Apa yang terbayang dalam benak Anda ketika mendengar kata sukses? Pernahkah diantara kita benar-benar mengukur makna sukses tersebut?

Apakah banyak properti, rumah besar, uang dan perhiasan berarti sukses ? Andai pun menjawab “iya ”, mungkin itu bukan sesuatu yang salah.

Keberhasilan kita di dunia begitu identik dengan uang, kekuasaan, atau ketenaran. Seorang pemimpin negara pun baru dianggap sukses setelah ia mampu menjadikan rakyatnya makmur secara materi, selain daripada itu seolah biarlah rakyat mengurusnya sendiri.

Kesuksesan, sebuah kata yang dicari dari dua sisi ; makna harfiah dan makna hakikat. Dimana titik pangkal pencariannya beranjak dari masing-masing sudut pandang. Sebuah kata yang akan melahirkan perdebatan panjang jika hanya membuatnya sebagai bahan perdebatan, yang justru akan semakin mengaburkan kesuksesan (yang entah apa artinya) itu sendiri.

Mendefinisikan ulang makna kesuksesan mengingatkan saya pada seorang ibu yang juga seorang blogger, dia berasal dari Mumbai – India, yaitu Zeenat Merchant Syal.

Dulu, Zeenat seperti halnya kita, mendefinisikan kesuksesan dengan berbagai pencapaian duniawi, kaya akan materi, dan banjir akan sanjungan serta pujian.

27 Februari 2007, babak baru dalam hidupnya dimulai, Zeenat melahirkan puteri pertamanya, Haaniya. Tidak jauh berbeda dengan para perempuan lainnya yang untuk pertamakalinya menjadi seorang ibu ; rasa kecemasan, antisipasi, dan gembira campur aduk nyaris tak tertahankan menjelang kelahiran puterinya.

Situasi menjadi tenang, ketika Haaniya lahir dengan selamat. Hidup terasa begitu tenang, dunia seperti menjadi sangat hening, dan Zeenat pun mulai menghabiskan hari-hari dengan puterinya yang cantik.

Saat Zeenat duduk dan memegang Haaniya di kamarnya dan untuk pertama kalinya hanya berdua dengan gadis kecilnya yang sempurna, Zeenat mulai membayangkan hidupnya.

Ia seperti melihat semua tentang dirinya dihadapannya, saat ia tumbuh dan berkembang. Ya, melalui sosok puteri cantiknya.

Ia berharap dan berdoa yang terbaik untuk puterinya, tapi saat membayangkan hidupnya yang ditarik lurus ke puterinya, definisi Zeenat tentang kesuksesan berubah. Dia tidak membayangkan mobil yang akan ditumpangi, rumah yang akan ditinggali, atau pakaian yang akan dikenakannya.

Sebaliknya, ia berpikir tentang betapa bahagianya dia ketika kebaikan yang akan dilakukan anaknya. Melihat gadis kecil ini dengan seluruh hidupnya di hadapannya, Zeenat menyadari bahwa kesuksesan bukan tentang hal-hal eksternal; uang, kekuasaan, dan ketenaran. Karena, hal tersebut adalah hasil produk sampingan yang berasal dari siapa kita.

Titik momentum hidup seorang Zeenat, mengingatkan saya pada obrolan dengan Om Bagus HJ beberapa waktu silam di kediamannya. Sebuah obrolan yang menekankan konsentrasi saya pada kalimat : *“*Sebagian besar dari kita adalah orang-orang yang gagal mencapai cita-citanya di masa kecil”.

Ya, untuk memahaminya sederhana saja, saat masih duduk di bangku SD kita sering ditanya ; “cita-citamu ingin menjadi apa ?” Sekarang kita tidak lagi SD, puluhan tahun mungkin sudah terlewati masa-masa tersebut, lalu… apakah pencapaian cita-cita kita sama dengan yang diikrarkan sewaktu SD dulu ? Sebagian besarnya adalah, gagal.

Tapi, sperti yang Om Bagus sampaikan (nasehatkan) kepada kami di obrolan tersebut, meskipun tidak menjadi seperti yang kita cita-citakan dulu, tetaplah bersyukur, karena setidaknya kita masih menjadi seperti yang orang tua kita harapkan, yaitu tidak menjadi penjahat.

Pengalaman Zeenat dan obrolan dengan Om Bagus, bagi saya memiliki pesan penting tentang definisi kesukses (yang masih belum sanggup saya definisikan).

Setiap kita memiliki potensi yang tak terbatas dan itu adalah potensi yang besar untuk mengejar kesuksesan, apapun definisi suksesnya. Kekayaan, kekuasaan, ketenaran, dan kebahagiaan kemudian datang sebagai hasilnya. Penekanannya adalah meskipun untuk menjadi, bukan untuk memperoleh.

Ketika ibu melahirkan kita, bisa jadi bayangan mereka akan kesuksesan kita sebagai anak-anaknya seperti bayangan yang muncul ketika Zeenat telah melahirkan Haaniya. Bayangan kesuksesan yang sederhana tapi tidak mudah, seperti yang Om Bagus katakan, tidak menjadi penjahat. Apalah gunanya kesuksesan materi kalau kita juga sukses menjadi penjahat ?

Lebih sederhana lagi, orang tua kita berharap kita cukup menjadi anak yang baik. Dan kalaupun ingin mencapai banyak keinginanan, sepertinya label “anak baik” tetap tidak boleh dilepaskan, karena itulah cikal bakal definisi sukses yang orang tua kita sematkan. Wallahu’alam.