Lagi-lagi pikiran saya *ngalor-ngidul *gak karuan, berlari kesana kemari, menyasar ke segala arah, padahal suasana gak santai-santai amat dan gak terlalu sibuk juga, ya adalah yang harus dikerjakan. Entah datang dari arah mana munculah dalam benak saya “dari sudut mana kita harus melihat sisi kemajuan pembangunan di tanah air tercinta ini ?”.

Hampir secara berkala, pemerintah kita dari tahun ketahun selalu menyampaikan data statistik kemajuan dari pembangunan di negara kita. Tapi sayang, selantang apapun pemerintah menyampaikan angk-angka statistik tersebut sering sekali dianggap acuh tak acuh  oleh masyarakat kita karena sering  data-data tersebut dianggap kurang atau bahkan tidak relevan dengan realita kehidupan masyarakat sebenarnya.

Artikel ini bukan merupakan sebuah materi yang bisa dijadikan acuan bagaimana kita mengukur kemajuan sebuah pembangunan. Dibanding dengan kategori “opini”, tulisan ini lebih pantas disebut “curhat”. Jadi, kalau salah mohon diluruskan, kalau tersinggung mohon dimaafkan, kalau benar tolong disempurnakan, kalau tidak penting lebih baik jangan dibaca.

Untuk melihat sejauhmana keberhasilan pembangunan versi saya ;

Jangan hanya dilihat seberapa banyak orang yang bertambah kaya, tapi lihatlah seberapa banyak orang-orang yang masih dalam kemiskinan atau bahkan orang-orang yang semakin miskin. Jika kita hanya terfokus melihat angka-angka yang menghitung keberhasilan “mengkayakan” masyarakat, bisa jadi kita lalai terhadap angka-angka keberhasilan dalam “memiskinkan” masyarakat (naudzuillah).

Jangan hanya dilihat seberapa banyak orang-orang yang berhasil menamatkan pendidikan hingga sarjana dan juga jangan hanya dilihat seberapa banyak bangunan sarana pendidikan baru yang megah dan mewah, tapi lihatlah juga seberapa banyak generasi bangsa kita yang tidak bisa mengenyam pendidikan. Jutaan sarjana baru lahir setiap tahunnya di bumi Nusantara ini mungkin sesuatu yang bagus, tapi bagi seorang pemimpin bangsa itu tidaklah berarti apa-apa jika disaat yang bersamaan masih ada anak yang tidak bisa masuk ke dunia pendidikan, jangankan perguruan tinggi, sekolah dasarpun mungkin “tidak ada celah”.

Jangan hanya dilihat seberapa banyak rumah sakit baru dan megah tumbuh diberbagai pelosok negeri, tapi lihatlah juga seberapa banyak masyarakat kita yang tidak bisa mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang layak dan manusiawi. Luar biasa memang kalau disetiap daerah berdiri bangunan rumah sakit yang megah, tapi tidak ada artinya kalau tidak bisa melayani masyarakat dari semua golongan.

Jangan hanya dilihat seberapa banyak koruptor yang berhasil dikrangkeng dibalik jeruji, tapi perhatikan juga seberapa banyak kasus korupsi yang mengendap tanpa kejelesan penyelesaian dengan nilai kerugian yang tidak sedikit. Kemudian lihat juga seberapa banyak koruptor-koruptor yang masih leluasa dan merajalela menggerogoti uang rakyat. Jempol memang jika banyak koruptor yang masuk trali jeruji, tapi “jempol” bisa jadi terbalik posisinya jika disaat yang bersamaan korupsi semakan mewabah.

Jangan hanya dilihat seberapa banyak pusat-pusat perbelanjaan yang megah berdiri hampir diseluruh daerah, tapi lihatlah juga bagaimana kondisi para pedagang kecil dan pasar tradisional yang semakin dihimpit oleh kesemrawutan dan tekanan modernisasi perdagangan yang tidak berpihak kepada mereka.

Jangan hanya dilihat seberapa banyak hasil industri dan pertanian dari negara ini, tapi lihatlah juga bagaimana kesejahteraan sumber daya manusianya sebagai pelaku utama dari peningkatan hasil industri dan pertanian tersebut. Kita tidak boleh lagi menjadi bangsa yang mengadopsi “Politik Mercusuar”, yang begitu terlihat hebat dan terang benderang dari luar tapi didalamnya sangat menkhawatirkan.

Jangan hanya dilihat seberapa banyak masjid-masjid nan megah berdiri dimana-mana, tapi perhatikan juga sejauh mana masyarakat kita menjadi umat yang relijius dan ber-*akhlakul karimah. *Akan menjadi ironis jika begitu banyak masjid-masjid yang megah hampir disemua pelosok negeri, tapi dari waktu ke waktu bangsa kita tatanannya semakin jauh dari nilai-nilai agama.

Demikianlah kawan, sedikit curahan yang saya tumpahkan bagaimana semestinya kita melihat hasil suatu pembangunan dari sudut pandang yang seolah-olah  sebagai “pengelola negara”. Sekali lagi mohon maaf *banget *kalau isinya keliru dan tak layak ditiru.