Siapapun tentu pernah “berkenalan” dengan yang namanya menyesal. Menyesal adalah sesuatu yang identik dengan rasa kecewa yang diakibatkan perasaan salah dalam menentukan pilihan. Kata “perasaan” yang saya garis bawahi menggambarkan sesuatu yang relatif. Salah dan benar kadangkala relatif ketika kita tidak pernah tahu bahwa apabila kita memilih yang lainpun bisa jadi efeknya malah lebih buruk, namun benar dan salah sebetulnya sesuatu yang mutlak ketika kita bersandar pada aturan yang digariskan Allah SWT.

Rasa menyesal mungkin merupakan sesuatu yang wajar ketika kita disandingkan dengan sifat manusiawi. Tapi yang menjadi masalah adalah ketika rasa penyesalan tersebut tidak urung pergi dari pikiran kita. Ia menggelayuti disemua sudut otak kita, seolah pikiran positif yang lainnya tidak diberi ruang.

Alangkah lebih baiknya kalau sudut-sudut otak kita yang dipenuhi rasa penyesalan itu kita kosongkan sedikit saja, kemudian kita isi dengan : “Bisa jadi kalau tidak begini, keadaanya bisa jauh lebih buruk !”. Yups, yang saya maksud adalah *positive thinking *pada situasi dimana saat ini kita berada.

Misalnya begini :

[box] Disatu waktu yang sudah berlalu, saya sempat menyesali sebuah kesalahan saya (yang bisa jadi sebetulnya itu keputusan yang tepat) dalam menentukan satu dari dua tempat yang memberi kesempatan saya bekerja. Tempat bekerja yang saya pilih, dikemudian waktu tidak seperti yang saya bayangkan saat sebelum saya benar-benar memutuskan bekerja ditempat itu. Kemudian, saya sempat “membuang waktu” dengan berkhayal kembali kebelakang “seandainya saja dulu saya memilih tempat bekerja yang itu (yang tidak saya pilih), mungkin situasinya bisa jauh lebih baik !”.[/box]

Beberapa waktu kemudian, saya harus menyesali penyesalan itu tadi, jadi ibarat minus dikali minus sama dengan positif (- x – = +). *Kenapa bisa demikian ?, *

Setiap orang yang beragama (apapun agamanya), mayoritas mempercayai bahwa hidup ini penuh dengan skenarionya Tuhan, sedangkan masing-masing kita adalah aktor untuk peran yang harus kita mainkan. Berawal dari tempat bekerja (yang sempat saya sesalkan) tersebut ternyata banyak hal positif yang saya rasakan (tentunya jika mau mengambil pelajar hal positif tersebut). Antara lain :

  • Saya menjadi kenal dengan orang-orang yang baik, yang sampai hari ini meskipun saya tidak lagi kerja disana mereka tetap bisa menjadi teman bahkan sahabat yang baik bagi saya.
  • Ada ilmu baru yang saya dapatkan yang sebelumnya sama sekali tidak saya ketahui. Saya percaya bahwa situasi yang baru itu penuh pelajaran yang berharga, yang mungkin sebelumnya tidak pernah kita ketahui. Dan itu menunjang untuk saya melangkah pada proses selanjutnya, sampai saat ini dan mungkin terus berlanjut.
  • Sedikit banyaknya, pengalaman dari tempat kerja tersebut telah membawa saya untuk melangkah ke situasi yang baru juga, bertemu dan kenal dengan orang-orang yang baik dan berawasan luas, yang saya rasa itu tidak akan terjadi kalau saja dulu saya “tidak salah” memilih tempat kerja. Artinya, tempat saya bekerja yang pernah saya sesalkan tersebut memberi peran sebagai “batu loncatan” hidup. Mungkin itulah yang disebut “efek domino” kehidupan.

Soal sesal-menyesal tentu bukan masalah pekerjaan saja. Pernahkah sobat-sobat merasa menyesal karena telah dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga sobat saat ini ?. Kalau pernah mungkin masih bisa dimaklum, tapi kalau masih, wah mesti banyak-banyak istighfar sobat. Hehehehee…

Tapi terus terang, saya pernah mendapati seorang teman yang berpikir demikian (Alhamdulillah ya Allah, saya tidak pernah dan jangan sampai pernah). Saya tidak sedang mempergunjingkan teman saya tersebut, tapi saya lebih ingin kita bersama-sama mengambil hikmahnya.

Istilah *“rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput kita” *tentu tidak asing lagi di telinga dan mata kita. Tapi meskipun tidak asing lagi, ada satu hal yang bisa kita runut pelajarannya. Tida semua rumput yang terlihat lebih hijau itu benar-benar berbeda warna, bisa jadi karena faktor cahaya, ketebalan, dan kemiringan. Artinya apa ?, kadang sesungguhnya pandangan kita itu tertipu. Sama tertipunya ketika kita melihat seolah-olah kondisi keluarga orang lain lebih baik, padahal keluarga kita sendiri bisa jadi sebetulnya lebih penuh kebahagiaan, meskipun sederhana.

Kembali ke inti masalah sesal menyesal.

Bahwa tidak semestinya kita larut dalam rasa penyesalan yang begitu mendalam, apalagi *lebay *!. Kalau sudah terlanjur menyesal, cukup sekali itu saja, paling tidak dalam satu persoalan. Tidak perlu panik dengan akibat yang terjadi, karena dalam hidup, hukum sebab akibat itu selalu ada, konsekuensi atas pilihan itu tidak mungkin tidak terjadi.

Hal terpenting dari sebuah penyesalan, lekaslah memperbaiki track jalur kita. Kalau merasa menyesal tapi tidak pernah memperbaikinya apalagi malah terkungkung didalam penyesalan itu, hati-hati kita bisa disamakan dengan keledai.

Cukup sekali saja menyesalannya, selanjutnya terus berproses menuju arah yang lebih baik. Apa yang kita peroleh itulah yang terbaik untuk kita, dan bisa jadi lebih baik dibanding yang orang lain peroleh. Percayalah, Allah itu punya skenario positif untuk kita, selanjutnya tinggal kitanya mau jadi aktor yang patuh atau tidak. Wallahu’alam, mohon maaf atas segala kekeliruan pada opini saya kali ini. 🙂