Minggu 27 Maret 2011, hari yang bersejarah bagi saya yang disertai  dengan proses penelusuran jejak-jejak sejarah perjuangan bangsa.

Setelah beberapa tahun kehidupan saya bisa dibilang vacum tidak ada kegiatan terbuka yang diikuti, saya mencoba untuk aktif kembali, mencairkan catatan-catatan pikiran yang mulai membuka, melebarkan celah-celah sudut pandang yang mulai menutup rapat, (wahh… bahaya !). Setelah saya coba melakukan pendekatan, sharing informasi, bertukar ide dan gagasan, ok akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dengan Komunitas Blogger Benteng Cisadane (KBBC). Singkat cerita, sayapun mengikuti Kopi Darat alias Kopdar pada tanggal 27 Maret 2011, dan ini adalah Kopdar pertama saya bukan hanya di KBBC tetapi juga semenjak saya berinterkasi dengan dunia maya alias internet. Disamping karena keterbatasan waktu bebas saya, juga karena saya melihat unsur manfaat yang luar biasa, selain dari menambah banyak teman dan blogging-nya itu sendiri tetapi juga ada kegiatan lain yang setiap pelaksanaanya kaya akan wawasan dan pengembangan potensi diri.

Untuk Kopdar yang pertama kali saya ikuti pesertanya memang tidak banyak, tapi bagi saya secara kualitas itu lebih dari cukup. Bagaimana tidak, secara pengalaman dan wawasan sudah terpenuhi mulai dari yang paling junior (Ramy Dhia Humam kelas 1 SMA) sampai yang paling senior (Om Bagus HJ, Doktor Peniliti LAPAN). Nahhh… bisa kebayangkan kalau Ramy ada PR tentang yang ada kaitannya dengan dunia antariksa bisa minta diajari sama Om Bagus, heheheeeee…. :D.

*Opppps… *maaf, intronya kejauhan nih, *ok, *kita kembali lagi ke pokok artikel.

Di acara Kopdar 27 Maret 2011 kemarin kami memutuskan 2 lokasi, yaitu Monumen Pertempuran Lengkong dan Taman Makam Pahlawan Seribu Serpong. Kopdar ko di Kuburan… ?, ya itulah bedanya sekaligus juga istimewanya, dan inilah yang disebut dengan “sudut pandang yang berbeda”.

Sebetulnya diacara kemarin, yang pertama kita kunjungi adalah Taman Makam Pahlawan Seribu, tapi disini saya akan membahas yang di Monumen Pertempuran Lengkong terlebih dahulu supaya lebih enak (mungkin) untuk diuraikannya.

Lokasi Monumen Pertempuran Lengkong

Secara teritorial, monumen ini terletak di Desa Lengkong Wetan, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang selatan. Untuk menemukan lokasi ini sebetulnya tidak terlalu sulit, namun hanya karena posisi monumen yang membelakangi jalan dan adanya gundukan tanah taman monumen jadi agak sedikit terhalang jika dilihat dari pinggir jalan. Jika Anda ada berencana kesana, patokannya cukup air mancur bundaran BSD kemudian pilih arah yang ke selatan (Jl. Pahlawan Taruna – Damai Indah Golf).

[![Lokasi Monumen Pertempuran Lengkong ](https://blog.rosid.net/content/images/2011/03/Monumen.png "Lokasi Monumen Pertempuran Lengkong ")](http://maps.google.co.id/maps?f=q&source=s_q&hl=id&geocode=&q=monumen+lengkong+serpong&aq=&sll=-6.286983,106.673963&sspn=0.038989,0.055189&g=lengkong+serpong&ie=UTF8&hq=monumen+lengkong&hnear=Serpong,+Tangerang,+Banten&ll=-6.279947,106.661174&spn=0.004874,0.010986&t=h&z=17)
Lokasi Monumen Pertempuran Lengkong
Monumen Pertempuran Lengkong diresmikan diatas tanah seluas 500 meter persegi pada tahun 1993 oleh Panglima ABRI (pada saat itu), yaitu Jenderal (Purn.) TNI Try Sutrisno. Berikut ini adalah potret monumennya, mohon maaf kalau gambarnya kurang bagus karena dimabil hanya menggunakan kamera ponsel beresolusi rendah.

Tempat ini dulunya didominasi oleh hutan karet, tepat disamping monumen terdapat 2 buah bangunan berdempetan yang dalam catatan sejarahnya merupakan gudang senjata pasukan Jepang. Secara fisik bangunan ini masih cukup baik namun secara fungsional cenderung tidak jelas. Bangunan yang bergaya arsitektur Betawi (kebaya) ini sehari-harinya sering dijadikan sebagai tempat beristirahat para pekerja taman dan golf. Sedangkan pada tanggal 25 Januari dijadikan sebagai galeri terbuka yang diisi dengan foto-foto dan properti, hal ini bertepatan dengan peringatan Pertempuran Lengkong itu sendiri, karena setiap tanggal 25 Januari di Monumen ini juga diadakan upacara.

[![Bangunan Bekas Gudang Senjata Jepang](https://blog.rosid.net/content/images/2011/03/IMG0046A.jpg "Bangunan Bekas Gudang Senjata Jepang")](https://blog.rosid.net/content/images/2011/03/IMG0046A.jpg)
Bangunan Bekas Gudang Senjata Jepang
**Latar Sejarah Monumen**

Monumen Pertempuran Lengkong dibangun untuk mengenang sebuah peristiwa pertempuran yang terjadi di Desa Lengkong Wetan – Serpong, yang menyebabkan gugurnya 3 perwira dan 34 taruna.

Pertempuran itu sendiri terjadi pada tanggal 25 Januari 1946. Hal ini bermula ketika pada tanggal 24 Januari 1946 Mayor Daan Yahya menerima informasi bahwa NICA Belanda telah berhasil menduduki wilayah Parungpanjang – Bogor, dan akan segera merebut gudang senjata jepang yang berada di Lengkong Wetan – Serpong (belakangan diketahui bahwa NICA baru menguasai wilayah Parung pada bulan Maret 1946). Tindakan-tindakan provokatif yang dilakukan NICA Belanda itu dianggap akan mengancam secara serius kedudukan Resimen IV Tangerang dan Akademi Militer Tangerang yang baru saja didirikan pada bulan Novemver 1945.

Untuk mengantisipasi hal itu pihak Resimen IV Tangerang mengadakan rencana upaya tindakan pengamanan. Mayor Daan Yahya selaku Kepala Staf Resimen, segera memanggil Mayor Daan Mogot dan Mayor Wibowo, perwira penghubung yang diperbantukan kepada Resimen IV Tangerang.

Tanggal 25 Januari 1946 lewat tengah hari sekitar pukul 14.00, setelah melapor kepada komandan Resimen IV Tangerang Letkol Singgih, berangkatlah pasukan TKR dibawah pimpinan Mayor Daan Mogot dengan berkekuatan 70 taruna Militer Akademi Tangerang (MAT) dan delapan tentara Gurkha. Selain taruna, dalam pasukan itu terdapat beberapa orang perwira yaitu Mayor Wibowo, Letnan Soebianto Djojohadikoesoemo (Paman Prabowo Soebianto) dan Letnan Soetopo. Kedua Perwira Pertama ini adalah perwira polisi tentara (Corps Polisi Militer/CPM sekarang). Ini dilakukan untuk mendahului jangan sampai senjata Jepang yang sudah menyerah kepada sekutu diserahkan kepada KNIL-NICA Belanda yang waktu itu sudah sampai di Sukabumi menuju Jakarta.

Setelah melalui perjalanan yang berat karena jalannya rusak dan penuh lubang-lubang perangkap tank, serta penuh barikade-barikade, pasukan TKR tersebut tiba di markas Jepang di Lengkong sekitar pukul 16.00. Pada jarak yang tidak seberapa jauh dari gerbang markas, truk diberhentikan dan pasukan TKR turun. Mereka memasuki markas tentara Jepang dalam formasi biasa. Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo dan taruna Alex Sajoeti berjalan di muka dan mereka bertiga kemudian masuk ke kantor Kapten Abe. Pasukan Taruna MAT diserahkan kepada Letnan Soebianto dan Letnan Soetopo untuk menunggu di luar.

Gerakan pertama ini berhasil dengan baik dan meyakinkan pihak Jepang. Di dalam kantor markas Jepang ini Mayor Daan Mogot menjelaskan maksud kedatangannya. Akan tetapi Kapten Abe meminta waktu untuk menghubungi atasannya di Jakarta, karena ia mengatakan belum mendapat perintah atasannya tentang pelucutan senjata. Ketika perundingan berjalan, rupanya Lettu Soebianto dan Lettu Soetopo sudah mengerahkan para taruna memasuki sejumlah barak dan melucuti senjata yang ada di sana dengan kerelaan dari anak buah Kapten Abe. Sekitar 40 orang Jepang disuruh berkumpul di lapangan.

Kemudian secara tiba-tiba terdengar bunyi tembakan, yang tidak diketahui dari mana datangnnya. Bunyi tersebut segera disusul oleh rentetan tembakan dari tiga pos penjagaan bersenjatakan mitraliur yang tersembunyi yang diarahkan kepada pasukan taruna yang terjebak. Serdadu Jepang lainnya yang semula sudah menyerahkan senjatanya, tentara Jepang lainnya yang berbaris di lapangan berhamburan merebut kembali sebagian senjata mereka yang belum sempat dimuat ke dalam truk.

Dalam waktu yang amat singkat berkobarlah pertempuran yang tidak seimbang antara pihak Indonesia dengan Jepang, Pengalaman tempur yang cukup lama, ditunjang dengan persenjataan yang lebih lengkap, menyebabkan Taruna MAT menjadi sasaran empuk. Selain senapan mesin yang digunakan pihak Jepang, juga terjadi pelemparan granat serta perkelahian sangkur seorang lawan seorang.

Tindakan Mayor Daan Mogot yang segera berlari keluar meninggalkan meja perundingan dan berupaya menghentikan pertempuran namun upaya itu tidak berhasil. Dikatakan bahwa Mayor Daan Mogot bersama rombongan dan anak buahnya Taruna Akademi Militer Tangerang, meninggalkan asrama tentara Jepang, mengundurkan diri ke hutan karet yang disebut hutan Lengkong.

Taruna MAT yang berhasil lolos menyelamatkan diri di antara pohon-pohon karet. Mereka mengalami kesulitan menggunakan karaben Terni yang dimiliki. Peluru yang dimasukkan banyak yang tidak pas karena ukuran berbeda dan sering macet. Pertempuran tidak berlangsung lama, karena pasukan itu bertempur di dalam perbentengan Jepang dengan peralatan persenjataan dan persediaan pelurunya amat terbatas.

Dalam pertempuran, Mayor Daan Mogot terkena peluru pada paha kanan dan dada. Tapi ketika melihat anak buahnya yang memegang senjata mesin mati tertembak, ia kemudian mengambil senapan mesin tersebut dan menembaki lawan sampai ia sendiri dihujani peluru tentara Jepang dari berbagai penjuru.

Akhirnya 33 taruna dan 3 perwira gugur dan 10 taruna luka berat serta Mayor Wibowo bersama 20 taruna ditawan, sedangkan 3 taruna, yaitu Soedarno, Menod, Oesman Sjarief berhasil meloloskan diri pada 26 Januari dan tiba di Markas Komando Resimen TKR Tangerang pada pagi hari.

Pasukan Jepang bertindak dengan penuh kebengisan, mereka yang telah luka terkena peluru dan masih hidup dihabisi dengan tusukan bayonet. Ada yang tertangkap sesudah keluar dari tempat perlindungan, lalu diserahkan kepada Kempetai Bogor. Beberapa orang yang masih hidup menjadi tawanan Jepang dan dipaksa untuk menggali kubur bagi teman-temannya. Sungguh suatu kisah yang pilu bagi yang masih hidup tersebut. Dalam keadaan terluka, ditawan, masih dipaksa menggali kuburan untuk para rekan-rekannya sedangkan nasib mereka masih belum jelas mau diapakan.

Tanggal 29 Januari 1946 di Tangerang diselenggarakan pemakaman kembali 36 jenasah yang gugur dalam peristiwa Lengkong disusul seorang taruna Soekardi yang luka berat namun akhirnya meninggal di RS Tangerang. Mereka dikuburkan di dekat penjara anak-anak Tangerang, yang kini dikenal dengan Taman Makam Pahlawan Taruna. Selain para perwira dari Tangerang, Akademi Militer Tangerang, kantor Penghubung Tentara, hadir pula pada upacara tersebut Perdana Menteri RI Sutan Sjahrir, Wakil Menlu RI Haji Agoes Salim yang puteranya Sjewket Salim ikut gugur dalam peristiwa tersebut beserta para anggota keluarga taruna yang gugur. Pacar Mayor Daan Mogot, Hadjari Singgih memotong rambutnya yang panjang mencapai pinggang dan menanam rambut itu bersama jenasah Daan Mogot. Setelah itu rambutnya tak pernah dibiarkan panjang lagi.

[![Taman Makam Pahlawan Taruna - Tangerang](https://blog.rosid.net/content/images/2011/03/48724717.jpg "Taman Makam Pahlawan Taruna - Tangerang")](https://blog.rosid.net/content/images/2011/03/48724717.jpg)
Taman Makam Pahlawan Taruna – Tangerang

Daftar Perwira dan Taruna yang Gugur pada Peristiwa Lengkong

Perwira :

  1. Mayor Daan Mogot (Direktur Akademi Militer)
  2. Letnan Soebianto Djojohadikoesoemo (Polisi Militer)
  3. Letnan Soetopo (Polisi Militer)

**Taruna :
**

  1. Agoes Rafli
  2. Bachroedin
  3. Harsono Pramoegiri
  4. Martono
  5. Marsono
  6. Mat Doellah
  7. Memed Danoemihardja
  8. Mohammad Arsad
  9. Mohammad Ramli Achmad
  10. Oemar Ali
  11. R.M. Soedjono Djojohadikoesoemo
  12. R.M. Sasmito
  13. R. Brentel Soegito
  14. R. Santoso Koosman
  15. R. Soeseno
  16. Romadi
  17. Rudolf Maringka
  18. Sajid Mohammad
  19. Saleh Bachroedin
  20. Sarjanto Sarnoe
  21. Sasmito
  22. Sjamsir Alam
  23. Sjewret Salim
  24. Soebiatnto Harjo
  25. Soebandi
  26. Soegianto
  27. Soegito
  28. Soekadi
  29. Soekiswo
  30. Soemantri Martaatmadja
  31. Soerardi
  32. Soerjani
  33. Soewirjo Tjokrowigeni
  34. Zainal

Pada tanggal 7 Januari 2005, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu menetapkan Peristiwa Lengkong (25 Januari) sebagai Hari Bakti Taruna Akademi Militer. Hal itu dituangkan lewat Surat Telegram KSAD Nomor ST/12/2005

Source sejarah :* id.wikipedia.org*