Asik nih! Dosennya membahas materi perkuliahan dari angle lain. Angle lain yang justru bisa menjadi kunci pengingat materi itu sendiri.

Itulah kesan pertama yang saya tangkap dari dosen Pancasila dan Kewarganegaraan saya di Unsurya, Bapak Sri Widodo.

Tapi, hadirin, di sini saya tidak akan membahas materi perkuliahan yang beliau ampu. Saya justru lebih tertarik untuk menuliskan hal lain yang beliau sampaikan di kelas, yaitu tentang profesionalisme.

"Apa yang dimaksud dengan profesionalisme?"

Tanya beliau.

Profesionalisme, kata yang sangat familiar, tapi tidak mudah ketika kita diminta menginterpretasikannya. Setidaknya bagi kami yang saat itu ada di kelas. Entah karena memang benar-benar tidak mengerti secara harfiah, atau mengerti, tapi malu untuk menyampaikannya. Yang jelas, pada ragu untuk menjawabnya.

Saya kira Pak Sri akan menyampaikan pengertian profesionalisme layaknya Wikipedia menulis:

Profesionalisme (profésionalisme) ialah sifat-sifat (kemampuan, kemahiran, cara pelaksanaan sesuatu dan lain-lain) sebagaimana yang sewajarnya ter­dapat pada atau dilakukan oleh seorang profesional.

Ternyata tidak. Pak Sri menyampaikan bahwa profesionalisme itu jika "4 well" terpenuhi. Apa saja itu?

Well Trained

Pilot adalah salah satu pekerjaan profesional. Hanya orang-orang terlatih dan tersertifikasi yang berhak menyandangnya. Photo by Alicia Steels / Unsplash

Well Trained bisa diartikan memiliki keterampilan atau keahlian yang diperoleh melalui proses pelatihan yang mumpuni dan memuaskan.

Landasan ini menjadi pijakan bagaimana setiap tindakan yang akan diambil berdasarkan ilmu pengetahuan yang tepat, bahkan bisa dipertanggungjawabkan. Seperti dokter yang mengambil tindakan medis berdasarkan keilmuwannya.

Jadi, jika proses ini saja tidak pernah dilewati, maka embel-embel profesionalisme bisa disimpulkan sudah gugur di awal.

Well Managed

I work in a software company designed and structured an app for field staff. That day we made a tour of our flow and could not miss a shot of our work :)
Photo by Alvaro Reyes / Unsplash

Ya, dikelola dengan baik. Sudah seharusnya, memiliki keahlian khusus berbanding lurus dengan kemampuan mengelola dengan baik.

Ahli pemrograman sehebat apapun, jika dia tidak mampu mengelola waktu untuk mengimplementasikan keahliannya dengan baik, ia menjadi hanya ahli pada bidangnya, belum profesional.

Tanpa dikelola dengan baik, keahlian yang digenggam jadi tidak memiliki nilai guna.

Well Equipped

Apa yang bisa dilakukan seorang penembak jitu jika dia sendiri tidak dibekali dengan senjata? Photo by Zhang H / Unsplash

Semakin terlihat lebih jelas ya. Memiliki keahlian yang mumpuni, mampu mengelola keahlian yang digenggam dengan baik, dan sekarang memiliki "senjata" yang baik.

Artinya senjata di sini adalah alat pendukung yang membuat seorang ahli bisa mempraktikan keahliannya untuk hasil yang sempurna.

Sebagai contoh, seahli apapun Anda dalam membuat video animasi, jika tidak didukung dengan kemampuan komputer (sebagai alat pengolah) yang berspesifikasi sesuai dengan standar requirement, mustahil bisa menciptakan karya yang bagus.

Contoh lain, sejitu apapun kemampuan menembak seorang sniper, menjadi "omong kosong" jika ia tidak dibekali dengan senjata.

Dari sini, untuk memastikan identitas keprofesionalan kita tetap terjaga, pastikan dalam melakukan suatu pekerjaan, kita didukung dengan perangkat-perangkat yang mumpuni.

Well Paid

A twenty-four year old woman counting dollar bills.
Photo by Sharon McCutcheon / Unsplash

Ya, sebagai seorang profesional, Anda berhak dibayar "pantas" atas proses pekerjaan dan hasil pekerjaan Anda.

Begitupun sebaliknya, jika kita ingin dibayar dengan nilai yang lebih baik, berarti kita harus bekerja dengan kaidah-kaidah 3 "well" sebelumnya, yaitu kita memang ahlinya, mampu mengelola kemampuan yang dimiliki dan bekerja dengan alat pendukung yang baik.

Nilai pembayaran yang bagus seharusnya berbanding lurus (bahkan lebih) dengan modal yang telah kita keluarkan: Pertama, modal untuk mendapatkan ilmunya. Kedua, modal untuk memproduksinya.

Dari pengenal "4 well" itu saya jadi memahami, bahwa kita tidak hanya sedang diajarkan pengertian profesionalisme itu sendiri, melainkan tentang bagaimana menjadi pibadi yang profesional sebagai pelaku profesionalisme.

Sebab apa?

Sebab, jika individunya profesional, maka negaranya pun akan menjadi negeri yang Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur!