Beberapa teman sering menertawakan saya kalau mendengar *handphone *saya berbunyi, entah itu bunyi notifikasi SMS maupun panggilan masuk. Mereka tertawa karena nada pemberitahuan untuk SMS dan panggilan masuk di *handphone *saya berupa lagu. Bukan cuma potongan *reff *nya, melainkan lagu utuh, dari intro sampai selesai.

Cara itu bukan semata-mata karena saya menyukai lagunya atau tidak menyadari bahwa itu merupakan kebiasaan yang memalukan. Saya sadar, kadang orang beranggapan *norak *sama saya. Menjadikan satu lagu penuh sebagai nada dering SMS dan panggilan masuk saya lakukan karena saya punya kebiasaan buruk : pelupa dan (kadang-kadang tapi sering) malas membuka dan membaca SMS.

Sebelumnya saya punya kebiasaan buruk sering menunda-nunda waktu untuk membacanya kalau ada SMS masuk. Yahh, seperti mengabaikan begitu saja, apalagi kalau lagi asyik nonton berita. Konyolnya, kadang saya baru ingat membacanya beberapa jam kemudian atau setelah ada SMS berikutnya masuk.

Dari situlah saya kepikiran ide untuk mengganti nada dering dengan satu lagu penuh. *Alhasil, *semenjak melakukan cara itu saya tidak pernah menunda untuk membacanya, karena tak tahan (apalagi saat ditempat keramaian) dengan berisiknya satu lagu sebagai nada dering yang terus berbunyi sampai 4 menit lamanya.

Cara tersebut sudah saya lakukan 1 tahun lamanya. Tapi, baru-baru inilah saya menyadari, (salah satunya setelah suka ngobrol* bareng *sama Kang Chandra (semoga selalu dalam kebaikan) dan mungkin ini hikmah lainnya juga dari 1 lagu yang menjadi nada dering), kalau ternyata semangat itu -kadang- memang benar-benar perlu untuk dipaksa. Kalau dipaksa oleh orang lain terasa kurang menyenangkan (walaupun sebetulnya untuk kebaikan), mungkin kita harus menyiasati bagaimana caranya supaya diri kita bisa memaksa diri sendiri.

Sama hal-nya mungkin dengan menggunakan jam alarm sebagai *“woro-woro” *supaya kita beranjak dari tempat tidur. Kebiasaan buruknya adalah setelah alarm bunyi, kita matikan, dan kita tidur lagi. *Hemmhhh… *sepertinya kita perlu menempatkan alarmnya diatas lemari supaya benar-benar memaksa kita harus bangun untuk mematikannya saat alarm berbunyi. Atau perlu menggunakan lebih dari 1 alarm mungkin ? (keterlaluan !).

*Ngomong-ngomong *memaksa diri untuk bersemangat, saya juga jadi teringat kembali dengan nasehat guru ngaji dimasa kecil (semoga selalu dalam ridho Allah SWT). Guru ngaji saya (kami) sering mengingatkan saya dan teman-teman, kalau sesuatunya memang harus dilakukan dengan ikhlas. Tapi, untuk melakukan sesuatu yang ikhlas itu kadang harus dipaksa, terutama saat semangat kita sedang turun. Karena, semangat itu kadang seperti keimanan yang sering pluktuatif naik-turun. Diperlukanlah upaya memaksa diri supaya tren positif semangat tetap terjaga, meskipun mungkin grafiknya tidak menaik signifikan.

Seterpaksa-terpaksanya kebaikan, biasanya kita akan bisa menikmatinya dengan menyenangkan saat menjalankannya, walaupun dengan semangat yang harus dipacu dan ‘dipanaskan’ sedemikian rupa. *So, *mari kita paksa diri kita sendiri sebisa mungkin untuk bisa selalu bersemangat. Kalau ada yang punya tips memaksa diri untuk bersemangat, atau pengalaman pribadinya dalam memaksa semangat, mungkin bisa di *share *disini. 🙂 

sumber gambar : wakeup-world.com