Siapa yang tidak kenal dengan Buku Lembaran Kerja Siswa atau yang disingkat dengan LKS. Mulai dari usia Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) kenyang sudah kita bergelut dengan yang namanya LKS. Nah, dikesempatan kali ini ROSID.NET lagi kepengen ngebahas buku yang satu ini. Gak ada kerjaan banget ya, orangmah ngebahas buku novel gituh, inimah LKS dibahas. Heuheuheuuu…

Justru itulah sobat, karena sepertinya jarang banget yang mau ngebahas tentang buku LKS maka sepertinya ini satu hal menarik yang harus ROSID.NET bahas. Kalau saya boleh tanya, apa sih yang paling identik dengan buku LKS ?. Hayooo…. apa coba ?, wah… pastinya banyak ya ?. Tapi biasanya seingat saya waktu sekolah dulu yang paling identik dengan LKS itu Pekerjaan Rumah (PR) dan yang kedua kewajiban membayar buku LKS-nya itu. Heuheuheuuuu…. kadang suka sedih kalau nginget-nginget waktu sekolah dulu, dipulangin dari sekolah karena belum bayar buku LKS. Heuuu… nasiiiib.. nasib. Ok, itumah masa lalu, lupain aja, sekarang kita coba bahas lagi tentang buku LKS –nya.

Berdasarkan kacamata “burem” saya, sebetulnya memang banyak juga kelebihan dari buku LKS, tapi tidak sedikit juga kelemahannya. Nah lho… riset dari mana tuh ?, Heheheheeee… nyantai sob, jangan terlalu ditanggapi serius, namanya juga kacamata “burem”. Kalau ngebahas satu persoalan dengan sudut pandang, biasanya yang dinilai adalah sisi positifnya dulu, tapi untuk yang satu ini saya pengen ngebahasnya dari sisi negatifnya dulu. Ko begitu Om ???… udah baca aja, jangan banyak protes, nanti kalau udah baca semua mau dibakar juga tulisannya gak apa-apa, heheheheeee….

Kebiasaan Negatif dengan LKS

Sebelum berlanjut saya mohon maaf nih ya yang seeeeeeebesar-besarnya, khususnya kepada Bapak dan Ibu guru, yang mungkin secara langsung ataupun tidak merasa tersinggung dengan tulisan saya ini. Tapi percayalah Pak, Bu, saya tidak bermaksud menyinggung siapapun, kalau mungkin tulisan ini dianggap sebagai “kritikan yang membangun” rasanya itu jauh lebih tepat. Tulisan ini justru sebagai bentuk apresiasi kepedulian dan kecintaan saya terhadap dunia pendidikan, serta apresiasi rasa hormat saya kepada seluruh guru-guru di Indonesia yang terus mengabdikan diri untuk mencerdaskan bangsa.

Entah benar-benar atau tidak, saya sering merasa dengan adanya buku LKS justru kadang cenderung mendekatkan dengan kemalasan baik bagi pelajar maupun pengajar, memang sih tidak sepenuhnya demikian, tapi dari telaahan yang ada kebiasaan buruk yang identik dengan LKS tersebut memang sangat kental. Terlebih lagi tidak jarang materi yang disajikan di buku LKS tidak sama dengan pendamping pembelajaran lainnya, yaitu Buku Paket. Kalau dengan buku paket saja tidak sejalan apalagi dengan kurikulum ?.

Kebiasaan buruk dengan LKS bagi pengajar dan pelajar antara lain :

Pengajar cenderung malas dalam membuat soal. Soal-soal latihan, ulangan, bahkan untuk Ujian Semesterpun yang ditugaskan oleh Gugus maupun Rayon tidak jarang basis soalnya mengambil dari buku LKS. Memang sih ini tidak salah, tapi ada satu hal sangat penting yang diabaikan, yaitu Kreatifitas. Kalau dari pengajarnya saja sudah tidak kreatif, bagaimana mungkin siswanya jadi kreatif ?, jadi jangan harap ada “Kreatifitas Pembelajaran”.

Menambah tingkat “kemalasan” untuk mengajar dan menyepelekan setiap ketidakhadiran pengajarnya. Hal seperti ini memang tidak berlaku untuk pengajar-pengajar yang semangat pengabdiannya tinggi. Tapi bagi pengajar-pengajar yang lengket dengan rasa malas, begitu dia malas mengajar ah cukup dikasih tugas ngerjain LKS-aja siswa-siswanya. Masih mending kalau dipertemuan berikutnya tugas-tugas LKS tersebut dikoreksi, yang ganjil kan begitu bertemu dipertemuan berikutnya langsung meloncat ganti materi karena harus berkejaran dengan RPP dan Silabus.

Kalau kita flashback kebelakang, sebelum LKS ada. Tanpa LKS-pun setiap pelajar tidak kalah berprestasi. Ada hal yang menarik dari *flashback *tersebut, secara fasilitas memang bisa dibilang cukup sulit, tetapi ada satu yang sangat mahal dan berharga sehingga mendorong siswa untuk terus lebih giat belajar, yaitu Semangat. Dulu, sebelum ada LKS materi pembelajaran memang tidak semudah seperti di LKS, tapi para pengajar mampu menumbuhkan “rasa penasaran” keingintahuan bagi para peserta didik, sehingga mereka mencari tahu sebisa mungkin untuk menutupi rasa keingintahuannya.

Setahu saya (yang awam ini), ada salah satu dasar unsur utama dalam pendidikan, khususnya pendidikan dasar, yaitu Menulis. Saya sering bertanya kepada para pengajar, khususnya pengajar-pengajar senior (termasuk guru-guru sekolah saya) mengenai kemampuan menulis dan kualitas karakter tulisan peserta didik saat ini. Dan sebagian besar mengatakan kalau kemampuan menulis maupun kualitas karakter gaya tulisannya dari generasi ke generasi selalu menurun. Bahkan tidak jarang ada yang sudah duduk di jenjang SMP masih belum mampu menulis dengan baik, dan  tulisannya sulit terbaca. Kemampuan menulis adalah kemampuan kreatifitas yang harus diasah terus menerus dengan rajin. Nah, Apa hubungannya dengan LKS ?. Di LKS materi dan solanya sudah ada, siswa tidak perlu lagi menulis ulang baik materinya maupun soalnya, yang siswa lakukan cukup mengisikan jawabannya yang kadang jawabannya tidak jarang cukup copy – paste dari rangkuman materi di halaman utama setiap bab materi di LKS. Hubungannya sangat jelas, siswa semakin jarang untu menulis. Kalaulah hal ini berlangsung di tingkatan SMP atau SMA mungkin tidak akan terlalu berpengaruh, tapi kalau sudah terjadi dari tingkatan SD (yang merupakan tingkat utama pembentukan karakter –termasuk tulisan-) jelas ini sesuatu yang negatif dalam pembentukan kualitas kemampuan siswa dalam menulis.

Sisi Positif dari LKS

Kalaulah diatas saya sedikit beropini tentang sisi lain dari buku LKS, maka rasanya tidak adil juga kalau saya tidak beropini sisi positifnya. Secara teoritis saya berasumsi kalau LKS bisa dibilang positif sepenuhnya, tapi kalau dari segi praktek dan kenyataan maka tidak jaranglah seperti yang saya tuliskan diatas.

Mungkin terlalu naif ya bagi saya sampai-sampai memberikan opini sisi negatif terhadap buku LKS yang didalamnya merupakan materi pendidikan, tapi yang perlu digaris bawahi adalah saya tidak sedang “mengorek” satu kekurangan, saya hanya berusaha untuk menyampaikan satu sisi realita yang mungkin jarang kita temukan.

Menurut hemat saya, buku LKS fungsinya cukup sebagai pelengkap pendamping pembelajaran, tidak perlu dijadikan sebagai ujukan pembelajaran utama. Kan memang demikian Om fungsinya ?!, tapi faktanya kadang justru dijadikan rujukan utama. Ada satu pola sederhana yang seingat saya dulu sering dilakukan oleh guru Matematika saya sewaktu SMA, yaitu Bapak Susanto (Sekarang sudah menjadi Kepala Sekolah di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Tangerang. Semoga beliau selalu sehat dan dalam lindungan Allah SWT). LKS benar-benar dijadikan sebagai pendamping pembelajaran siswa namun pemanfaatnnya benar-benar maksimal.

Setiap jam pelajaran berakhir, beliau selalu memberikan tugas LKS untuk dikerjakan dirumah. Tidak terlalu banyak sih, paling sekitar 10 soal. Karena memang sepenilaian saya 10 soal matematika memerlukan waktu yang cukup lama untuk pembahasannya, dan pengerjaanyapun biasanya identik dengan “beranak pinak”. Heheheheee….

Dipertemuan berikutnya selalu beliau sisihkan waktu beberapa menit dibagian awal pertemuan untuk membahas PR yang sudah ditugaskan dipertemuan sebelumnya, dan ini kadang menurut saya bisa dibilang sebagai “pemanasan” pelajaran matematika, sekaligus untuk mengingatkan materi yang dibahas dipertemuan sebelumnya sehingga bisa berantai untuk dilanjutkan ke materi selanjutnya. Sisi menarik lainnya kadang kalau 10 soal yang dikerjakan tersebut bisa kita kerjakan, tidak jarang kita merasa tertantang untuk mengerjakan soal-soal berikutnya. Hampir bisa dipastikan buku LKS tidak dimasukan kedalam materi pembahasan poko pembelajaran. Cukup efektif bukan ?, selain itu diakhir semester siswa tidak dikejar-kejar supaya buku LKS-nya harus sudah terisi, karena selama ini sudah “dicicil” disetiap penugasan PR.

Jadi, sisi postif dari LKS mungkin lebih cenderung sebagai media pendamping pembelajaran siswa (khususunya dirumah), sehingga pengajar secara tidak langsung memberikan jam tambahan belajar bagi siswa diluar jam pelajaran utama. LKS bisa dibilang sebagai penghubung (pengingat) dari materi yang dibahas di pertemuan sebelumnya dengan pertemuan yang dibahas saat ini (selanjutnya).

Penutup

Baik sobat, tulisan ini hanyalah sebuah bentuk opini dari pemikiran saya, yang isinya bisa juga benar dan bukan tidak mungkin juga keliru. Tapi, insya Allah opini yang saya tulis ini dilatari oleh pengalaman pribadi saya dan bukan tidak mungkin dialami juga oleh sobat-sobat. Terlepas dari benar dan kelirunya tulisan ini, saya hanya ingin memberikan sebuah penyampaian pendapat dan penilaian pribadi saya yang harapannya dapat memberikan bahan masukan positif untuk dunia pendidikan Indonesia, walaupun mungkin hanya “secuil”.

Atas segala kekurangan dan keberlebihannya saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, terimakasih banyak buat sobat-sobat yang sudah berkenan untuk membaca opini “ngawur” saya ini, dan saya sangat berharap sekali akan adanya komentar, saran dan kritik yang mudah-mudahan bisa saling membangun.