Siang itu baru saja usai sholat Dzuhur berjamaah di masjid sekolah, berjalan saya sama dua orang teman (yang kebetulan tinggal bersama di ruangan *marbot *masjid) ke selasar teras depan. Bincangan kami saat tidak jauh dari soal makan, ya, *“mau makan siang apa nih kita ?”. *Kurang lebih itulah satu pertanyaan yang menjadi inti topik obrolan.

Asiknya ngobrol membuat kami lupa topik awal tentang makanan apa yang akan kami beli.

“Asik bener obrolannya ?”

Sapa Pak Santo, guru matematika kami yang baru saja menjadi sholat berjamaah kami.  Lambat laun Pak Santo pun terlibat kedalam suasana obrolan kami. Tapi kali ini beda, obrolannya jadi lebih terarah, penuh makna, tapi tetap santai. Ahhh asik bener**dah obrolannya. Bukan bermaksud melebih-lebihkan, karakter seorang pengajar yang mampu mengajar dengan baik nampak jelas dari cara Pak Santo berbagi cerita bersama kami.

Sesekali topiknya tidak lepas dari mata pelajaran yang beliau ajarkan, tetapi selalu dalam kemasan yang membuat kami sama sekali tidak terpikirkan untuk beranjak dari obrolan tersebut. Masalah *“mau makan apa siang ini ?” *pun lupa seketika.

Saya tidak bisa menguraikan obrolan yang sedemikian panjang, yang sebagian besarnya terus terang saya sendiri sudah lupa. Tapi ada satu poin yang begitu bermakna. Yaitu tips bagaimana beliau belajar semasa kuliah dulu. Yaitu ; “Tuliskan ilmu yang kita ketahui selagi ingat, saat-saat tersebut mungkin kita merasa sangat mengingatnya dan yakin tidak akan lupa, tapi dalam beberapa waktu kedepan kita akan merasa menyesal karena tidak menuliskannya.”

Tips tersebut disampaikan ketika kami meminta tips supaya tidak cepat lupa apa yang sudah dipelajari.

Kurang lebih, enam tahun sudah masa itu berlalu. Tapi peristiwa enam tahun tersebut begitu mutlak terbukti ketika saya iseng-iseng membaca kembali tulisan-tulisan saya di blog ini dan blog yang satu lagi disini.

Apa yang saya temukan ?.

Ternyata tidak sedikit tulisan yang saya tuangkan tersebut yang kembali mengingatkan saya akan poin-point tulisan tersebut. Tulisan-tulisan yang mencatatkan apa yang “mengacungkan tangan” dipikiran dan “menampakan rupa” di pandangan mata itu ternyata memiliki fungsi untuk mendidik diri saya kembali.

Mungkin inilah salah satu manfaat ngeblog, kita bisa menuliskan sesuatu yang bermanfaat. Minimal buat diri sendiri dan syukur-syukur buat orang banyak.

Coba deh, buat sobat-sobat yang suka ngeblog, dibaca-baca lagi tulisan yang pernah sobat-sobat tuangkan. Bisa jadi kalian merasa geli dengat tulisan sendiri, bisa jadi juga merasa “jijik” ( 🙂 )ketika tulisan yang kita tuangkan ternyata tidak layak baca, dan itu baru kita sadari saat ini. Bisa jadi pula, tulisan tersebut menjadi “cambuk” yang memotivasi dan menyadarkan diri kita sendiri, yang barangkali sudah jauh melenceng dari *priciple of life *yang sudah pernah diikrarkan.

Pepatah mengatakan : “Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya” memang benar, saya kira itu bisa di-setengah sempurna-kan dengan “Sebarkan Ilmu Dengan Ngeblog”. Pesannya jadi ada 2 (dua), yaitu semangat menulis dan menulis yang bermanfaat. Menulis saja tidak cukup jika apa yang kita tulis tidak bermanfaat, menulis yang bermanfaat akan kurang maksimal jika tidak disebarkan.

Haruskah dengan ngeblog ?

Tentu saja tidak, kita bisa menulis di media manapun. Tapi…. ada tapinya neh, di blog, siapapun bisa menulis dengan leluasa tanpa harus mengantri seperti di daftar antrian percetakan buku maupun media cetak. Mau tidak mau kita juga akan terdorong untuk menulis secara ikhlas, tanpa menghitung banyak sedikitnya royalti. Jangan salah, meskipun tanpa royalti bukan berarti pintu rejeki tertutup buat kamu. Dengan tulisan yang berkualitas dan bermanfaat, Allah bisa saja menurunkan rejeki buat kita dari arah dan media yang kadang tidak terduga.

Itu adalah sisi lain dari ngeblog, sebuah aktivitas yang kaya manfaat. Tapi baru sebatas menurut saya, kurang tahu kalau menurut yang lain.

Ilmu yang kita dapat mungkin diperoleh dengan biaya yang tidak sedikit. Tapi apa gunanya ilmu yang mahal kalau tidak diamalkan. Diamalkan oleh diri sendiri memang bagus, tapi sepertinya akan lebih bagus lagi kalau orang lainpun bisa kita ajarkan.

Tidak selamanya otak kita mampu merekam semua memori ilmu yang kita dapatkan. Jangan biarkan ilmu-ilmu tersebut punah didalam pikiran kita sendiri. Jadikanlah ilmu yang sobat-sobat miliki ibarat tanaman yang bermanfaat yang siapapun berhak menanamnya, menyiramnya, melestarikannya, memetiknya, serta menikmatinya.

Bisa jadi suatu saat kita sendiri ingin memetik ilmu yang bermanfaat tersebut ketika kita tidak pernah dan juga tidak lagi mampu menanamnya (menuliskannya), dan alangkah bahagianya ketika kita butuh kitapun bisa memetiknya dari apa yang kita tanam (kita tuliskan). Tuliskanlah, minimal itu bisa menjadi pengingat untuk diri kita sendiri, dan disaat lupa lekaslah segera kembali membacanya. Ibarat anak (tulisan) dan kita adalah ayahnya (penulis), bisa jadi tulisan-tulisan kitapun rindu untuk dijenguk (dibaca) oleh penulisnya.

Semoga bermanfaat. 🙂

“Beruntunglah Anda yang dapat menulis dan mampu membaca, tapi Anda akan menjadi manusia yang lebih rugi dari yang tidak dapat menulis dan tidak mampu baca jika Anda tidak mau menulis dan enggan membaca.”

Bogor, 10 Pebruari 2012