[dropcap style=”font-size: 60px; color: #000000;”] S [/dropcap]alah satu kekurangbaikan yang ada pada kebiasaan saya adalah motivasi yang kadang masih labil. Kadang begitu bersemangat menggelora, tapi ada juga saat dimana hidup terasa begitu rapuh. Rasanya itu menjadi agak bertambah sulit, ketika saya tidak mau begitu bergantung kepada motivator, entah melalui televisi, buku, ataupun bacaan di internet.

Saya sadari, mendengarkan apa kata motivator memiliki kekuatan untuk men-*charge *kembali semangat kita. Tapi kalau ada yang pulang dari *training *motivasi dan semangatnya tidak sehebat seperti saat di *charge *di ruang training, biasanya saya adalah bagian dari yang seperti itu. *Huffth… *payah memang.

Saya pernah bertanya kepada salah satu motivator di negeri kita melalui jejaring sosial ; “bagaimana caranya mendapatkan motivasi tanpa harus dari seorang motivator ?”, sang motivator ternyata menjawab ; “dari diri sendiri”.

Jawabannya singkat, tapi memang padat. Sakin padatnya sampai sekarangpun saya belum selesai menguraikannya. Tidak mungkin saya bertanya terus untuk mendapatkan penguraian kalimat tersebut, karena yang menjadi ‘pasien’ beliau bukan hanya saya, ada ratusan ribu yang menjadi *follower-*nya, dan itu gambaran betapa banyaknya orang yang ingin mendapatkan input motivasi dari sang motivator.

Kalimat nan sederhana tersebut mendorong saya untuk berusaha menguraikannya. Lagi-lagi, internet adalah media prioritas yang saya jadikan sebagai bahan eksplorasi untuk mendapatkan titik-titik pemahaman.

Salah satu artikel yang pernah saya baca (mohon maaf, lupa sumbernya) kurang lebih menuliskan ; “Bisnis training motivasi di China tidak selaris di Indonesia, tapi China lebih pesat kemajuannya di banding Indonesia. Itu karena masyarakat China sudah mampu memotivasi dirinya sendiri”.

Entah sesuai fakta atau tidak, tulisan pada artikel tersebut sedikit banyaknya saya anggap cukup mencerahkan. Walaupun sepertinya bisa mengancam bisnis *training *motivasi. Tapi saya yakin tidak, selain karena para motivator (seharusnya)sudah mampu memotivasi dirinya sendiri, juga ada peran Tuhan yang sudah mengatur jalan rizki sedemikian rupa.

Alasan Kehilangan Motivasi

Situs *Pick the Brain * menuliskan ada 3 yang menyebabkan seseorang kehilangan motivasi dan harus ditemukan solusianya, yaitu :

  • Kurang percaya diri – Jika tidak yakin dapat berhasil, apa yang akan kita lakukan ?
  • Kurang fokus – Jika tidak tahu apa yang dikejar, bagaimana mungkin akan menggapainya ?
  • Kurangnya arah – Jika tidak tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana bisa termotivasi untuk melakukannya?

Dengan mengambil poin-poin sederhana untuk ‘menanggulangi’ 3 *destroyer *motivasi diatas, kurang lebih ada beberapa cara yang bisa kita lakukan.

[box type=”info”] Mulai dari sini, saya mohon jangan anggap saya mengguri, apalagi sudah mampu menanggulangi. Apa yang saya tuliskan disini (khususnya) bisa menjadi pengingat buat saya sendiri, dan selebihnya saya bersyukur sekali kalau bermanfaat juga buat orang lain. 🙂 [/box]

Dimulai dari meningkatkan rasa percaya dir

Banyak hal yang menghambat rasa percaya diri, bisa karena merasa malu, gengsi, atau mungkin understimate.

Kurang percaya diri adalah pembunuh motivasi nomor satu. Ketika ini terjadi pada saya, biasanya karena saya berfokus sepenuhnya pada “apa yang saya inginkan” dan mengabaikan “apa yang sudah saya miliki”.

Ternyata, bila kita hanya berpikir tentang Apa yang kita inginkan, pikiran menciptakan penjelasan mengapa saya tidak mendapatkannya. Hal ini menciptakan pikiran negatif. Kegagalan masa lalu, istirahat yang buruk, dan kelemahan pribadi mendominasi pikiran kita. Menjadi cemburu pada pesaing dan mulai membuat alasan dan pembenaran mengapa tidak dapat berhasil. Di titik ini, kita berusaha untuk membuat kesan buruk, dan menduga yang terburuk tentang orang lain. Secara tidak sadar, kita kehilangan kepercayaan diri.

Untuk keluar dari bagian ini mulailah fokus pada rasa syukur. Atur dan sisihkan waktu untuk fokus pada segala sesuatu yang positif dalam hidup kita. Buatlah daftar mental yang menguatan, kesuksesan masa lalu, dan keuntungan saat ini. Kita akan dibuat cenderung untuk mendapatkan kekuatan dan tidak terkunci oleh bayang-bayang kegagalan. Dengan membuat upaya untuk merasa bersyukur, kita akan menyadari bahwa kita juga memiliki kompetensi. Ini akan ‘meremajakan’ rasa percaya diri kita dan membuat termotivasi untuk meraih apa yang diusahakan.

Pikiran mendistorsi realitas untuk mengkonfirmasi apa yang ingin dipercaya. Semakin negatif kita berpikir, akan banyak contoh pikiran kita yang mengkonfirmasi kepercayaan. Ketika kita benar-benar percaya bahwa kita pantas menjadi sukses, pikiran kita akan menghasilkan cara untuk mencapainya.

Saatnya untuk lebih fokus

Pembunuh motivasi kedua adalah kurangnya fokus. Seberapa sering kita berfokus pada apa yang tidak diinginkan, bukan pada tujuan konkret ?, Kita biasanya berpikir dalam kerangka ketakutan. Kita takut menjadi miskin. Kita takut tidak ada seorang pun yang menghormati. Kita takut sendirian. Masalah dengan jenis pemikiran seperti ini adalah ; bahwa ketakutan-ketakutan itu sendiri malah tidak akan tertindaklanjuti.

Jika kita terjebak dalam rasa takut yang berbasis pemikiran, langkah pertama yang sepertinya cukup efektif adalah memfokuskan energi pada tujuan yang didefinisikan dengan baik. Dengan mendefinisikan tujuan, kita secara otomatis menentukan serangkaian tindakan. Jika kita memiliki rasa takut kemiskinan, berarti kita harus membuat rencana untuk meningkatkan pendapatan. Itu bisa dengan kembali bersekolah, mendapatkan pekerjaan dengan bayaran lebih tinggi, atau mengembangkan sebuah website yang menguntungkan. Sederhananya, kita bergerak dari keinginan yang belum terwujud dengan langkah-langkah konkret dan terukur.

Memfokuskan pikiran pada tujuan positif, bukanlah sebuah pilihan ambigu. Kita menempatkan otak untuk bekerja. Langsung mulai merancang rencana untuk meraih sesuatu. Alih-alih khawatir tentang masa depan, kita mulai melakukan sesuatu tentang hal itu. Kalau menurut **Ali Luke-**mah, ini adalah langkah pertama dalam memotivasi diri untuk mengambil tindakan. Ketika tahu apa yang diinginkan, kita menjadi termotivasi untuk mengambil tindakan.

[quote] Jika fokus berarti memiliki tujuan akhir, dan arah adalah memiliki strategi sehari-hari untuk mencapai itu. [/quote]

Mengatur Arah

Bagian selanjutnya di teka-teki motivasi ini adalah arah. Jika fokus berarti memiliki tujuan akhir, dan arah adalah memiliki strategi sehari-hari untuk mencapai itu. Kurangnya arah (juga) akan membunuh motivasi, karena tanpa tindakan berikutnya jelas kita menyerah pada penundaan. Contoh ini adalah seseorang yang ingin memiliki blog yang populer, tapi ia menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca posting tentang blogging daripada benar-benar menulis artikel.

Menemukan kunci untuk mengidentifikasi arah kegiatan itu berarti membawa arah ke keberhasilan. Untuk setiap tujuan, ada rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dan terencana, akan menjadi hutang jika satu saja apa yang direncanakan terlewatkan. Buatlah daftar semua aktivitas dan atur berdasarkan pada hasil/dampak. Kemudian membuat rencana aksi yang berfokus pada kegiatan-kegiatan yang mengakibatkan hasil yang lebih besar. Untuk melanjutkan contoh dari atas, daftar sederhana dari seorang blogger kurang lebih akan terlihat seperti ini:

  • Menulis konten
  • Penelitian topik yang relevan
  • Jaringan dengan blogger lain
  • Mengoptimalkan desain dan penempatan iklan
  • Jawab komentar dan email
  • Membaca blog lain

Menjaga supaya rencana yang paling penting untuk tetap bisa dilaksanakan akan mengarahkan energi menuju keberhasilan. Tanpa pengingat, sangat mudah untuk membuang seluruh hari dengan mengisi kegiatan seperti membaca RSS feed, email, dan surfing secara acak. Berapa jam waktu yang dibuang hanya untuk itu setiap harinya ?.

Ketika motivasi mulai melambat, kita akan mendapatkan kembali arah dengan membuat rencana yang berisi dua tindakan-tindakan positif. Yang pertama tugas-tugas pendek yang memang sudah lama ingin dilakukan, sementara yang kedua harus menjadi tujuan jangka panjang.

Tugas kecil harus jauh lebih segera dilakukan dibanding tugas besar. Ini menciptakan momentum positif. Setelah itu, mengambil langkah pertama menuju pencapaian tujuan jangka panjang. Lakukan hal ini secara berkala untuk terhindar dari semakin anjloknya motivasi, juga untuk menciptakan penguatan positif, dan mendapatkan rencana jangka panjang yang terus bergerak.

Tidak bisa dielakan memang, kita bisa mengalami saat-saat dimana energi rendah, nasib kurang seperti yang diharapkan, dan bahkan kadang-kadang kegagalan. Tapi jika kita tidak mendisiplinkan pikiran, ‘benjolan’ kecil ini dapat berubah menjadi monster pada sosok diri kita sendiri. Setidaknya, dengan berada pada posisi menjaga diri dari serangan pembunuh 3 motivasi tadi dapat sekaligus menjaga motivasi kita dan mendorong peluang diri untuk sukses. Semoga… !!!