Benar-benar  hancur lebur, bencana tersebut datang tanpa permisi, menghancurkan segala yang ada, meluluhlantahkan apa yang sudah tertata dan meruntuhkan apa yang telah dibangun. Semuanya terjadi begitu cepat, begitu singkat. Tidak ada ruang dan kesempatan walaupun hanya sejenak untuk berkemas.

Yang tersisa kini hanyalah tinggal puing-puing, yang entah bagian mana yang masih bisa dihidupkan dan menghidupkan. Benar-benar tiada ampun…. Ingin rasanya meneteskan air mata ini, tapi sungguh aku tak ingin menambah luapan emosi dengan setetes air jiwa yang begitu berharga, karena hanya tinggal airmata inilah yang mungkin masih berharga. Berharga… disaat aku meratap, menangis dan bersujud memohon ampun dan pertolongan dihadapan sang Khalik.

Ku coba untuk menenangkan diri, hati dan emosi. Sesekali ku tarik nafas sedalam-dalamnya, lalu kuhembuskan sekaligus untuk sekedar melepas rasa berdebar-debar dan terenyuh di dalam dada. Bersyukur Allah masih melindungiku dengan keimanan, hingga bibir dan hatiku masih bisa berucap “Astagfirullah…”.

Terus menerus ku yakinkan hati bahwa semuanya masih bisa dimulai atau bahkan dilanjutkan, sesekali hatikupun terasa dibimbing oleh para malaikat Allah dalam menunaikan tugasnya, bahwa “aku tidak sendiri”, banyak orang lain yang bernasib sama atau bahkan pernah bernasib sama.

Harapan dan rasa putus asa berkecamuk kerasa didalam diri, jiwakupun sepertinya dalam tarik menarik antara iblis dan malaikat, antara jalan yang bathil dan haq. Namun, lagi-lagi sebungkus harapan datang dan menghampiri mukaku. “Hai, kamu !. Kau tidak akan pernah tahu kapan engkau akan mati, selayaknya engkau tidak pernah tahu selama didalam kandungan ibumu kapan engkau akan dilahirkan. Dan engkau tidak pernah tahu pula kapan engkau mencapai puncak kesuksesan, tapi engkau akan tahu pasti kapan engkau akan jatuh kedalam lubang kegagalan, yaitu disaat engkau lalai dan tidak berpegang teguh kepada Allah SWT”.

Ku harus bangkit, aku harus semangat. Ku kumpulkan puing-puing yang hancur, mencari  jalan bagaimana caranya untuk memanfaatkan kembali puing-puing yang ada tersebut. Tidak mungkin memang untuk menyatukan dan membentuk puing-puing tersebut 100% ke bentuk semula, tapi masih mungkin untuk menjadikannya 100% sebagai bentuk baru yang berebeda.

Kini, perlahan-lahan puing-puing tersebut terus ku coba satukan kembali, sambil berpikir mencari bentuk baru sekaligus berproses menghilangkan rasa trauma yang masih sering muncul secara tiba-tiba.

Kawan, do’akan agar ku dapat menyatukan kembali puing-puing yang berserakan tersebut agar ku dapat merajut kembali hari-hari esokku…