Sudah lama sekali saya ingin menemukan satu pembelajaran tentang momentum dan waktu yang bisa dipahami secara mental dan mudah dimengerti dengan akal. Banyak memang ilmu-ilmu yang menjabarkan tentang momentum dan waktu, terutama dalam pembelajaran  ilmu fisika dan lebih populer lagi apa yang dijabarkan oleh Einstein dalam teori relatifitasnya. Terus terang, daya serap pemikiran saya belum bisa mengkonversikan dari apa yang dikatakan oleh ilmu pasti tentang waktu menjadi sebuah pembelajaran mental yang menjadi motivasi diri.

Alhamdulillah, semalam saya mampir ke blognya Om Bagus HJ, dan sungguh luar biasa, melalui artikelnya yang berjudul “Bank Waktu” mulai membuka jalan pemikiran saya untuk terus menggali pembelajaran tentang waktu. Beranjak dari artikel Om Bagus tersebut, sayapun memberanikan minta izin kepada beliau untuk membuat artikel yang dasar referensinya beranjak dari artikel beliau, dan alhamdulillah dengan kemuliaan hatinya Om Bagus mengizinkannya. Terimakasih banyak ya Om… 🙂

Satu hal yang mulai tumbuh dalam pemikiran saya setelah membaca artikel Om Bagus, saya berasumsi bahwa *“Waktu adalah salah satu harta yang paling berharga bagi kita selain aqidah dan kesehatan, dan waktu adalah harta yang sudah ada dan akan selalu ada dari semenjak kita lahir hingga kita menutup usia, waktu juga merupakan modal awal kita untuk meraih kesuksesan di dunia dan akherat”. *Ketika kita dilahirkan, kita langsung berhubungan dengan waktu, waktu dimana Allah menakdirkan kita untuk lahir dan menjadi penghuni bumi. Semenjak kita lahir, tidak mungkin rasanya kita berpisah dengan yang namanya dimensi waktu.

Dalam surah Al-Maa’idah ayat 110, Allah SWT berfirman :

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.”

Enam kali Allah SWT mengingatkan sebuah momentum waktu pada ayat diatas. Selain itu dalam Surah Al-Israa’ ayat 78 Allah SWT berfirman :

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”

Surah Yunus ayat 11 :

“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk”

Dan Surah-surah serta ayat-ayat lainnya.

Begitu banyak Allah memperingatkan kita tentang waktu. Sungguh luar biasa makna luas yang terkandung didalam waktu. Seringkali kita abai terhadap waktu, padahal waktu tidak pernah menunggu, waktu tidak pernah kembali atau berputar kebelakang, waktu tidak pernah berhenti, sekalinya Ia berhenti maka musnahlah semuanya.

Saya sering beranggapan (mudah-mudahan tidak keliru, seandainya keliru mohon diluruskan) bahwa sejatinya waktu itu tidak memiliki satuan ukuran semisal jam, menit dan detik. Kita bisa saja membuat dalam satu hari menjadi 48 jam, 1 jam = 30 menit, dan 1 menit = 60 detik. Mau dihitung dalam satuan apapun waktu tidak akan marah, ia tidak akan protes. Karena sebetulnya waktu akan terus berjalan dengan sangat halus tanpa hentakan metronom. Sedangkan satuan-satuan waktu itu sendiri ada lebih cenderung sebagai momentum.

Momentum-momentum inilah yang kemudian menjadi pengukur betapa banyaknya lalai kita terhadap waktu. Suatu saat, waktu akan bersikap seperti  pasangan kita. Coba saja Anda menyiakan-nyiakan pasangan kita, bersikap acuh tak’ acuh terhadap pasangan kita, tidak memperdulikan pasangan kita. Maka pasangan kitapu pasti akan marah. Demikian juga dengan waktu, begitu banyak kita melalaikannya, maka bersiap-siaplah kita menunggu waktu untuk memberikan pembalasan atas kelalaian, ke acuhan dan ketidakpedulian kita.

Mengutip dari artikel “Bank Waktu” Om Bagus HJ, untuk memahami nilai setiap momentum waktu paling tidak kita bisa berkaca dari pengalaman disekitar kita, atau mungkin yang kita alami sendiri. Sebagai contoh ;

**Untuk menyadari nilai Satu Tahun, tanyakan kepada mereka yang gagal lulus ujian sekolah, dan harus mengulang setahun lagi. **Mungkin akan berbanding terbalik antara 3 tahun masa sekolah dengan 1 tahun masa mengulang akan cenderung terasa lebih lama yang 1 tahun. Sebab apa ?, sebab kita lalai dalam masa yang 3 tahun tersebut.

**Untuk menyadari nilai Satu Bulan, tanyakan kepada seorang ibu yang melahirkan bayinya secara prematur. **Persalinan secara prematur merupakan proses persalinan yang cukup beresiko, tidak hanya untuk sang buah hati tapi juga untuk  sang ibu. Dan andaikata Sang Ibu diberi kesempatan untuk melahirkan di usia kandungan normal (37 atau 38 pekan), mungkin resikonya lebih kecil dan proses persalinan bisa berlangsung secara normal. Sungguh berarti bukan nilai dalam satu bulan tersebut ?

**Untuk menyadari nilai Satu Minggu, tanyakan kepada editor berita mingguan atau anak sekolah yang lupa mengerjakan PR di minggu kemarin. **Hemh.. seminggu ngapain aja ?, sampai-sampai tidak bisa menyisihkan waktu beberapa menit untuk mengerjakan PR ?. Sekarang sudah waktunya untuk dikumpulkan, dan itu artinya tidak akan ada nilai pada buku tugas yang masih kosong melongpong.

**Untuk menyadarai nilai Satu Jam, tanyakan kepada yang sedang jatuh cinta, yang rindu untuk bertemu. **Kesal sekali rasanya kalau janjian mau ketemuan, tapi sudah satu jam belum datang juga. Kadang bukan cuma kesal karena tidak tepat waktunya sang pasangan, tapi juga karena rasa rindu yang sudah menggebu-gebu. Satu jam bisa serasa satu hari, satu malam bisa serasa satu minggu.

**Untuk menyadari nilai Satu Menit, tanyakan kepada mereka yang ketinggalan kereta. **Bukan main kesalnya, begitu sampai di stasiun kereta api, ternyata kereta yang akan doitumpangi sudah berangkat di satu menit yang lalu. Kurang lebih kita akan mengatakan “Andaikan saya lebih cepat lagi satu menit”.

**Untuk menyadari nilai Satu Detik, tanyakan kepada mereka yang nyaris celaka. **Terlambat satu detik saja Anda meloncat, mungkin Anda sudah tidak sedang membaca artikel ini . Karena persis begitu Anda meloncat kereta dari arah timur wussshh…!!! melaju dengan kencang diatas rel yang anda lalui.

Untuk menyadari nilai Seper Seribu Detik, tanyakan kepada mereka yang berjuang memperebutkan medali Olimpiade. Mengingatkan saya dengan Usaint Bolt pada Olimpiade 2008 di Beijing, dengan selisih sepersekian detik dari lawan-lawannya akhirnya Bolt berhasil meraih medali Emas pada lari cepat jarak 100 meter. Andai saja waktu itu dia mengendurkan sedikiiiiiiit saja letupan ototnya, mungkin dia akan merasakan penyesalan seumur hidup.

Berkaca dari hal-hal tersebut, mudah-mudahan bisa kita fahami bahwa dalam setiap sepersekian detik selalu ada momentum untuk sukses. Selebihnya kembali kepada diri kita sebagai mahkluk yang diberikan kebebasan untuk memilih. Mau jalan menuju sukses atau menuju gagal ?. Sukses dan gagal biasanya bermula dari persoalan kemampuan diri dalam memanfaatkan dan memenej *Saldo Waktu *(kesempatan) yang Allah berikan.

Baik, mudah-mudahan artikel ini bisa bermanfaat untuk kita semua. Apa yang salah itulah kelemahan diiri saya, dan apa yang benar itulah kekuasaan dan kesempurnaan Allah SWT. *Special Thanks *buat Om Bagus HJ, atas referensinya yang luar biasa. Tetap, Salam Penasaran !