Begitu saya ketik keyword “Bloger mati meninggalkan….” di beranda paman Google, ternyata banyak banget teman-teman blogger yang sudah menuliskan tema “kematian seorang blogger dan nasib blog-nya”. Tidak sedikit juga blogger yang sudah membayangkan nasib blog-nya setelah dirinya tidak lagi mampu memposting dan terbujur kaku seluas pusara. Dan istilah yang paling kental adalah “Gajah mati meninggalkan gading, Blogger mati meninggalkan posting”.

Ketika kita membayangkan manakala nanti ajal menjemput kita, kira-kira apa yang akan terjadi dengan blog kita ?, lalu bagaimana rekasi para pembaca setia blog kita setelah dalam hitungan waktu yang cukup lama tidak ada update posting terbaru ?. Sebagian akan mengira kalau kita sudah tidak aktif lagi menulis atau tidak lagi mengelola blog tersebut, dan sebagaian lagi mungkin blogger-blogger lain yang mengenal secara langsung diri kita akan merasa kehilangan.

Tapi bagaimana kalau Anda memiliki kawan seorang blogger kemudian kawan Anda tersebut betul-betul menutup usia dan Anda coba lihat blognya ? Apakah terasa masih hidup blog tersebut ?  atau mungkin serasa rumah kosong yang ditinggal meninggal oleh penghuninya ?

Apa reaksi Anda setelah membaca penggalan postingan berikut ini dari salah satu blog ? :

“Here it is. I’m dead, and this is my last post to my blog. In advance, I asked that once my body finally shut down from the punishments of my cancer, then my family and friends publish this prepared message I wrote—the first part of the process of turning this from an active website to an archive.

If you knew me at all in real life, you probably heard the news already from another source, but however you found out, consider this a confirmation: I was born on June 30, 1969 in Vancouver, Canada, and I died in Burnaby on May 3, 2011, age 41, of complications from stage 4 metastatic colorectal cancer. We all knew this was coming.

That includes my family and friends, and my parents Hilkka and Juergen Karl. My daughters Lauren, age 11, and Marina, who’s 13, have known as much as we could tell them since I first found I had cancer. It’s become part of their lives, alas.

…..”

Tau kah Anda ? itu adalah postingan terakhir dari** Derek K. Miller**berjudul **The Last Post, **Miller adalah seorang blogger asal British Columbia, Kanada. Diposting pada tanggal 4 Mei 2011. Selama 10 tahuan terakhir ia aktif sebagai blogger dengan mengelola penmachine.com, reputasinyapun cukup populer di British Columbia. Di blognya tersebut juga tertuang bagaimana perjuangan dia melawan penyakit kanker yang kemudian menjadi penyebab kematiannya.

[![Derek K. Miller](https://blog.rosid.net/content/images/2011/05/5475027764_42e511c547_m.jpg "Derek K. Miller")](https://blog.rosid.net/content/images/2011/05/5475027764_42e511c547_m.jpg)
Derek K. Miller
Postingan terakhir *“Aku telah mati dan inilah postingan terakhirku. Aku telah meminta keluarga dan temanku mempublikasikan pesan yang telah kupersiapkan ini”* merupakakan posting sekaligus pengumuman terkahir akan kisah hidupnya di blog yang sebelumnya sudah ia siapkan dan di posting oleh anggota keluarganya.

Kini Miller telah pergi, namun kesan yang ia tinggalkan di penmachine.com memberikan pelajaran yang berharga tentang apa dan bagaimana yang harus dilakukan oleh seorang blogger dengan blognya.

Dalam setiap kematian kita kurang lebih ada 3 hal yang akan memberi nilai amalan kita di akhirat kelak, yaitu amal perbuatan yang sholeh, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh. Dan berkaitan dengan aktifitas kita sebagai blogger, mudah-mudahan blog yang kita tinggalkan jika kelak kita menghadap Sang Khalik dapat menjadi bagian dari 3 perkara yang memberikan nilai amalan yang terus mengalir tersebut.

Semoga dalam setiap postingan yang kita muat ke dalam blog kita dapat memberikan nilai ilmu yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat baik di dunia maupun diakhirat, dengan kata lain mudah-mudahan kita dapat menjadikan ngeblog sebagai ibadah. Amin… ya Rob.