Beberapa teman sering memberi anggapan kalau saya itu orang yang kadang rumit dan dalam beberapa urusan harus mendetail. Hemh… benarkah demikian ?.

Soal kepribadian, nyatanya memang orang lain yang lebih berhak memberikan penilaian terhadap diri kita.

Beberapa orang mungkin tidak suka dengan rumit dan detailnya saya, tapi bagi saya itu bukan sebuah masalah, baik itu cara orang lain dalam menilai saya maupun cara berpikir saya yang harus melihat sesuatu secara menyeluruh, sebab-akibat, dan gambaran hasil akhir dengan segala kemungkinannya.

Kalaupun itu sebuah kekurangan dalam diri saya, bukan berarti saya membanggakan kekurangan yang ada. Nyatanya, kerumitan (atau lebih pantasnya disebut keribetan) cara berpikir saya malah sering berbuah fakta positif buat hari-hari yang saya lewati.

![Membuat Rencana (ilsutrasi dok. pribadi)](https://blog.rosid.net/content/images/2012/11/Membuat-Rencana.jpg "Membuat Rencana (ilsutrasi dok. pribadi)")
Membuat Rencana (ilsutrasi dok. pribadi)
Saya sendiri sebetulnya tidak merasa bahwa cara berpikir saya rumit, saya hanya mengkonsep imajinasi saya dengan kata kunci : **“Nanti bagaimana ?, **bukan **bagaimana nanti ?”**

Pertanyaan “Nanti bagaimana ?” bukan berarti sebuah kekhawatiran. Tapi sebuah titik balik yang mendorong  saya harus mempersiapkan segala sesuatunya supaya bisa berjalan dengan baik dan hasilnya maksimal.

Saya percaya, resiko itu akan selalu ada, dan dengan titik balik “nanti bagaimana ?” itulah saya akan berusaha sebisa mungkin meminimalisir setiap resiko dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

Apakah cara berpikir ini akan membuat kita lambat dalam mengambil keputusan ?

Untuk awal-awal pembiasaan mungkin iya, tapi setelah terbiasa mungkin ini justru akan meminimalisir langkah kita salah dalam mengambil keputusan.

Contoh kasus begini misalnya :

Di suatu waktu saya harus pergi ke luar kota untuk mengikuti sebuah kegiatan dalam beberapa hari.

Simpelnya menurut beberapa teman yang tidak sepemikiran dengan saya “ya tinggal berangkat aja, apa susahnya ?”.

Saya tahu, perjalanan itu sederhana. Tapi saya tetap harus memikirkan segala sesuatunya agar perjalanan bisa menyenangkan, bahkan sampai selesai kegiatan.

Kemudian saya rinci dan catat apa saja yang harus saya bawa ke kegiatan tersebut dengan memperhatikan  fungsi dan efisiensinya. Saya harus mengatur jam berapa mengemas semua yang akan dibawa. Agar tidak ada yang tertinggal, saat mengemasnya sambil memperhatikan catatan bawaan yang sudah dibuat. Bagi saya, itu harus terpikirkan.

Tidak hanya itu, saya juga harus memikirkan teknis perjalanannya. Kalau tidak ada angkutan A maka saya harus memikirkan angkutan alternative lainnya. Dan berbagai hal lainnya.

Apakah itu rumit ?, tentu saja tidak bukan ?. Sebetulnya itu sangat sederhana dan siapapun sering melakukannya. Ini hanya soal bagaimana kita menyiapkan diri sesiap mungkin ketika segala sesuatunya terjadi. Betul memang, realita tidak selalu berjalan sesuai rencana, tapi kalau rencana saja tidak ada berarti kita harus siap-siap dengan kenyataan yang alakadarnya.

Contoh lainnya adalah saat mengadakan sebuah acara.

Kita bisa melihat bagaimana sebuah *Event Organizer (EO) *mengonsep segala sesuatunya dengan begitu mendetail. Selalu ada *plan A dan plan B. *Ketika satu bintang tamu berhalangan hadir maka dia sudah menyiapkan  cadangan. Seperti apapun cadangannya, yang penting acara tidak vakum.

Untuk acara di lapangan terbuka dengan kamera di berbagai sudut misalnya, mereka harus sudah memikirkan “*bagaimana jika nanti hujan tiba-tiba turun ?”, *akhirnya mereka siapkan plastik untuk menutup kamera tersebut apabila hujan turun, bukan baru kepikiran membeli plastic setelah hujan turun, yang ada keburu rusak itu kamera !. Sangat mendetail bukan ?, mereka tidak mengabaikan hal-hal yang bisa jadi dianggap sepele, tapi sebetulnya fatal jika terlewatkan.

Saya tidak menyesali cara berpikir seperti ini selama saya sendiri merasakan manfaatnya. Kalau ada yang mengatakan saya orang yang takut mengambil resiko, mungkin kurang tepat. Saya hanya berusaha meminimalisir resiko, apalagi menyangkut kepuasan orang lain atas diri kita. Karena faktanya, kebanyakan orang tidak peduli dengan proses kita, dan mereka cenderung selalu lebih menilai kepada hasil akhir.

Bayangkan, seandainya kita mengadakan sebuah acara tanpa perencanaan, apa yang akan terjadi ?. Kita akan panik bukan main ketika acar tersebut digelar. Begitupun dengan pribadi kita, mengerjakan sesuatu dengan lebih terencana (apalagi mendetail) akan memudahkan kita untuk mengerjakannya.

Bagi saya, tidak apa-apa kita melalui prosesnya dengan rangkaian formula yang rumit, tapi itu untuk proses yang berjalan secara terencana dengan hasil akhir yang memuaskan. Ketimbang diproses dengan alakadarnya tapi dengan hasil akhir yang mengecewakan.