Dinginnya udara jam tiga dinihari bercengkrama mesra dengan sehelai kain sarung ditubuhku yang mungil, hubungan yang baik antara udara dinihari dan sarung tersebut benar-benar membuatku tak mau kehilangan keduanya. Bayangkan saja, ada udara dinihari tanpa sarung, aku kedinginan. Ada sarung tanpa hembusan dingin udara dinihari, tidurku serasa kurang nikmat. Luar biasa sekali Allah memanjakan diriku ini.

Meskipun pagi itu terasa nikmat seperti pagi-pagi sebelumnya, jujur aku tidak dapat menikmatinya secara utuh. Pikiranku berlari kesana-sini, terbang tanpa arah dan tujuan. Dua belas tahun sudah rumah sederhana yang menjadi surga semenjak aku dilahirkan nanti pagi akan ku tinggalkan untuk selamanya. Ya, rumahku  beserta isinya sudah ibu jual. Semenjak Ayah berpulang ke pangkuan Illahi, tidak ada lagi yang menjadi tulang punggung bagi aku dan ibu. Ayah meninggal akibat kecelakaan kerja ketika menjadi kuli bangunan di Jakarta, saat itu aku masih duduk di kelas lima SD.

Rumah dijual supaya kami punya modal untuk usaha kecil-kecilan demi menyambung hidup dan membangun rumah baru yang lebih sederhana, paling tidak masih layak untuk kami jadikan tempat tinggal. Satu tahun ibu berusaha menghidupiku sebisa mungkin, tidak ada keahlian khusus yang ibu miliki. Uang kompensasi atas meninggalnya bapakpun tidak lagi tersisa.

Yang semakin membuatku gelisah, aku dan ibu harus pindah ke daerah lain, itu artinya aku harus berpisah dengan teman-teman sepermainkaku dan mengucapkan *sayonara *kepada kampung halamanku.

Tidak terasa waktu subuh sudah tiba. “Ayo nak, bangun. Sudah subuh, cepat mandi terus langsung sholat subuh. Kita harus berangkat pagi-pagi sekali biar gak ketinggalan Matarmaja (kereta api jurusan Malang – Jakarta)”. Ibu membangunkanku, tangannya mengusap-ngusap rambutku dengan penuh kasih sayang.

Ibu tahu betul kalau aku paling tidak suka dibangunkan dengan suara keras dan mengagetkan. Kalau kata ibumah persis mirip sifat Ayah. Suara ibu membangunkanku jelas sekali terdengar, dan tanganya mengusap-ngusap rambutku jelas terasa. Karena memang dari jam dua malam mataku yang sipit sulit sekali terlelap.

Ibu membangunkanku, tapi bukan mulutku yang menyahut. Melainkan air mata yang menetes ke sarungku. Sesak nafas karena menahan tangisan membuatku tersedak, dan ibupun tak dapat menahan kesedihannya begitu tahu kalau aku menangis. Tak mau larut dalam kesedihan, akupun beranjak bangun dan bergegas menuju kamar mandi. “Ini bukan kesusahan yang pertama kalinya dalam hidupku, jadi tidak ada alasan bagiku untuk bersedih” Gumamku dalam hati berusaha menegarkan diri.

Jam setengah enam pagi, kami bersiap-siap menuju stasiun Prujakan Cirebon yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah. Berat rasanya untuk melangkahkan kaki, catatan memori hidup dua belas tahun harus aku bungkus dengan harapan mudah-mudahan kelak Allah membukakannya kembali untukku di tempat yang sama, walaupun mungkin kelak banyak yang tidak lagi sama.

“Bu, Cikampek itu kaya apa sih ?”. Tanyaku pada ibu saat kami diatas kereta api Matarmaja jurusan Malang –  Jakarta yang kami tumpangi dari stasiun Prujakan.

“Ibu tidak bisa menjelaskan detilnya seperti apa, yang jelas Insya Allah disana lebih banyak cara yang bisa kita perbuat untuk mencari makan, yang penting kamu tidak nakal dan cengeng ya”. Jawab ibu penuh senyuman.

Mendengar jawaban ibu, pikiranku coba mereka-reka seperti apa Cikampek. Bayangan-bayangan rekaan yang hinggap dipikiranku membuatku semakin tidak sabar untuk segera sampai di Cikampek.

Pagi yang carah dengan silaunya pancaran matahari pagi menyambut kami di stasiun Cikampek, sebuah daerah baru yang sama sekali asing bagiku. “Widihhh… halteunya (sebutan untuk stasiun waktu di kampung kami) gede banget !”. Decak kagumku waktu tiba distasiun Cikampek. Maklum, sebelumnya aku belum pernah melihat stasiun yang lebih besar dari stasiun Prujakan.

Rasa optimis dan penuh semangat, mulai tumbuh didadaku, ya paling tidak inilah harapan baru di tanah baru. Harapan untuk melanjutkan sekolahku ke jenjang SMP di tempat yang baru.

~oOo~

Dua tahun sudah kami tinggal di rumah baru yang kecil dan sederhana. Sehari-hari ibu berjualan pecel kangkung di sekitar terminal Cikampek, sedangkan aku menggembala kambing milik tetangga. Harapannya mudah-mudahan dari dua ekor kambing bisa beranak-pinak menjadi banyak, dan setiap anak-anak kambing yang lahir jumlahnya dibagi dua, separuh untuk pemilik kambing dan separuh untukku. Sederhana tapi optimis dan realistis.

Disini, ada satu harapan yang pupus dan harus aku hapus, yaitu sekolah. Keadaan tidak seperti yang direncanakan, melenceng dari titik sasaran. Ibu tidak sanggup untuk menyekolahkanku.

Setap pagi menjelang, aku dan ibu sudah disibukan oleh kesibukan masing-masing dalam menghadapi tanggungjawab hidup bersama-sama. Ibu pergi berjualan pecel kangkung dan aku menggembalakan kambing. Disinilah kadang aku merasa iri ketika melihat teman-teman seusiaku setiap pagi berangkat sekolah, dengan pakain rapih biru putih yang mangi dan bersih. Sementara aku, pagi-pagi sudah berurusan dengan kambing yang tidak jarang membuatku disebut “bau kambing”. Tapi apa mau dikata, inilah hidup. Keadaanya kadang tidak mengenal kompromi.

Meskipun ibu tidak menyekolahkankun, ibu tidak lantas membiarkanku dalam kebodohan, paling tidak ibu selalu mengajariku mengaji dan membimbingku habis-habisan soal moral. Ibu tidak mau ketidaksekolahanku menyebabkan aku menjadi manusia tidak bermoral.

Ibu sering menceritakan kepadaku tentang tokoh-tokoh sejarah dan peradaban bangsa yang luar biasa, meskipun mereka tidak sekolah. Seperti Prof. Dr. Hamka, Perdana Menteri Adam Malik dan lain sebagainya. Meskipun ibu tidak sanggup menyekolahkanku, tapi ibu juga tidak mau kalau aku menjadi anak yang tidak pertanyaan atas segala persoalan.

Karena saking inginnya melanjutkan sekolah, justru sekolahan menjadi satu tempat yang paling aku hindari. Kadang kala ku berharap dibumi ini tidak ada yang namanya sekolahan. Mendengar kata “sekolah” saja itu sudah membuat perasaanku tersiksa, dan yang terus membuatku bertahan adalah “minder”. Minder seolah-olah sudah menjadi kebangganku tersendiri, yang memberikan garis pembatas yang jelas antara aku seorang pengembala kambing yang badannya bau kambing dengan mereka-mereka yang berpendidikan, rapih dan wangi.

Satu hari, entah kenapa empat ekor kambing yang aku gembalakan menyusuri rerumputan dipinggir jalan hingga sampai persis dibelakang SMP Negeri .  Aku coba menarik tambang yang mengikat dileher kambing sekuat tenaga supaya berganti arah dan berpindah tempat, namun sama sekali kambing-kambing tersebut tidak menuruti kemauanku. Tenagaku tak mampu mengalahkan hasrat kambing-kambing itu untuk menikmati rumput yang sangat hijau dibelakang sekolahan. Untuk kali ini, aku benar-benar pasrah.

Anehnya, seorang lelaki tua yang ternyata penjaga sekolah di sekolahan tersebut membuka pintu pagar halaman belakang sekolah, seolah-olah memancing supaya kambingku masuk kedalam lingkungan halaman belakang sekolah tersebut.

“Ayo dek, masukin aja kambingnya kedalam. Biar *buncir, *sayang rumputnya bagus-bagus”. Ajakan penjaga sekolah dengan senyum ramah.

“Wah, Celaka !”. Celetukku dalam hati. Situsai yang benar-benar aku benci. Sialnya kambing-kambingku masuk kedalam lagi. Rasa malu, benci, kesal, semuanya campir aduk didalam jiwaku.

“I i i iyaaa paaa…”. Jawabku terbata-bata dengan senyuman terpaksa kepada bapak penjaga sekolah.

Khawatir kambingku macam-macam, dengan wajah tertutup taplak mejak yang setiap hari aku bawa sebagai pelindung kepala dari panasnya matahari, aku masuk ke halaman belakang sekolah. Duduk persis dibawah jendela, ku sandarkan badanku didinding sekolah supaya tidak nampak dipandangan mata anak-anak sekolah. Huh, hatiku benar-benar tidak karuan.

Pikiranku sama sekali tidak terfokus pada kambing-kambing gembalaanku. Perihal “sekolahan”, satu hal yang kini aku benci terus mempengaruhi pikiranku. Ingin rasanya aku pergi dari tempat dimana saat ini kambing dan diriku berbeda. “Ya Allah, aku benci tempat ini”, kalimat yang terus berulang didalam pikirian.

Sementara itu, terdengar dari dalam kelas seorang ibu guru sedang membacakan satu kisah sejarah. Suaranya yang lantang lambat laun mengalihkan pikiranku. Kisah yang diceritakannya begitu mengalir dengan sederhana dan mudah aku cerna. Kesimpulannya adalah “menarik”. Beban pikiran mengenai paradigma sekolahan mulai bergeser dari kepalaku. Sesekali aku mengintip dari sisi jendela sekolah.

Peristiwa “kambing masuk sekolah” ternyata membuatku kembali jatuh cinta dengan sekolah. Keesokan harinya aku sedikit lebih bersemangat untuk mengembalakan kambing dibelakang sekolah. Sepertinya aku mulai tertarik dengan kisah sejarah yang disampaikan ibu guru kemarin.

Hari berikutnya ternyata bukan lagi pelajaran sejarah yang disampaikan oleh ibu guru, gurunyapun ganti-ganti, dengan menyampaikan materi-materi pelajaran yang sama sekali belum pernah aku dengar sewaktu SD. Aku merasa aneh dengan apa yang disampaikan oleh guru-guru di SMP tersebut, tapi dari balik tembok sekolah itu aku semakin dibuat penasaran.

Tengah hari semua kegiatan di sekolah tersebut sudah usai. Melihat suasana sepi, aku mencari celah masuk ke dalam ruangan kelas dimana aku sering menguping. “Yessss.. !!!”, bagitu ku temukan satu jendela yang tidak terkunci, segera ku loncat masuk kedalam ruangan kelas.

Didalam ruangan kelas, ku dapati satu lemari yang tidak terkunci. Begitu ku buka, banyak sekali buku-buku yang katanya “buku pelajaran” berjejer rapih. Kuambil satu persatu-persatu. “Ini dia yang aku cari !”. Ku baca isi-isinya secara ringkas, hampir semua buku-bukunya menarik. Buku-buku yang sebelumnya sama sekali belum pernah ku lihat dan ku baca.

Disaat yang bersamaan, aku sedang mengembala, jadi tidak mungkin berlama-lama di dalam kelas. Pikiranku berkata ; “Apa ku bawa saja ya buku-buku ini ?, terus ku baca sepuasnya dirumah”. Tanpa berpikir panjang lagi, ku ambil tiga buah buku yang berbeda, tadinya mau mengambil banyak, tapi aku takut ketahuan.

Buku-buku tersebut aku baca sepuasnya dirumah. “Dapet buku dari mana nak ?”. Tanya ibu melihatku asyik membaca.

“Dikasih bu, sama ibu guru disekolahan deket sawah waktu *ngangon *tadi”. Terpaksa aku berbohong, karena sudah pasti ibu tidak suka kalau buku-buku itu hasil curian.

“Owhhh… Alhamdulillah, jangan lupa bersyukur ya masih ada yang peduli sama kita”

“Iya bu…”. Jawabku sambil tersenyum. Sementara hatiku, menangis penuh harap dan ampunan. Untuk pertamakalinya aku berbohong pada ibu.

Hari-hari berikutnya hingga satu bulan lebih hal yang sama aku lakukan, satu hari tiga buku aku curi dan ku bawa pulang dari sekolah tersebut. Hingga akhirnya terjadilah satu kehebohan  yang tidak aku sadari tentang hilangnya buku-buku di ruang kelas 2 SMP Negeri. Suatu hari, nampaknya keadaan tidak berpihak kepadaku. Aku tertangkap basah sedang mencuri buku-buku tersebut. “Matilah aku… !!!”. Suara hatiku yang penuh kepanikan. Ternyata, aku sudah diintai.

Keringat dingin bercucuran dari tubuhku, malu dan takut menekuk kepalaku tertunduk pasrah. “Nah…., ternyata ini biang keroknya”. Makian pertama datang dari seorang guru yang menjewer kupingku dan menarikku ke luar kelas. Ya Allah, aku benar-benar malu dan takut. Apa jadinya jika ibu sampai tahu kejadian saat ini.

Kata-kata permintaan ampun terus terlontar dari mulutku. Disaat yang bersamaan, makian dan hujatan datang dari orang-orang yang mengelilingku.

“Udaaaaaah, laporin aja ke Polisi”. Ujar salah seorang guru lagi. Entah hanya menakuti atau memang betulan mau melaporkanku ke polisi, yang jelas seluruh badanku bergetar.

“Cabutin aja kukunya kaya di film PKI !!”. Suara seorang siswa. Kupingku serasa benar-benar terbakar. Terlebih banyak anak-anak yang berteriakan “Gebukin !, Telanjangin !, Penjara !”.

Huh, Ya Allah… aku takuuut.

Akupun diinterogasi di ruangan kantor sekolah layaknya seorang pelaku kriminal. Kali ini tentunya dengan cara-cara yang lebih halus. Setelah diberi segelas air minum, berbagai pertanyaanpun terlontar kepadaku. Sampai akhirnya aku pasrah dan berterus terang kalau aku memang telah mencuri buku-buku tersebut.

“Iya bu, saya akui kalau saya sudah mencuri buku-buku di kelas 2. Saya mintaa maaf. Saya tidak menjualnya seperti yang dituduhkan oleh bapak – ibu dan anak-anak lainnya, apalagi membakarnya. Buku-buku tersebut semuanya ada dirumah, dan semuanya saya baca. Kalau ibu tidak percaya, ibu boleh melihatnya langsung”. Ungkapan kepasrahanku, padahal aku takut apa yang akan terjadi jika ibu dirumah tahu kalau aku telah membohongi ibu, betapa sakitnya hati ibuku jika tahu kalau aku sudah mencuri, sementara tiap hari aku diajari tentang moral.

Tidak berapa lama, tiga orang guru membawaku pulang ke rumah untuk membuktikan apa yang ku katakan. Sementara kambing-kambingku ditinggalkan begitu saja dibelakang sekolah.

Sesampainya dirumah, ibu terlihat sedikit kaget begitu melihatku diantar pulang oleh tiga orang berpakaian dinas, sedangkan aku tidak pulang dengan kambing-kambingku sebagaiman biasanya.

“Bapak – ibu, silahkan masuk !. Mohon maaf banget rumahnya jelek dan berantakan”. Ibu mengajak bapak dan ibu guru masuk kedalam sambil bergegas menggelarkan tikar diatas tanah yang menjadi lantai rumah kami.

Namun, begitu masuk kedalam rumah kami, tiga orang guru tersebut terbengong. Nampak diruangan tengah rumah kami banyak anak-anak seusiaku sedang asyik membaca buku. Anak-anak tersebut adalah anak-anak yang biasa mengamen dan mengemis diterminal, tempat dimana biasa ibu berjualan. Jadi, begitu ibu tahu kalau setiap harinya aku membawa buku ke rumah, ibu mengajak anak-anak tersebut untuk belajar dirumahku agar hari-hari mereka tidak terlalu suram. Ibu tidak mau, kalau buku-buku tersebut hanya bermanfaat untuk diriku sendiri. Ibu ingin buku-buku yang ku bawa pulang tersebut lusuh dan hancur karena banyak diserap instisarinya oleh banyak kepala.

“Maaf, bapak dan ibu ini dari mana y a?”. Sapa ibu sambil membawakan tiga gelas air putih.

Ibu guru (yang sepertinya kepala sekolahnya), nampaknya tidak mendengar sapaan ibu. Matanya masih tertuju pada sekumpulan anak-anak di ruangan tengah yang sedang asyik membaca buku. Entah apa yang ada didalam pikiran ibu guru tersebut aku tidak tahu. Sampai akhirnya salah satu bapak guru membisikinya.

“Owhh hohooo… maaf bu, saya Asih dari SMP Negeri 3. Kebetulan saya kepala sekolahnya, dan ini Pak Rusli sama Pak Hamid yang juga guru disana”. Dari situlah sayapun jadi tahu nama-nama ibu dan bapak guru tersebut. Tapi hati saya masih berdebar-debar. Saya berusaha menyiapkan diri sebisa mungkin untuk menghadapi amarah ibu atas kelakuan dan kebohongan saya”.

“Wahhhh… kebetulan sekali ibu… bapa… Saya berterimakasih sekali bapak ibu sudah mau berkunjung kesini, dan saya juga berterimakasih sekali bapak dan ibu sudah banyak  membantu Yusuf. Setiap harinya Yusuf selalu diberi tiga buah buku sampe-sampe saya sendiri bingung mau menaruhnya dimana. Alhamdulillah, buku-buku yang diberikan bisa dibaca rame-rame sama anak-anak ini yang sehari-harinya nongkrong di terminal”. Sahut ibu merespon perkenalan ibu Asih, sambil menunjukan anak-anak yang sedang membaca buku.

Jujur, sampai disini perasaanku semakin berkecamuk. Ya Allah, kenapa sih obrolan mereka langsung membahas buku ?. Terlalu cepat, membuatku semakin panik ya Allah.

Sejenak tiba-tiba obrolan ibu dengan guru-guru dari SMP Negeri terhenti sejenak. Bu Asih, Pak Rusli, dan Pak Hamid bergantian memandangku dan anak-anak di ruangan tengah. Sepertinya mereka tahu kalau aku memang telah berbohong kepada ibu. Itu artinya kesalahanku menjadi dobel, mencuri dan berbohong.

“Silahkan diminum ibu.. bapak… Mohon maaf, cuma air putih adanya”. Suara ibu penuh senyuman memecah kekakuan.

“Iya… iyaa.. bu, wah… ini juga udah cukup ko, mohon maaf nih kami sudah ngerepotin”. Sahut ibu Asih.

Ibu Asihpun melanjutkan pembicaraannya :

“Jadi begini bu, maksud kedatangan kami kemari. Kami bersama guru-guru yang lainnya disekolah sering mendapatkan kabar kalau disini, dirumah ibu dan Yusuf banyak anak-anak yang rajin membaca.”

Keringat dingin semakin membahasi bajuku, mukaku memerah, aku tundukan kepala penuh ketakutan. Usai sudah, semuanya akan terbongkar.

“Mendengar kabar tersebut, tentunya kami merasa terpanggil untuk datang langsung kemari. Ternyata kabar yang kami dengar memang benar adanya. Kami sangat berterimakasih sekali sama ibu dan juga Yusuf yang sudah mengajarkan kami akan makna *mendidik tanpa tanda jasa. *Dan untuk itu, kami berencana memberikan kesempatan kepada Yusuf untuk bersekolah di SMP. Semua biaya dan perlengkapannya digratiskan. Selain itu, kami juga akan mengusulkan supaya semua anak-anak disini bisa mendapatkan beasiswa atau paling tidak disini bisa dijadikan sebagai tempat Kelompok Belajar Masyarakat dengan ditambah fasilitas dan media lainnya”.

Mendengar perkataan Ibu Asih, sontak saja membuat saya dan ibu kaget. Tidak terasa air mata menetes dari kelopak mata kami. Melihat kami berdua menangis penuh haru, nampak ibu Asihpun menyeka air matanya dengan sehelai sapu tangan. Sementara Pak Rusli yang berada persis disamping kanan saya mengelus-ngelus punggung saya.

Apa yang terjadi jauh dari apa yang diperkirakan, diluar perkiraan. Bu Asih, Pak Rusli, dan Pak Hamid sama sekali tidak membicarakan tentang kesalahanku. Ya Allah, mohon ampuni aku yang telah banyak membenci hari-hari-Mu. Hari yang telah mengantarkanku pada satu titik kesempatan-Mu.

oO|Oo

Disklaimer :

Sesudahnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila didalam cerpen tidak bermutu yang saya karang ini ditemukan banyak kesalahan. Baik dari segi penulisan maupun penceritaannya. Mohon maaf  juga atas kesamaan nama tokoh dan tempat yang saya tuliskan. Mudah-mudaha didalamnya terkandung nilai-nilai yang dapat memberikan manfaat. Amin…