[dropcap style=”font-size: 60px; color: #000000;”]G[/dropcap]oogle mendeteksi keontetikan sebuah tulisan (konten) blog dengan setumpuk algoritmanya tersendiri. Meski demikian, Google terus berusaha semaksimal mungkin agar hasil pencariannya seakurat mungkin dengan yang diinginkan penggunanya.

Itu Google, lain lagi dengan cara manusia menikmati sebuah tulisan. Saya katakan ‘menikmati’ karena memang bagi sebagian orang membaca itu ibarat pemenuhan kebutuhan rasa lapar dan dahaga.

Kita mungkin pernah mendengar satu tips dalam ngeblog ; “usahakan jangan terlalu panjang”. Tapi sadarkah kalau ngeblog itu ada seni-nya ?. Ketika kita menuliskannya dari hati yang paling dalam, seberapa panjang pun tulisan kita tidak akan jadi masalah, karena sesuatu yang dibuat sepenuh hati akan berpeluang dinikmati dengan sepenuh hati juga.

Sebagian besar tulisan saya di blog ini cukup panjang, bahkan ada  yang terlalu panjang. Ini mungkin akan membuat orang lain malas membacanya, tapi terus terang saya tidak pernah mengkhawatirkan itu. Nyatanya ada saja yang membacanya, bahkan juga meninggalkan komentar. Itu artinya, orang yang membaca tersebut benar-benar niat membaca (dengan hati). Apalagi dengan komentarnya yang sesuai, tidak sekedar “nice post“, atau “pertamaxxx“, atau lain sejenisnya yang menimbulkan tanda tanya “sebenarnya lu baca tulisan gue nggak sih ?”.

Menulis dengan hati bagi saya adalah seninya ngeblog. Itulah yang membedakan blog dengan situs berita yang memang dituntut untuk tidak terlalu panjang.

![Catat ide selagi ingat. (ilustrasi, dokumen pribadi)](https://blog.rosid.net/content/images/2012/11/603219_257693254350727_199104011_n.jpg "Catat ide selagi ingat. (ilustrasi, dokumen pribadi)")
Catat ide selagi ingat. (ilustrasi, dokumen pribadi)
Berikut ini adalah beberapa langkah positif sederhana untuk menambahkan ‘hati’ kedalam tulisan blog kita :

Catat selagi ingat

[quote]Tunggu sampai Anda lapar untuk mengatakan sesuatu, sampai ada yang sakit dalam diri Anda untuk berbicara. Natalie Goldberg.[/quote]

Salah satu keajaiban otak kita adalah ide atau inspirasi yang bisa muncul tiba-tiba, kapanpun dan dimanapun. Jangan pernah percaya pada teori “Ah, nanti juga ingat“. Tapi percayalah, jika Anda tidak mencatatnya justru akan kehilangan banyak inspirasi.

Beruntung, sekarang sudah banyak alat pencatat digital semisal handphone atau tablet. Kita tidak harus membawa buku catatan kemana pun pergi. Cukup catat poin-poin penting yang bisa menjadi kunci pengingat.

Jangan terlalu lama jeda waktu sampai Anda menuliskannya, lakukanlah segera disaat waktu senggang datang. Inspirasi mungkin akan terus bertambah, itulah gunanya mencatat ide kita. Ada saatnya kita kebanjiran ide, tapi sering juga kehabisan ide. Catatan ide  ibarat sebuah bank data dengan hanya kita sendiri yang mampu mengembangkannya.

Diinspirasi oleh kehidupan nyata

Sebagian besar dari karya terbaik para penulis berasal dari pengalaman pribadinya. Ketika mereka menulis dari pengalamannya sendiri, tulisannya secara otomatis seperti memiliki kehidupan di dalamnya.

Ada hubungan tertentu antara hati dengan kata-kata yang keluar dari pengalaman nyata. Kata-kata ini tidak hanya memiliki kehidupan, tetapi menyentuh makna kehidupan didalamnya jadi lebih jauh dan luas. Penceritaan yang dilatarbelakangi oleh kehidupan adalah apa yang membuat kita menjadi siapa kita, unik !.

Jangan pernah kehilangan fokus

Orang yang paling sering mengatakan “Fokus !” dalam hidup saya adalah pelatih Hockey waktu dulu. Beliau sering menasehati “Betul memang, kehidupan tidak bisa hanya berjalan pada satu trek. Ada begitu banyak jalur berbeda yang harus kita lalui secara bersamaan. Tetapi fokus pada setiap jalur yang dilalui akan tetap menjadi penting agar kita tidak keluar jalur terlalu jauh dan bisa berpindah jalur dengan tepat arah dan waktu.

Saya pernah beristirahat kelewat enak ketika menulis sebuah artikel, tapi ternyata itu malah membuyarkan aliran ide dari pikiran saya. Ketika kita memiliki keinginan untuk menulis dengan disertai hati yang ‘diaktifkan’, kadang alasan ‘tidak ada waktu’ menjadi tiada lagi. Itu akan semakin berkaitan dengan fokus kita dalam menulis. Dari fokus itulah tanpa diduga ternyata begitu banyak aliran ide bermunculan dalam benak kita yang semakin mengembangkan inspirasi tulisan kita.


Saya yakin kita semua adalah penulis. Kita semua memiliki kebutuhan untuk menulis. Baik itu jurnal, blog, buku, update status Facebook atau bahkan korespondensi surat elektronik. Tapi sudahkah kita menyertakan hati kedalam tulisan kita ?. Mari kita sama-sama melakukannya.