Sepasang muda-mudi diselimuti kasmaran yang luar biasa, rasa cinta diantara keduanya bergejolak bukan main dahsyatnya. Rasamanis dan pahit rindu diselang waktu saat tak bertemu begitu menggebu-gebu didalam kalbu. Saling berkhayal dan membayangkan diantara keduanya tidak jarang melampaui batas kewajaran imajinasi.

Janji sehidup semati terikrarkan, seolah-olah mereka lupa bahwa hidup dan mati adalah kuasanya Tuhan. Tak ada hal apapun yang jauh lebih penting dari persoalan hubungan ikatan asmara diantara keduanya. Tak ada yang jauh lebih istimewa dibandingkan sosok yang dicintainya dan memenuhi seluruh isi ruang hati. Jiwa dan raganya merasa bahwa saat inilah puncak kebahagiaan dalam hidupnya, tak ada yang lebih mebahagiaan dari saat-saat berdua dengan sang pujaan hati…

Hari-hari dilewati dengan kekasih hati tanpa ada ikatan yang mensucikan (ah… tak peduli). “Apa kata orang” bukan lagi bahasa persoalan, hanya ada satu kalimat yang melindungi rasa bahagianya saat ini, yaitu “urus saja diri masing-masing, yang penting tidak merugikan”.

Dengan penuh rasa bangga dan percaya diri, hati dan lisan dengan penuh kemantapan berkata : “Hidup dan matiku hanya untukmu cinta, cinta yang telah membuatku bahagia”. Hatinya benar-benar telah lupa bahwa kalimatnya tersebut telah mencoret atas sumpah dan janjinya kepada yang Maha Kuasa ; *Sholatku, Ibadahku, Hidup dan Matiku semuanya untuk Allah SWT. *Cinta yang agung telah meruntuhkan eksistensi yang Maha Agung didalam dirinya. Cinta yang telah buta benar-benar telah menguasai dirinya ketimbang yang menganugerahkan cinta itu sendiri.

Sampai pada waktunya, diantara keduanya benar-benar dibuat mabuk oleh perasaannya, tak peduli apapun dan siapapun, kecuali hubungan asmara dan orang yang dicintainya. Hingga akhirnya larutlah keduanya didalam kubangan cinta penuh noda, namun suci menurut kehendak hatinya. Padahal sejatinya kesucian itu sendiri tidak bisa dibangun diatas logika dan akal manusia. Ibarat Kerbau yang begitu merasa nikmat saat berkubang dilumpur, maka keduanyapun begitu bahagia serasa tanpa beban saat berkubang di lembah dosa. Motif cinta yang dibangun diatas perasaan kasih dan sayangpun tanpa disadari telah bergeser pada pelampiasan syahwat (nafsu).

Begitu pada puncaknya, tertawalah syeitan dengan terbahak-bahak penuh gembira atas kemenangannya mengalahkan manusia yang saat diciptakan derajatnya lebih mulia dari syeitan. Pasangan sejoli tersebut mulailah tersadar (terutama si perempuan) kalau arah hati telah jauh melenceng dari *start *saat awal, untuk kembali lagi sudah tidak mungkin, sudah sangat jauh berjalan dan tidak ada babak pengulangan.

Sesal dihati terus menggelayuti, kehormatan diri kini telah tiada lagi, sesuatu yang teramat suci telah diberikan kepada sosok pujaan hati. Kini hanya ada dua harapan yang tersisa ; pertama, mudah-mudahan ini tak terulangi lagi dan kedua, mudah-mudahan si lelaki bertanggungjawab.

Sampai ditik penyesalan yang terus mengalir ini ternyata sang syeitan masih belum puas, ia membisikan pada “hamba cinta” tersebut ; *“penyesalan itu tiada gunanya, semuanya sudah terlanjur, itu adalah sesuatu yang biasa dan kau akan menjadi trbiasa, bukankah kau begitu menikmatinya ?”. *Lagi-lagi syeitan menjadi pemenang, ternyata kubangan hitam yang dilalui tidak membuatnya “menyesal secara permanen”. Sekali, dua kali, tiga kali dan berketerusan hubungan terlarang itu dilakukannya. Dari dosa 40 tahun kini bertambah menjadi 80, 120, 160 dan terus membengkak.

Ya Allah ya robi, entah dengan cara apa dosa-dosa tersebut bisa ditebus ?, 40 tahun (bahkan berlipat) setiap amal ibadahnya tidak akan diterima, tanpa dosa 40 tahun saja ibadah kami belum tentu diterima, ini sudah dipastikan tidak akan diterima. Sebuah kesia-siaan hidup yang tidak memiliki arti dan nilai dihadapan Sang Maha Penilai. Begitu nyata siksa neraka dihadapan penghujung usia.

Keadaan mulai memburuk ketika hubungan terlarang tersebut membuahkan konsukensi dari sebuah perbuatan, sang perempuan berbadan dua. Sebuah keadaan yang sangat tidak membahagiakan bagi siapapun, saudara, keluarga, tetangga, handai taulan, dan bahkan untuk diri sendiri dan si pujaan hati. Tidak ada lagi keagungan cinta, tidak ada lagi istilah cinta yang suci. Awan kelabu sudah menggelayut di sepanjang jalan kehidupan. Dan situasipun semakin buruk, saat orang yang diharapkan tanggungjawabnya pergi dengan begitu saja serasa bahwa apa yang ditinggalkannya bukanlah sesuatu yang berharga lagi.

Masa-masa yang telah dilewati memang begitu manis, dan bahkan sangat manis. Namun saat kini dipuncak penyesalan, rasa yang begitu manis tersebut ternyata begitu singkat, hanya sekejap mata. Rasa manis yang melebih madu kini seratus delapan puluh derajat berbalik menjadi pahit melebihi empedu, rasa nikmat yang begitu memikat kini berubah menjadi sakit yang terus menggigit. Sepanjang umur yang tersisa tersandang gelar manusia hina, disaat tak ada lagi umur yang tersisa balasan yang Maha Kuasa berderet didepan mata, begitu panjang… begitu lama…. Subhanallah…!!!

Mungkin pelampiasan nafsu syahwat sebentar berakibat kesedihan yang lama”. (HR. Al-Baihaqi)

Dosa……., Sesuatu yang menikmatkan di waktu yang singkat namun menyengsarakan diwaktu yang panjang.