Menjelang pagi buta, Ikhwan dan Ibunya sudah bersiap-siap keluar rumah untuk menggadaikan surat tanah dan bangunan yang ia tempati sekarang. Seminggu sudah, Rasti kakak perempuan Ikhwan di rawat di ruang ICU salah satu rumah sakit umum milik pemerintah daerah karena koma. Rasti jatuh koma setelah sebelumnya terserang berbagai penyakit atau konflikasi. Entah berawal dari mana, sudah hampir satu tahun Rasti menjalani cuci darah secara rutin, sampai akhirnya ia harus masuk ruang operasi dan berujung di ruang ICU.

Berbagai cara telah dilakukan Ikhwan beserta keluarganya untuk menyelamatkan nyawa Rasti sang kakak tercinta, hampir semua harta benda yang ada ditambah sumbangan dari saudara dan tetangga tidak mencukupi untuk menanggung biaya ICU Rasti.

Tiga minggu sudah dari semenjak tanah dan rumah digadaikan, kesehatan Rasti belum juga menunjukan kemajuan. Dan satu bulan lebih nyawa Rasti bergantung pada alat-alat yang terhubung dengan organ tubuhnya. Ikhwan dan ibunya kini berada dalam posisi yang sangat sulit, semua harta yang dimiliki nyaris sudah tidak ada lagi. Sedangkan disaat yang bersamaan Rasti sama sekali belum menunjukan kemajuan, dan itu artinya masih banyak biaya yang dibutuhkan.

Alangkah teganya kalau Ikhwan dan keluarganya harus melepaskan alat-alat dari tubuh kakaknya. Tapi kalaupun alat-alat tersebut harus tetap terpasang tidak ada rumah sakit yang mau menggratiskannya. Segala daya upaya sudah dilakukan sebisa mungkin untuk mencari pembiayaan buat Rasti. Benar-benar pada posisi yang sulit.

-oOo-

Sobat, cerita diatas adalah sebuah fiksi yang saya rangkai dengan sangat sederhana tapi bukan tidak mungkin terjadi secara nyata dikehidupan sekitar kita. Sengaja tidak saya ceritakan bagaimana *ending-*nya, supaya kita bisa bertanya *“apa yang akan kita lakukan kalau berada pada posisi Ikhwan atau Ibunya ?”. *

Disatu sisi kita sudah berusaha sebisa mungkin, habis-habisan, atau maksimal untuk mencari biaya buat pemulihan saudara kita, namun disisi lain hasil usaha itu tidak mencukupi untuk membiayai saudara kita yang sedang koma (mudah-mudahan tidak sampai) sampai pada akhirnya kita dalam posisi dilema. Akan sangat terkesan betapa kejam, tega, dan sadisnya kita begitu menyaksikan orang yang kita cintai harus meninggalkan kita untuk selamanya karena ketidakberdayaan kita untuk memberikan pertolongan yang terbaik.

Kadang saya berpikir, okelah pemerintah tidak sanggup menggratiskan biaya kesehatan seluruh rakyatnya, tapi sepertinya untuk pertolongan pada orang yang koma harus digratiskan. Istilah kasarnya ;

“kalapun orang yang ditolong tersebut tidak terselamatkan atau tidak pulih kembali, paling tidak ia bisa meninggal secara wajar, buka karena dilepasnya alat bantu usaha pemulihan yang tersambung ke badannya.”

Apa yang muncul didalam pikiran saya tersebut mungkin konyol, tapi rasanya jau lebih konyol lagi ketika kita menyaksikan atau bahkan melakukan pembunuhan terhadap saudara sendiri. Kadang saya juga berpikir, “Andai saja ada lembaga donatur khusus untuk sudara-saudara kita yang sedang koma ?”. Itu memang bukan sesuatu yang mudah, tapi mudah-mudahan kedepannya bisa menjadi kenyataan. Atau paling tidak ada yang mau bergerak cepat atau kita bekerja sama untuk mewujudkan hal tersebut, saya akan jauh lebih senang lagi. 

Saya yakin, banyak saudara-sudara kita yang sedang dalam posisi sulit seperti kisah diatas. Mereka butuh pertolongan, mereka butuh bantuan, mereka butuh penyelematan untuk hidup normal kembali dan walaupun mungkin pada akhirnya harus meregang nyawa semuanya bisa berakhir dengan wajar dan dalam kondisi diberi pertolongan.

***Catatan : ***Mohon maaf atas kesamaan nama yang tertulis pada kisah diatas