Tahukah kenapa kita tak perlu berkeluh kesah saat apa yang didapatkan tak seperti yang diharapkan ? karena siapa yang akan peduli dengan keluh-kesah itu?. Tak akan ada… satupun. Bahkan Allah sekalipun mungkin tidak menyukainya, karena kalau lah orang sabar disayang Allah, mungkin orang yang berkeluhkesah adalah sebaliknya. Meski logika kita tidak mampu mengukur cara Allah menilai kita, namun dengan logika itulah Allah memberi kita kesempatan untuk mengkadar diri.

Saat berkeluh kesah, harapan yang lepas dari tangan itu sedang asik bergumul dengan yang mendapatkannya.
Saat berkeluh kesah, orang lainpun sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih rumit dari apa yang kita rasakan.
Dan, saat-saat  berkeluh kesah seperti itu, maka akan datang sosok yang seolah-olah mempedulikan tapi akan menghancurkan jauh lebih dalam lagi, yaitu Setan. Waspadailah itu.

Nikmatilah apa yang sedang didapat dan dirasakan. Seperti saat sebatang jarum menusuk lengan untuk mengeluarkan darah dari dalam dirim, kemudian Allah menggantikannya dengan darah baru yang lebih segar. Itulah sepedih-pedihnya rasa sakit dalam kehidupan, selalu ada sesuatu yang baru yang sudah Allah siapkan agar diri kita menjadi lebih baik.

Apa yang akan terjadi jika saat jarum tersebut ditusukan, berontak ? Semuanya akan kacau. Darah berceceran dipakaian tanpa bisa dihilangkan nodanya. Tapi, jika dinikmati, semuanya akan terasa lebih baik dan berakibat menyenangkan. Nikmatilah apa yang sedang dihadapi, jangan memberontaknya atau keadaan akan jadi lebih buruk.

Kalau apa yang diperoleh saat ini adalah yang lebih layak, maka tanyakan “ada apa dengan diriku ?” pada diri sendiri. Perbaikilah… agar menjadi layak untuk memperoleh yang (bahkan) lebih dari sekedar yang diharapkan.