Di tahun 2010 saya sempat menutup akun facebook pribadi yang  jumlah pertemanannya sekitar 4000-an secara spontan dan permanen dengan cara menyerahkan emailnya kepada teman saya supaya menutup akun tersebut. *Kenapa tidak oleh saya sendiri ?, *kalau oleh saya sendiri khawatir masih bisa diakses. Tujuan saat itu bukan untuk memutus tali pertemanan ataupun karena sudah jenuh. Hanya sebagai eksperimen kecil-kecilan ingin tahu bagaimana rasanya tiba-tiba kehilangan akun facebook setelah saban hari aktif di facebook.

Awal-awal facebook nonaktif, terus terang serasa ada yang hilang. Gatal sekali rasanya ingin facebookan. Ibarat ujian, saat itu saya benar-benar menahan hasrat untuk membuat akun yang baru. Singkat cerita, waktu sudah berjalan kurang lebih 3 bulan dan saya sudah terbiasa tidak menggunakan facebook. Sampai pada waktunya kemudian saya membuat akun facebook baru lagi dengan perasaan yang biasa-biasa saja, tidak ada rasa ketergantungan lagi terhadap facebook.

Hampir serupa dengan cerita diatas, di bulan April 2011 saya mencoba sesuatu yang lain lagi, yaitu 2 bulan tanpa handphone.

Hari gini gak pake handphone, emang bisa ?

Pertanyaan yang seolah tantangan itulah yang coba saya jawab. Banyak suka dukanya memang ketika di zaman seperti ini saya harus hidup tanpa handphone. Ada sisi dimana saya bisa tidur dengan nyenyak, tidak dipusingkan dengan habisnya pulsa, dan juga punya banyak waktu untuk istirahat. Eiiittt… jangan salah, disisi lain juga saya harus siap digerutu oleh banyak orang yang kesulitan menghubungi.

Awalnya memang frustasi ketika harus hidup tanpa handhpone, tapi dalam waktu 2 bulan alhamdulillah saya bisa menjalani hari-hari dengan normal tanpa handphone. Sampai pada waktunya, kondisilah yang mengharuskan saya kembali menggunakan handphone.

Masih hangat baru-baru ini, di awal bulan september lalu saya coba menikmati banyak waktu di ruangan berukuran 2 x 2,5 meter, tanpa jendela dan pintu selalu ditutup. Sudah kaya orang bertapa saja.

Yang saya rasakan terus mengurung di ruangan cukup sempit adalah sepi, pengap, panas, dan wangi ruangan yang mudah terpengaruh dari apa saja yang masuk ke dalamnya.  Saya hanya keluar kamar ketika mau mandi, mengambil wudhu, makan, buang air, dan mencuci. Rasanya benar-benar tidak nyaman, tapi untunglah masih bisa terkoneksi dengan internet.

Hampir dua bulan lamanya saya menikmati kondisi di ruangan 2 x 2,5 meter tersebut, meski awalnya terasa sangat menyiksa tapi dengan beriringnya waktu saya bisa beradaptasi dengan kondisi demikian.

Belajar dari tiga pengalaman tersebut  paling tidak saya ingin berbagi opini sebagai berikut :

***Pertama, ***dalam kondisi apapun selama tidak mengancam keselamatan jiwa, sebetulnya kita mampu bertahan hingga akhirnya kita bisa terbiasa. Yang seringkali membuat kita tidak tahan adalah mental kita yang mudah menyerah dan tuntutan kondisi (terutama pekerjaan).

***Kedua, ***sepertinya kita (khususnya saya) harus lebih sering membiasakan hidup dalam kondisi sulit dan penuh keperihatinan. Paling tidak itu akan mendidik kita bagaimana belajar menghadapi persoalan. Ketika kita mampu menghadapi persoalan yang menghadang, maka ada satu persitiwa dalam hidup yang insya Allah akan terus mendewasakan kita.

***Ketiga, ***ketika kita terbiasa dalam ketidakmudahan, maka kita akan merasakan betul nikmat Allah SWT yang sangat luar biasa ketika kita merasakan sebuah kemudahan. Sedangkan ketika kita hanya terbiasa dengan kemudahan, sering sekali kita langsung payah dan lemah saat dihadapkan pada kesusahan. Kita akan merasakan tersiksa betul dengan kesusahan tersebut.

Orang yang terbiasa serba mudah akan merasa bahwa kemudahan tersebut adalah sesuatu yang biasa, dan itu bisa membutakan hati dari bersyukur. Belajar susah atau belajar perihatin adalah salah satu cara mendidik kita untuk sadar akan bersyukur.

***Keempat, ***dengan belajar memperihatinkan diri kita akan menemukan sebuah momentum dimana sebetulnya tidak ada celah yang melayakan diri kita untuk berkeluh kesah. Kita akan melihat bahwa berkeluh kesah sebetulnya hanya milik pribadi-pribadi yang manja dan cengeng. Berkeluh kesah adalah salah satu pangkal efek domino yang akan membuat kita terus mengeluh. Mengeluh hanya akan melahirkan persoalan baru, ketika persoalan baru tersebut muncul kemudian kita mengeluh lagi. Mengeluh hanya akan terus-terusan melahirkan masalah. Mengeluh tidak akan memberikan hal positif apapun.

***Kelima, ***dari tiga poin pengalaman diatas ada satu hal yang perlu saya garis bawahi, yaitu kehilangan. Kehilangan disini bisa berarti kehilangan kenyamanan, kehilangan materi, kehilangan kemudahan, dan intinya adalah kehilangan hal-hal yang selama ini membuat kita terbiasa dengan kemudahan. Ketika kita kehilangan, cobalah yang kita renungkan itu bukan sesuatu yang hilangnya, tapi sejauh mana selama ini kita sudah menyukuri apa yang kita miliki ?. Kalau kata bang haji Rhoma jangan sampai “Kalau Sudah Tiada Baru Terasa”.

***Keenam, ***sekedar berbagi tips sederhana. Untuk membuat diri agar terbiasa denga ketidaknyamanan antara lain dengan

  • Merenungan sejauh mana kita bersyukur (sebagaimana poin kelima), cobalah kita berpikir positif. Dengan cara ini insya Allah akan mengarahkan hati kita pada kondisi ikhlas atas apa yang telah hilang dari kita, yaitu hilang kenikmatan yang selama ini (mungkin) memang kurang kita syukuri.
  • Alihkan pikiran kita dari memikirkan yang hilang tersebut  dengan cara mengalihkan aktivitas kita. Jangan biarkan diri kita diam hanya menjadi fasilitas pikiran kita untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting dan tidak karuan.
  • Bukalah interaksi diri dengan orang lain, baik dari segi interaksi kehidupan sosial maupun interkasi pikiran.
  • Yakinlah, bahwa dengan berjalannya waktu kita akan terbiasa tanpa dengan sesuatu yang hilang tersebut.
  • Banyak mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa

***Ketujuh, ***jadikan ketidaknyamanan dalam hidup sebagai jembatan yang akan menghubungkan kedekatan hati dan pikiran kita dengan Allah SWT. Kalau ketidaknyamanan tersebut bisa menjadi seperti itu, insya Allah kita akan terbiasa dengan ketidaknyamanan. Dan dengan seiring berjalannya waktu, ketidaknyamanan tersebut akan berubah menjadi sesuatu yang nyaman. Dan itulah bagian dari life simple.