Bukan ahli tata kota maupun tata ruang, tapi wajar rasanya jika sebagai warga negara saya mempunyai angan-angan tentang terciptanya suatu ekosistem diperkotaan yang tidak hanya maju secara konstruksi dan teknologi, tapi juga melompat jauh ke barisan terdepan sebagai kota yang ramah lingkungan.

**Ecopolis, **sebuah istilah yang masih kalah tenar oleh Metropolis atau bahkan Megapolis, tapi *Ecopolis *menurut saya adalah sebuah jawaban atas tata kota yang memperhatikan nilai-nilai keberlangsungan, kemajuan teknologi, kesehatan lingkungan, kebersihan alam, dan sirkulasi udara sebagai dasar kota layak hidup.

Kota-kota di Indonesia yang saat ini sedang gencar meningkatkan pembangunan di wilayahnya, tampaknya harus bergeser dari gagasan untuk menjadikannya sebagai kota metropolis menjadi kota ecoplis.

Kita tidak hidup hanya untuk 1 atau 2 periode kepemimpinan seorang kepala daerah. Maka dari itu diperlukan sebuah cetak biru tentang konsep tata kota yang terdepan untuk layak huni bagi masyarakatnya, dan layak kunjung bagi para turis.

Jakarta misalnya, sebagai ibu kota negara saya tidak begitu yakin kalau Jakarta mempunya konsep tata ruang yang permanen dengan memperhatikan faktor lingkungan yang dikaitan dengan fasilitas kebutuhan manusianya untuk jangka waktu yang panjang.

Ini terbukti, 50 tahun yang lalu kondisi Jakarta tidak seperti sekarang. Tapi, entah konsep pembangunan seperti apa yang diterapkan di Jakarta yang menjadikan ibu kota kita ini begitu sulit untuk dibenahi. Tidak mungkin rasanya kalau Jakarta punya cetak biru tata kota yang permanen menyisakan pembangunan *monorail *yang terkatung-katung. Bukannya hutan pepohonan yang banyak, tapi malah hutan beton d isepadan jalan dengan fungsi yang tidak jelas.

*Ecopolis *adalah jawaban masa depan untuk konsep tata ruang kota yang permanen. Setiap kepala daerah baru tidak perlu mengkonsep lagi. Ia hanya tinggal menjalankan. Inipun menyederhanakan pandangan publik dalam menilai keberhasilan sang kepala daerah membangun wlayahnya, yaitu “seberapa cepat dalam menggarapnya ?”

Kebanyakan dari kota-kota di Indonesia dalam mebangun adalah “building after a request”, bukan “building as needed later”.

Bisa jadi dalam hal ini imajinasi tata kota kita kalah oleh negara tetangga semisal Singapura atau Malaysia ?.

Malaysia lebih dulu membangun *Mass Rapid Transit *atau *Mass Rapid Transportation, *yang keduanya sama-sama disingkat MRT. Dibanding dengan kita di Indonesia.

Ini bukan hanya karena faktor permintaan sarana transportasi yang memadai di Malaysia lebih besar di banding di Indonesia. Tapi bagaimana sebuah pembangunan harus juga berdasarkan keyakinan bahwa ; ini kelak akan sangat dibutuhkan !.

Jadi, untuk kota-kota lainnya di Indonesia, jangan lupa ya dibuatkan sebuah cetak biru khusus untuk pembangunan kotanya dalam jangka panjang (tentunya harus melibatkan para ahli), dengan konsep ecopolis.

![Plaza Ecopolis](https://blog.rosid.net/content/images/2012/10/Plaza-Ecoplosi.jpg "Plaza Ecopolis")
Plaza Ecopolis, sebuah sekolah pembibitan (di Madrid, Spanyol) yang bertujuan untuk mendidik masyarakat tentang isu-isu yang terkait dengan energi, juga menyediakan ruang yang ramah lingkungan untuk pertemuan sosial. (sumber : gizfactory.com)
### **Kenapa Harus *Ecopolis?***

Konsep *Ecopolis *didasarkan kepada :

  1. Kerusakan lingkungan yang semakin parah.
  2. Pemanasan global yang semakin meningkat.
  3. Polusi semakin pekat dan kualitas oksigen yang semakin rendah.
  4. Munculnya berbagai penyakit aneh dan baru yang wabahnya begitu mudah dan cepat.
  5. Material pembangunan yang mengabaikan dampak.
  6. Kebutuhan energi yang tinggi dan jarangnya sumber terbarukan.
  7. Pembangunan di satu wilayah yang tidak memperhatikan dampak kerugian di wilayah lainnya.
  8. Minimnya area hijau diperkotaan
  9. Pola hidup masyarakat yang tidak bersahabat dengan alam.

Dari situlah kita bisa melihat bahwa *ecopolis *merupakan sebuah tata kota yang dibangun dengan memperhatikan betul faktor lingkungan tanpa mengabaikan fasilitas umum yang modern seiring dengan dinamisnya mobilitas masyarakat.

Contoh sederhananya adalah ; kota identik dengan kebutuhan energi yang tinggi. Dalam konsep kota *ecopolis *ini harus tersolusikan bagaimana caranya supaya energi yang dibutuhkan tersebut tetap tercukupi tapi dari sumber-sumber yang bersahabat dengan alam.

Tingginya permintaan pendingin ruangan di daerah perkotaan didorong oleh panasnya suhu yang disebabkan ekosistem tidak seimbang.  Jadi bisa digambarkan :

*Ekosistem tidak seimbang -> Suhu meningkat -> Menambah pendingin ruangan -> Pemborosan energy – > Sumber energy sulit terbarukan -> Eksosistem semakin tidak seimbang *

Rotasinya bisa dibilang tetap, tapi semakin parah dan semakin rusak.

Pada poin Pembangunan di satu wilayah yang tidak memperhatikan dampak kerugian di wilayah lain misalnya, kita bisa melihat bagaiaman *devepoler *perumahan membangun sebuah kawasan hunian dengan meninggikan tanahnya setinggi mungkin. Niatannya bagus, agar para penghuninya nanti terhindar dari banjir. Tapi, secara tidak langsung cara tersebut bisa merugikan masyarakat di luar komplek yang kontur tanahnya menjadi lebih rendah.

Sampah Tidak Dibuang sembarangan, Dikubur, Maupun Dibakar.

Dari sejak kecil kita sudah diajari *“jangan membuang sampah sembarangan, buanglah sampah pada tempatnya”. *Itu sudah jadul !. Sebuah *ecopolis *harus mengajarkan masyarakatnya bukan hanya “*buanglah sampah pada tempatnya”, *tapi juga “buanglah sampah pada tempatnya sesuai dengan kategorinya”.

Mungkin kita pernah mendengar konsep 3 M dalam menanggulangi demam berdarah. Dimana salah satu M-nya adalah “Mengubur” sampah, terutama wadah-wadah bekas (seperti kaleng sarden) agar tidak ditempati nyamuk.

Untuk penanggulangan kasus yang dimaksud mungkin benar, tapi bagi saya kurang efektif karena ada faktor lain yang terabaikan, yaitu tidak menyelesaikan masalah lingkungan. Oleh karena itu diperlukan sebuah konsep solutif yang tidak hanya untuk satu kasus, tapi menyeluruh.

Bayangkan, seandainya plastik-plastik bekaspun dikubur, jelas ia tidak akan terurai dalam puluhan atau bahkan ratusan tahun.

Sepintas membakar sampahpun merupakan salah satu cara yang terbaik dalam menangani masalah sampah. Tapi nyatanya ini hanya akan memperkaya kekotoran lingkungan.

Pusat bank sampah daerah adalah salah satu solusinya. Untuk yang satu ini nanti akan saya bahas dalam postingan yang berbeda.

Imajinasi Hidup di Kota Ecopolis

Sekarang saya ingin mengajak siapapun yang membaca tulisan ini untuk berkhayal bersama.

Kita hidup disebuah kota yang arsitektur bangunannya tidak hanya indah, tetapi juga memperhatikan segi fungsi. Gedung-gedung pencakar langit mempunyai panel surya yang ditempatkan se-artistic mungkin.

Jalanan memiliki 5 jalur umum, yaitu : jalur angkutan umum, jalur angkutan pribadi yang minim polusi (atau bahkan bebas polusi), jalur sepeda, jalur pejalan kaki yang ukurannya cukup 4 – 8 meter, dan jalur difabel.

Sepanjang pinggir dan sepadan jalan dipenuhi oleh rindang pepohonan. Ada banyak taman kota yang tidak hanya dipenuhi bunga-bunga cantik, tapi juga pohon yang rindang dan teduh. Taman kota yang disempurnakan dengan akses Wi-fi gratis.

Penerangan jalan terdapat di semua ruas, dengan matahari yang tidak akan habis sinarnya menjadi sumber energinya.

Dimanapun kita ngemil tidak akan kebingungan kemana sampahnya akan dibuang. Kita juga dididik untuk memilah mana sampah organik dan nonorganik dengan adanya dua tempat sampah.

Setiap bangun tidur disambut oleh hangatnya matahari tapi berbalut dengan sejuknya udara pagi. Olahraga pagi sendiri benar-benar menyehatkan karena kaya akan oksigen hasil dari fotosintesis pepohonan.

Sungai-sungai mengalirkan airnya dengan bersih. Perahu-perahu melintas diatasnya mengantarkan kita dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa harus menutup hidung.

Dimanapun kita beribadah, selalu ada tempat yang tenteram dan semakin menenteramkan.

Hemhhh… menyenangkan dan menenteramkan sekali kota ini !.