Takut adalah kata yang menjadi identik dengan ujian. Apapun bentuk ujiannya. Kita seperti berada sekian mili dengan bahaya. Terpeleset sedikit, wassalam!

Ujian sering dikaitkan dengan hal-hal yang tidak mengenakan, tidak menyenangkan, musibah, bencana, dan kerugian.

Seorang pejabat baru merasa diuji ketika ia dipidana karena kasus korupsi. Padahal jabatannya selama ini juga merupakan ujian (bahkan ia pilih sendiri ujian itu).

Orang yang kaya baru merasa diuji ketika ia terlilit utang hingga kembali jatuh miskin.

Orang yang sehat baru merasa diuji ketika ia terjatuh sakit.

Orang yang merasa lapang baru merasa diuji ketika ia sempit.

Kita lupa, bahwa setiap detiknya hidup kita adalah ujian. Setiap nikmat napas yang kita hirup dan lepaskan adalah ujian. Mata yang berkedip tanpa disadari adalah ujian. Sepanjang hidup kita adalah ujian!

Pujian dan makian sama-sama ujian, tinggal kembali bagaimana cara kita menyikapinya. Pujian bisa jadi tidak bahaya, tapi bisa menjadi bencana ketika kita termakan oleh pujian. Begitupun dengan makian.

Kadang saya berpikir, bahwa orang yang memuji kita, sesungguhnya ia orang yang paling tidak tahu tentang diri kita.

Ketika kita terlihat baik, Allah sedang menyembunyikan keburukan kita.

Ketika kita terlihat benar, Allah sedang menyembunyikan kesalahan kita.

Ketika kita terlihat bersih, Allah sedang menyembunyikan kekotoran kita.

Ketika kita terlihat jujur, Allah sedang menyembunyikan kedustaan kita.

Lalu bagaimana dengan yang memaki kita? bisa jadi apa yang dikatakannya benar. Kita akan berpikir demikian kalau punya semangat untuk terus berbenah. Toh, tidak ada ruginya bagi siapapun kalau kita menjadi lebih baik. Termasuk untuk yang memaki kita.

Disinilah perlunya kita melihat kembali perspektif terhadap ujian dari sudut yang berimbang. Baik dari sisi yang membahagiakan maupun menyedihkan agar kita tidak lengah dari yang namanya ujian, karena yang paling membahayakan dari ujian adalah kita lengah terhadapnya.

Hampir setiap dari kita pernah tergelincir dari ujian karena lengah. Apalagi ujian itu tidak akan ada hentinya sampai malaikat Izrail menunaikan tugasnya terhadap kita.

Satu ujian selesai, kita bertemu lagi dengan ujian selanjutnya. Satu ujian belum selesaipun kita akan dirapel oleh ujian berikutnya.

Semoga ketika menjadi kaya bisa menjadi lebih derma. Ketika semakin berilmu menjadi lebih tawadhu. Ketika semakin diangkat derajat menjadi bersikap lebih terhormat.

Kalaupun sekarang berada pada posisi yang tidak kita kehendaki. Semoga kita dijauhkan dari sifat mengeluh apalagi menghujat Allah. Selain mengeluh tidak memberi solusi dan mengikis aksi, mengeluh juga membuat sudut pandang kita terhadap ujian makin tidak berimbang. Kita bisa lupa kalau susah dan senang adalah dua sisi dari mata uang yang bernama ujian.

Seberapa pandai kita mengelola mata uang ujian, itulah yang akan membantu kita lulus melewatinya.