikasi sudah pasti gaungnya tidak ada selantang suara media.

Mungkin ada yang ingin mengatakan “siapa sih sebenarnya media-media tersebut ?”. Tidak perlulah Anda mempertanyakan hal itu, kecuali kalau Anda ingin menjebak saya dalam pusara hukum yang sudah berada di pihak yang sudah bisa ditebak.

Yang lucu laginya begini, media-media tersebut berkedok independen dan berimbang, bahkan sangat melarang hal-hal yang berbau SARA. Tapiiiiii……, mereka begitu bersemangat kalau memberitakan hal-hal yang bebau perselishan SARA, selanjutnya membiarkan para pembacanya berselisih, berdebat, dan bertengkar di kolom komentar beritanya tanpa moderasi.  Media macam apa ini kalau hanya menjadi fasilitator konflik dibanding pemersatu ?. Terus dengan seenaknya bilang “Itu Diluar Tanggung Jawab Kami”.

Kontradiksi Antara Kebenaran Hakikat dan Kebenaran Prosedural (Disarikan dari EraMuslim)

Dari beberapa konten media, saya berasumsi kalau mediapun memiliki banyak kepentingan. Entah itu ideologi, politik, ekonomi, ataupun bisnis dan lain sebagainya. Perlu diketahui juga bahwa karakter awak media akan sangat mempengaruhi karakteristik wajah media tersebut. Sederhananya, kalau kita melihat “siapa orang dibalik layarnya ?”, maka terbayang sudah akan seperti apa sudut pandang media masanya.

Kalau menurut Eramuslim :

“Seorang muslimkah dia, liberal, agnostik, kejawen dan sebagainya, akan mempengaruhi berita-berita yang disuguhkan.

Pembaca pun hanya menjadi penonton, yang jika tidak hati-hati dan cerdas, akan terhanyut dan terombang-ambing dalam pusaran informasi yang begitu deras dan terbuka. Independensi media massa pun dipertanyakan”

Jika kita melihat sisi hakikat yang dilakukan FPI, maka kebenaran yang diusung tidak terbantahkan. Misalnya begini, Anda atau Saya pasti akan setuju kalau minuman keras, prostitusi, perjudian dan sejenisnya adalah hal-hal yang merugikan dan tidak bermanfaat. Lebih banyak kerugiannya daripada manfaatnya. Tidak perlu lah sampai ditanya berapa banyak bukti kehancuran akibat perbuatan-perbuatan tersebut. Kecuali bagi penganut adanya “kebenaran relatif”, sudah barang tentu hal-hal tersebut tidak berlaku.

Apa yang dilakukan FPI secara hakikat adalah benar, karena mereka berusaha menghilangkan penyakit sosial masyarakat yang sudah endemik. Kekerasan yang mereka lakukan biasanya menjadi pilihan terakhir, karena adanya kelompok penentang. Pun hingga saat ini, kekerasan itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

Bandingkan dengan kekerasan di daerah, misalnya Ambon, Poso, Bima, Makassar dan lainnya sebagainya, yang menyebabkan korban meninggal dunia. Kebenaran hakikat yang diyakini FPI bertabrakan dengan kebenaran prosedural yang ditetapkan dalam kehidupan masyarakat.

Ambil contoh kasus Perda Miras yang ramai beberapa waktu lalu. Kementerian Dalam Negeri berdalih Perda-perda Miras bertentangan dengan Keputusan Presiden Nomor 3 tahun 1997. Oleh sebab itu, muncul wacana pencabutan Perda-perda tersebut.

Secara prosedural perundang-undangan, upaya Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi benar untuk mencabut Perda-perda tersebut. Tapi, secara hakikat, dia akan bertabrakan dengan kebenaran hakikat tadi yang tidak bisa terbantahkan.

Inilah contoh kasus yang menyebabkan lahirnya kelompok-kelompok seperti FPI. Selama kebenaran prosedural tidak berdasarkan kebenaran hakikat, maka akan selalu lahir generasi serupa. Dan, bagi mereka yang sungguh-sunggu memerangi FPI dikhawatirkan terjangkit penyakit Islamophobia yang wabahnya sudah mendunia, dan itu tidak terlepas dari tindak-tanduknya media.

Open your mindset, open your eyes !.

Mungkin akan ada yang merasa tidak suka dengan tulisan ini. Itu sah-sah saja dan wajar tentunya. Sewajar saya yang merasa kalau media semakin tidak berimbang  tentunya. Media punya hak memberitakan, organisasi punya hak untuk dibentuk, dan sayapun punya hak untuk berpendapat. Terlepas dari Anda sukai ataupun tidak. Selebihnya, saya mengucapkan mohon maaf kalau ada kekeliruan dalam opini saya ini, dan juga mohon maaf kepada yang mungkin merasa dirugikan.

Sekali lagi saya tidak sedang membela FPI, karena saya juga tahu kalau kedamaian itu lebih baik dari kekerasan. Saya hanya berharap mudah-mudahan media bisa lebih berimbang dalam menyajikan pemberitaan.