Siapapun bisa menerjemahkan **kenyataan **dalam berbagai persepsi, sepanjang yang menjadi penilainya masih manusia juga (relatifitas), tapi tidak ketika sudah dihadapkan pada kemutlakan Sang Maha Pencipta.

Umumnya kenyataan menjadi begitu identik dengan momentum atau peristiwa yang kurang menyenangkan di kehidupan dunia. Orang ketika berbicara masalah kenyataan, yang terbayang dalam benak pikirannya identik dengan sesuatu yang kurang menyenangkan. Kalaulah kenyataan itu sesuatu yang realitas, benar-benar terjadi, seharusnya bukan hanya sesuatu yang menyedihkan yang mengingatkan kita tentang kenyataan, tapi sesuatu yang menyenangkanpun adalah kenyataan.

Macam-macam cara orang menghadapi kenyataan, ada yang menyerah juga *qanaah. *Menyerah membiarkan kenyataan melindas diri, ada juga yang tabah dan terus melangkah menganggap kenyataan sebagai ujian yang harus ditaklukan.

Apakah kenyataan tidak bisa dihindari ?

Pendapat saya adalah ; tentu saja bisa !. Ini hanya soal pilihan dan tergantung kenyataannya. Kalau kenyataan menggariskan kita dikenai musibah (naudzubillah), ya siapa yang bisa menghindar ?. Tapi kalau kenyataan menghadapkan kita pada pilihan, ya inilah opsi bagi kita untuk menghadapinya atau menghindarinya.

Kenyataan vs Perasaan

Ketika seorang ibu dihadapkan pada kenyataan kalau anaknya terlahir dalam kondisi kurang normal, inilah yang saya maksud kenyataan menghadapkan kita pada pilihan. Benar, sudah sewajibnya sang ibu tersebut tetap merawat anaknya dengan penuh kasih sayang. Tapi, masalahnya hidup selalu berpasang-pasangan, ada baik ada buruk, ada benar ada salah, ada malaikat juga ada iblis, jadi pilihan akan selalu ada.

Ketika sang ibu memutuskan untuk tetap mengurusnya anaknya atau tidak, itulah pilihan. Pilihan yang sudah pasti memiliki konsekuensi yang terus berulang dengan pilihan.

Apabaila si ibu tersebut merawatnya, kita akan mengatakan kalau dia adalah ibu yang berperasaan. Apakah ketika si ibu tersebut memilih untuk tidak merawatnya bahkan menelentarkannya bisa kita sebut tidak berperasaan ?.

Bagi saya ibu tersebut tetap berperasaan, hanya saja perasaan (perasaan adalah respon yang dipelajari tentang sebuah keadaan emosi di lingkungan atau kebudayaan tertentu¹) yang dirasakan oleh ibu tersebut cenderung dikuasai oleh iblis dibanding oleh malaikat.

Mungkin inilah yang sering disebut “perasaan juga bisa salah !”

Menerima Kenyataan

Penerimaan terhadap kenyataan kadang mengharuskan kita mengabaikan perasaan-perasaan yang ada didalam hati kita sendiri. Perasaan yang seperti sedang konflik, dilema, dan tarik menarik antara pengaruh malaikat dan iblis disaat kita menghadapi kenyataan.

Penerimaan sang ibu yang melahirkan anaknya dalam keadaan kurang normal pada contoh tadi adalah gambaran jika kesadaran akan kewajiban menerima kenyataan atas amanah takdir yang harus diterimanya mengalahkan perasaan.

Disinilah, ilmu termahal di dunia akan menampakan kekuatan yang sesungguhnya, yaitu keikhlasan.

Ini seperti tidak ada bedanya ketika kita harus ikhlas menerima kenyataan kalau orang yang kita cintai memilih berlabuh ke lain hati. Menerima kenyataan kadang masih lebih baik dibanding menjadi galau karena diguncang oleh pilihan yang dihadirkan kenyataan. Pilihannya tentu  bermacam-macam, dan silahkan sobat-sobat rangkai sendiri topologinya (kalau pernah mengalami). Tapi, daripada dibuat pusing oleh pilihan yang macam-macam itu, lebih baik sudah terima saja.Life must go on !

Menghargai Kenyataan

Sulit memang untuk memposisikan kenyataan yang menyedihkan setara dengan kenyataan yang menyenangkan. Meskipun sebetulnya dua-duanya memiliki peran yang sama, yaitu ujian.

Tapi, kenyataan tetaplah sesuatu yang harus kita hargai, lebih dari menghargai keputusan presiden. Karena, kenyataan adalah keputusan dari yang Maha Kuasa.

Meskipun menghadapi kenyatan kadang seperti sebuah pilihan, menghindarinya adalah pilihan yang dirasa kurang bijak.

Menghadapi kenyataan adalah sebuah keputusan yang harus diambil – walau kadang pedih – ketika kita ingin belajar menjadi orang yang diluar kebiasaan. Dengan ‘kawah candradimuka’ kepedihan yang sementara itulah, di waktu yang tepat nanti kita (semoga) akan merasakan manisnya kebahagaiaan dari sebuah kemenangan, kemenangan atas penaklukan diri sendiri. Semoga…!

*¹) What are emotions? *