Pejabat yang namanya harum semerbak (apalagi di lingkungan kerjanya) itu kini harus duduk di kursi persidangan. Kasusnya sudah umum, terkesan biasa karena memang sudah membudaya. Yah… apalagi kalau bukan korupsi.

[![Ngaku Salah](https://blog.rosid.net/content/images/2012/03/bersalah.jpg "Ngaku Salah")](https://blog.rosid.net/content/images/2012/03/bersalah.jpg)
Ngaku Salah (gambar pra-edit by. alacanggung.com)
Duduknya dia dikursi persidangan kini dalam kasta yang berbeda, setelah awalnya merangkak (seperti karir jabatan) dimulai dari saksi, tersangka, dan kini bergelar terdakwa. Berbeda dengan jenjang karir, di jenjang status ini si pejabat yang sudah menjadi “mantan pejabat” itu mati-matian tidak ingin “naik jabatan”. Berbagai cara dilakukan agar ketuk palu yang mulia hakim berbunyi “tidak bersalah” meskipun Allah tidak mungkin menutupi kesalahannya.

Itulah salah satu realita sosial dalam kehidupan kita, yang menggambarkan betapa rendahnya tingkat rasa bersalah kita (kita, karena bukan tidak mungkin saya ataupun Anda seperti demikian, Naudzubillah). Kita tidak berani menghukum diri dengan memulai meyakinkan diri sendiri bahwa diri kita memang bersalah, patut mendapatkan konsekuensi, sehingga kita mau belajar dari kesalahan.

Malu sepertinya ketika harus mengakui sebuah kesalahan, serasa seperti menjilat ludah sendiri. Tapi, kalau nyatanya memang bersalah, kita akan bisa jauh lebih malu lagi ketika yang mengatakan “menjilat ludah sendiri” itu adalah orang lain sambil menunjukan jari kelingking ke hidung kita. Inilah saat dimana rasa malu dan rasa bersalah harus ada di tangan kanan dan kiri kita.

Sebagian besar yang paling menghambat nurani kita untuk mengakui sebuah kesalahan adalah suara iblis yang begitu mempengaruhi bathin kita dengan faham “mencari pembenaran”. Pembenaran itulah yang kemudian menjadi selimut (hasil jahitan iblis) yang menjadi pelindung kita. Dengan dalil-dalil pembenaran itulah seseorang yang tidak mau mengakui kesalahannya berusaha meyakinkan semua orang dengan memutarbalikan fakta. Kalau cara yang paling umum di dunia hukum kita adalah dengan mencari celah dan kelemahan hukum / peraturan. Jadi, tidak usah heran juga kalau banyak yang melanggar hukum justru para pembuat dan pelaksana hukum itu sendiri, karena memang sisipan celah hukum itu selalu ada, dan itulah sehebat-hebatnya hukum buatan manusia.

Untuk memulai belajar memupuk rasa bersalah, mulailah dengan tidak mencari pembenaran, tapi bersandarlah pada kebenaran. Kebenaran yang jauh lebih relaistis dibanding kekuatan daya khayal imajinasi kita atas pengaruh iblis. Rasa bersalah dan rasa malu adalah satu paket yang menjadi kepribadian utama bagaimana bangsa Jepang dan Korea bisa maju. Sebagian besar dari kita sering merasa kalau mengundurkan diri dari jabatan (yang sebetulnya tidak mampu dijalankan) adalah simbol ketidakbertanggungjawaban dan memalukan. Padahal, itu jauh lebih memalukan lagi ketika kita salah dalam menjalankan amanah jabatan tersebut, dan jauh lebih tidak bertanggungjawab lagi ketika ketidakmampuannya malah menimbulkan banyak persoalan.

Meskipun demikian, memang rasa bersalah tidak boleh berlebihan. Tapi paling tidak rasa bersalah tersebut harus cukup untuk “menghukum diri” supaya bisa jauh lebih baik lagi, bukan mengakhiri semuanya tanpa melakukan perbaikan apapun. Dengan rasa bersalah secukupnya, kita memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk belajar bertanggungjawab dan tidak membiarkan diri menjadi manusia berhati kerdil dan juga beku.

Rasa bersalah harus dimulai dari hal-hal yang sederhana, sebelum menjadi besar, dan bukan baru kemudian merasa bersalah setelah diketuk palu di depan pengadilan. Masih mending kalau sudah diponis terus merasa bersalah, yang konyol itu kalau sudah diponis bersalah, tapi masih maksa ingin bebas juga padahal semua kesalahannya sudah terbongkar, bisa dibayangkan, mungkin bukan kerdil dan beku lagi hatinya, tapi sudah mati.

Hal yang paling penting dari upaya menanam dan memupuk rasa bersalah  selain sebagai pintu menuju evaluasi dan berjiwa besar, tapi juga menjadi jembatan bagi kita untuk bertaubat memohon ampun kepada Allah SWT. Memohon ditunjukan kembali jalan yang benar, memohon didekatkan dengan orang-orang yang justru akan membuat diri kita semakin baik, bukan semakin berbuat salah.

Wallahu’alam, semoga kita semua menjadi lebih baik, dan mempunyai rasa bersalah baik besar maupun kecil, walaupun sebesar jagad raya dan sekecil inti atom.

[box type=”bio”] *“Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.”  *(Khalifah Umar bin Khattab) [/box]