Mereka yang pernah bergelut dalam sebuah kegiatan, rata-rata pernah merasakan lika-liku susahnya mendapatkan sponsor. Hampir semua kegiatan selalu ‘menggantungkan’ harapan di pundak pihak-pihak yang sekiranya mampu menjadi penyuntik dana keberlangsungan acara.

Ada yang mengatakan “mendapatkan sponsor itu mudah”, ada juga yang merasakan susahnya minta ampun. Susah dan mudah bisa jadi karena sudut pandang kita. Baik posisi melihat ke luar, maupun ke dalam.

Untuk menyiasati bagaimana caranya supaya sebuah perusahaan tertarik untuk menyeponsori kegiatan atau organisasi, ada baiknya kita yang mau mencari sponsor memposisikan diri seolah sebagai calon sponsor.

[![Kerjasama (ilustrasi, dokumen @blogerbenteng)](https://blog.rosid.net/content/images/2013/02/Kerjasama-SmartFren.jpg)](https://blog.rosid.net/content/images/2013/02/Kerjasama-SmartFren.jpg)
Kerjasama (ilustrasi, dokumen oleh [@dykapede)](http://twitter.com/dykapede)
###

Timbal Balik

Ya, ini adalah sesuatu yang mutlak. Apa yang akan didapatkan oleh sponsor setelah menyuntikan dana untuk sebuah kegiatan ?. Dalam format CSR (Corporate Social Responsibility) sekalipun, nilai komersil berbau promosi akan selalu tetap diharapkan ada (syukur-syukur bisa berpengaruh besar) oleh sebuah perusahaan.

Kita bisa melihat di sebuah program CSR sebuah perusahaan selalu disertakan media yang meliput. Selain untuk menunjukan bahwa mereka perusahaan yang peduli dan sudah menjalankan kewajiban CSR-nya, itu juga salah satu cara untuk meningkatkan awarenees balasan dari konsumen.

Bayangkan, ketika sebuah perusahaan menyeponsori kegiatan kita dengan suntikan dana tertentu, apakah timbal balik untuk perusahaan lebih baik ketimbang memasang iklan dengan besaran dana yang sama ?

Disini kita harus bisa memastikan bahwa program yang kita ajukan dengan besaran dana tersebut akan mampu memberikan timbal balik yang lebih baik bagi si perusahaan dibanding iklan secara umum.

Proposal ‘Mentah’ Terus

Menggunakan proposal saja mentah, apalagi tidak menggunakan proposal ?. Ok, mungkin itu sebuah keajaiban dan keberuntungan jika tanpa proposalpun Anda mampu mendatangkan sponsor.

Bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk mendapatkan sponsor tanpa pengajuan proposal. Ini biasanya dikarenakan visi yang sama dengan formasi yang berbeda (saling melengkapi/membutuhkan).

Soal proposal ke sponsor yang ‘mentah’ terus, ada baiknya jangan dipaksakan dengan konsep yang sama ketika gagal. Cobalah benahi kembali sebelum diajukan ulang atau dikirimkan ke perusahaan yang berbeda. Kita harus memahami beberapa hal berikut ini :

Persaingan di tingkat awal

Perusahaan lebih sedikit dibanding ‘pencari dana’. Artinya apa ?, yang mengajukan proposal bukan hanya Anda sendiri, ada banyak pihak yang berbondong-bondong meminta perhatian dan kerjasama seperti yang Anda lakukan.

Dari sini kita sudah bersaing untuk bisa meyakinkan diri layak dipilih untuk didanai. Setiap perusahaan pasti akan menganalisa mana proposal yang penyampaiannya lebih baik, kegiatan yang menguntungkan, dan sejalan dengan visi marketing dan program sosial mereka.

Berkekuatan hukum

Semua divisi di perusahaan akan dihadapkan pada pertanggungjawaban, salah satunya adalah audit. Jika ingin mendapatkan sponsor yang ‘kakap’, sudah pasti ‘pancingannya’ harus lebih kuat. Tolong fahami ‘pancingan’ bukan ‘umpan’. Disini kita tidak sedang bebricara trik licik, tapi bagaimana Anda harus dalam posisi yang kuat untuk menjadi pihak yang akan didanai oleh sponsor.

Bantulah divisi-divisi terkait di perusahaan tersebut dalam proses pengauditan. Misalnya, Anda punya badan hukum. Jadi ketika diaudit di kemudian waktu dana yang tersalurkan bisa dipertanggungjawabkan oleh divisi-divisi tadi, dan tidak dianggap sebagai sebuah kebocoran.

Itulah sebabnya, mengapa banyak perusahaan besar yang tidak berani untuk bekerjasama secara B to C (Business to Community), mereka lebih memilih bekerjasama secara B to B (Business to Business), dan selanjutnya Community akan berada pada posisi sebagai pihak ketiga. Kalaupun mau bekerjasama secara langsung secara B to C, umumnya mereka sudah mempunyai divisi yang khusus menangani Community.

Begitu juga di tatanan pemerintahan, setiap tahunnya akan selalu ada guliran dana hibah. Dana hibah ini tidak serta merta dibagikan begitu saja. Akan dipilih mana yang tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari jika diberikan dana, salah satu faktornya adalah memilik badan hukum atau diakui negara.***
*

Regulasi kegiatan yang jelas

Tata bahasa yang menarik pada penyusunan proposal bisa saja menjadi salah satu faktor poin tambahan di sebuah proposal, tapi aturan main dalam sebuah kegiatan yang diajukan dalam bentuk proposal adalah kunci utama.

Anda paparkan mekanisme sejelas mungkin, mulai dari perencanaan, teknis, hingga harapan hasil akhir. Jangan dilewatkan juga bagaimana mekanisme sponsorship yang akan dijalin antara pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Pemaparan regulasi ibarat kita menjelaskan sebuah metode secara lisan. Semakin baik pemaparan dan yang dipaparkan, akan semakin besar peluang sponsor merasa tertarik untuk bekerjasama.

-oOo-

Setiap jalinan kerjasama dengan sponsor adalah sesuatu yang final. Kita tidak boleh menyia-nyiakan dan harus bisa mempertanggungjawabkan MoU yang sudah dijalin.

Jalinan kerjasama ini bisa diibaratkan portofolio, yang setiap keberhasilan kerjasamanya adalah nilai plus baik di mata pihak yang sudah menjalin maupun bagi pihak yang belum menjalin. Mereka yang belum bekerjasama dengan kita tapi sudah mencium buruknya kerjasama kita dengan pihak lain, kecil kemungkinannya mau bekerjasama dengan kita.

Selamat berjuang, semoga apapun program kegiatan yang dijalankan akan berproses dan mempunyai hasil akhir sesuai rencana.