Ada seorang kawan yang secara tampak mata ia dikenal kurang baik kelakuannya. Mabuk iya, judi juga iya. Kenapa saya bilang tampak mata ?, karena saya tidak pernah tahu apa yang dia lakukan saat tidak ada mata lain yang melihat dirinya, kecuali Tuhan dan dirinya sendiri. Bisa jadi disaat orang lain tak melihatnya dia melakukan hal yang lebih baik, tapi entahlah… sekali lagi hanya Tuhan dan dirinya yang tahu.

Yang menarik lainnya adalah status-status di akun facebooknya. Kenapa ?, isinya serba positif. Tidak perlu saya sebutkan siapa dia, tapi yang pasti nanti diakhir tulisan ini saya akan berikan gambaran siapa dia.

Setiap apa yang ia tuliskan di dinding facebooknya jarang sekali lepas dari kategori nasihat, filosofi, hikmah, religius, dan lain sebagainya yang kalau kita simpulkan itu mungkin itu bisa disebutkan “status kebaikan”.

Terus, ada yang salah ?

Bagi saya pribadi tidak salah dan juga tidak masalah, tapi secara umum tidak sedikit dari kita kalau ada orang yang amoral menyampaikan tentang kebaikan maka dia akan dianggap munafik. Betul kan ?

Wajar pula memang kalau kita punya pemikiran dan penilaian demikian, toh di agama sendiri sudah dijelaskan tentang definisi-deifinisi munafik. Tapi mohon maaf sekali, saya tidak akan berbicara dari sisi agamanya, melainkan lebih cenderung kepada sisi opini saya pribadi yang mudah-mudahan tidak keluar dari konteks kebenaran agama. Jadi mohon maaf kalau keliru, dan saya bersedia untuk dikoreksi dan diluruskan.

Kembali ke topik !

Saya sendiri sempat mempunyai pikiran dan penilaian yang sama tentang kawan diatas “ah, munafik lho !”.

Saya benar-benar terbius oleh pemahaman yang merasuk secara halus “jangan lihat apa yang dikatakannya, tapi lihat siapa yang mengatakannya”. Padahal mungkin seharusnya “jangan lihat siapa yang mengatakannya, tapi lihat apa yang dikatakannya”.

Penilaian saya mulai berubah, ketika saya coba menyampaikan pesan (yang saya rasa itu kebaikan) di dinding facebook dan juga di blog ini.

Sudahkah saya seperti pesan kebaikan yang saya sampaikan ?

Jawabannya adalah belum.

Lalu kenapa berani-beraninya saya seperti yang *sok-sok-*an mengatakan tentang kebiakan ?

Pikiran saya mengarahkan saya pada satu pendapat :

[box]

“Kalau untuk menyampaikan kebaikan saya harus menunggu menjadi manusia yang sangat baik, saya tidak tahu entah sampai kapan saya baru bisa menyampaikannya, dan sayapun tidak tahu cara mengukurnya. Bisa jadi seumur hidup saya tidak menyampaikan satu kebaikan apapun. Mungkin berusaha memperbaiki diri sambil menyampaikan kebaikan bisa jadi pilihan yang tepat”.

[/box]

Dari pemikiran tersebut, kembali teringat ke sosok kawan diatas. Tanpa perlu menebak “mungkin diapun memiliki pendapat yang sama dengan pendapat saya barusan”, tapi sepertinya saya punya alasan yang jauh lebih tepat untuk tidak menganggapnya munafik.

Pelajaran lainnya buat saya adalah kurang lebih ada 5 hal :

  • ***Pertama, ***ketika kita menyampaikan kebaikan (meskipun kita belum seperti yang kita sampaikan) maka jadikanlah itu sebagai cambuk itu diri kita sendiri agar punya *self control *dari diri sendiri.
  • ***Kedua, ***jadikanlah apa yang kita sampaikan tersebut sebagai pelecut supaya kita sendiri menjadi terus lebih baik dan tidak berperilaku yang bersifat kontra dengan kebaikan yang telah kita sampaikan.
  • ***Ketiga, ***Sepertinya menyampaikan perkataan yang baik masih jauh lebih baik  ketimbang menyampaikan perkataan yang sama buruknya atau lebih dari perliaku kita.
  • ***Keempat, ***kurangi atau bahkan hilangkan negatif thinking terhadap orang lain. Karena, banyak hal yang tidak kita ketahui ketika dia sedang sendiri di sepertiga malam, dan di saat-saat siapapun tidak ada yang melihatnya. Bisa jadi dia tidak seburuk yang kita kira. Setiap orang mungkin punya catatan kehidupan yang negatif, tapi setiap orang mempunya hak untuk merubahnya menjadi positif. Dan yang terpenting, kita tidak pernah tahu nilai spesial apa yang Tuhan berikan untuk dia.
  • ***Kelima, * **teteeeep… sampaikanlah kebaikan walau cuma satu ayat. Tidak perlu khawatir orang akan menilai kita munafik, tapi lebih khawatirlah ketika kita tidak berguna sama sekali.

Demikianlah sobat, sedikit opini saya yang mudah-mudahan bisa ada nilai benar dan baiknya. Saya tidak bermaksud mengarahkan siapapun untuk sama dengan opini saya. Penilai munafik atau tidaknya kebaikan yang disampaikan setiap orang mungkin tetaplah milik Tuhan, kecuali pada beberap hal yang Tuhan tampakan betul untuk kita. Yang terpenting adalah kita berusaha terus lebih baik dan lebh berguna, minimal dari lisan dan tulisan kita.

Satu lagi, diatas saya sudah berjanji akan memberikan gambaran siapa kawan yang dimaksud diatas. Kawan yang saya maksud diatas sebetulnya adalah fiktif, ya sepenuhnya fiktif, alias perekaan saya sendiri walaupun mungkin tidak menutup kemungkinan sebenarnya ada. Jadi *clear *ya… 🙂

[box type=”info”]

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah:216)

[/box]

Sekian, Wallahu’alam.