Sementara kita semakin maju dalam kemampuan dan keterampilan teknologi, disisi yang berbeda kita terasa seperti mengalami kemunduran dalam hubungan nyata, otentik dan bermakna dengan satu sama lain. Kita telah begitu aktif dalam berteknologi, namun seperti hilang dalam humanisme.

Bisakah kita merangkul keduanya atau salah satu harus mengorbankan yang lain ?

Situasi saat ini sepertinya mengharuskan kita kembali ke keseimbangan cara bersosialisasi dan menyesuaikan diri untuk berada di zona tengah dari menggabungkan keduanya.

Teknologi melompat lebih jauh ke depan, sedangkan apapun zamannya kita tetap harus melestarikan dan melibatkan diri kita dalam interaksi hubungan secara langsung dan nyata. Hanya ketika kita menyadari ketidakseimbangan ini, kita bisa mulai menyesuaikan diri dan membuat perubahan. Nyatanya, sebagian dari kita sudah tersapu oleh gelombang pasang teknologi pada dekade terakhir.

Kadang saya berpikir; sudah saatnya untuk mengambil sikap tentang bagaimana kita menjalankan kehidupan kita, atau tegasnya bagaimana kita memperbolehkan teknologi untuk menjalankan kehidupan kita. Setidaknya, ini diambil pada kehidupan saya sendiri.

![Sibuk Gadget](https://blog.rosid.net/content/images/2012/08/Sibuk-Gadget.jpg "Sibuk Gadget")
“*Cieeee… pada sibuk masing-masing nih yeeee… 😀 #justkidding* ” (Dokumen pribadi, gambar diambil pada saat Bakti Sosial di Panti Asuhan Permata Hati. Dipublish tanpa izin -dari kiri ke kanan – @chandraiman @ndraverne @masfajar. Mudah-mudahan pada ikhlas dipajang disini) Heheheee… 😛
**Diperbudak Oleh Gadget**

Beberapa hari yang lalu, Saya berada di sebuah minirmarket ketika ponsel saya berdering. Saya mengabaikannya, dan kasir berkata, “Teleponnya berdering Mas.”

Saya katakan : “Saya tahu, tapi sekarang saya sedang berbicara denga Anda J.”

Pikirkan tentang hal itu – kita diperbudak oleh gadget kita ?, Sudahkah kita menjadi ‘involuntary responders‘ ?

Kita harus mulai membuat pilihan sadar tentang bagaimana dan kapan kita terlibat dengan gadget kita. Teknologi ada untuk melayani kita dengan harapan memperbaiki kehidupan kita. Tapi sekarang tampaknya kitalah yang melayani teknologi.

Beberapa cara sederhana untuk mengurangi “kemesraan” dengan gadget :

  • Memutuskan untuk tidak membawa handphone saat pergi ke restoran dengan pasangan atau relasi. Ini mungkin terlalu berlebihan, tapi ini akan membawa kita kembali ke jalur silaturahmi yang baik saat berbicara face-to-face tanpa gangguan. Jika berat untuk tidak membawanya, pastikan handphone dalam keadaan mati.
  • Putuskan untuk meletakkan handphone dibagian yang sulit dijangkau di mobil jika Anda sedang mengemudikan mobil. Dengan cara itu tidak hanya menahan diri dari ‘godaan’ selular,tapi juga untuk menghindari kecelakaan di jalan raya. Berlaku juga saat mengendarai sepeda motor.
  • Nonaktifkan 1 hari dalam seminggu. Ini bisa dilakukan ketika kita berharap 1 hari penuh bisa berkumpul bersama keluarga, dan menghabiskan hari-hari untuk bertamasya dengan mereka.
  • Memutuskan bahwa ketika sedang dengan seseorang, Anda tidak akan menjawab telepon. Baik itu untuk berbicara atau membaca pesan. Orang yang berada dengan kita saat ini layak mendapat perhatian penuh. Ini tidak harus selalu dilakukan, tapi jika dilakukan dengan terbiasa kita akan mendapatkan ‘kembali’ kesadaran untuk tidak multi-connecting. Cukup diri kita saja yang merasakan *bête *saat orang yang berbicara dengan kita pandangannya sibuk membaca pesang singkat, atau malah menjawab panggilan telepon.
  • Memutuskan untuk menghabiskan lebih sedikit waktu dengan screen gadget dan menggunakan waktu lebih aktif unutuk terlibat dalam kehidupan nyata. Cobalah pergi ke luar dan melihat bunga-bunga, laut, matahari terbenam, dan lain sebagainya. Insya Allah kita akan menjadi lebih sadar tenatng waktu yang berkualitas.

Moderasi dan kesadaran

Ini semua tentang moderasi dan kesadaran bagaimana kita memilih untuk menghabiskan waktu kita. Ini tentang membuat keputusan bagaimana kita ingin teknologi menjadi bagian dari hidup kita, bukan kita menjadi bagian dari longsoran besar kemajuan teknologi.

Kita manusia menciptakan teknologi dan terus menciptakan lebih dan lebih, marilah kita juga memastikan bahwa kita sedang menciptakan seusatu yang baik, kehidupan yang bermakna dimana orang masih nomor satu.