Waktu magrib baru saja berlalu, usai menunaikan kewajiban ku langsung berlari menuju loket tiket. Sedikit tergesa-gesa memang, karena kereta yang akan ku tumpangi sebentar lagi melaju. Penjaga tiketpun menyarankanku supaya lekas berlari karena kereta akan segera jalan. Saat ku akan naik, persis pintu kereta tersebut menutup. Hahhhh… hampir saja aku pasrah dan harus menunggu kereta selanjutnya yang entah akan tiba pukul berapa, aneh memang… kereta tidak macet seperti mobil tapi sering sekali ada gangguan. Namun saat itu sepertinya memang aku sedang sedikit beruntung, pintu kereta kembali terbuka. Aku baru ingat, kalau *Commuter Line *memang pintunya akan langsung kembali terbuka sekali setelah tertutup. Tanpa pikir panjang akupun langsung masuk melompat khawatir pintunya keburu menutup lagi.

Didalam kereta sedikit sepi, masih ada beberapa bangku kosong yang bisa ku tempati. Maklum, mungkin disaat jam tersebut  justru arah sebaliknya yang sedang padat.

Saat kereta singgah di Stasiun UI, seketika keretapun penuh sesak, jangankan berebut duduk, sudah mendapatkan pegangan tanganpun sepertinya sudah bersyukur sekali. Beruntunglah di *Commuter Line *sudah ada gerbong khusus perempuan yang bisa membuat perempuan lebih bisa sedikit tenang tanpa harus berdesakan dengan laki-laki.

Berdiri didepanku seorang pria berusia setengah baya, wajahnya penuh keringat, pandangannya kosong kearah kaca kereta, kaki kiri dan kanannya silih berganti ia jadikan tumpuan. Lelah dan pegal mungkin itulah yang ia rasakan, sementara tentang pandangannya yang terkesan kosong aku tak bisa memahami.

“Pak, silahkan gantian duduknya”. Sapaku sambil berdiri.

“Ah gak apa-apa dek, santai aja… santai aja…”

“Nggak pak, saya sudah dari tadi, gak apa-apa pak… gantian aja. Ayo pak.. ayo pak…”. Aku yakin, pada kenyataannya si bapak tersebut sudah sangat lelah, namun ia berusaha tetap bersahaja. Akhirnya setelah aku berdiri dan menempatkan diri di posisi dia, si bapak tersebutpun duduk dibangku bekas tempatku.

“Makasih banyak ya dek !” tukas si bapak penuh senyuman

“Owh iya pak sama-sama”.

Selang beberapa lama kemudian si bapak tersebut kembali menyapaku

“Mau kemana dek ?”

“Ke Tangerang pak”

“Lha emangnya kereta ini lewat ke Tangerang ?” tanya si bapak sedikit heran.

“Enggak pak, maksudnya saya ke Juanda baru disambung naik bis”.

“Ooooooh… saya kirain masuk stasiun Tangerang. Heheheheheee… Pulang kerja atau kuliah ?”

“Habis main aja pak”

“Main, silaturahmi, apa ngapel ???” tanya si bapak sedikit bergurau

“He he he… silaturahmi mungin sedikit lebih tepat pak”. Jawabku sambil balas senyuman si bapak

“Owh iya, namanya siapa ?, saya Rusli.” Si bapak tersebut yang kemudian ku kenal dengan nama Pak Rusli menyodorkan tangan. Sodoran tangan tersebutpun ku sambut dengan salam perkenalan.

“Saya Rosid pak”.

“Oh ya… ya… ya…  terimakasih banyak Mas Rosid”. (Pak Rusli menganggukan kepala sambil berjabatan tangan dengaku).

“Mas Rosid sudah berkeluarga ?”

“Sampai saat ini belum pak”

“O masih single toh ?”

“Kurang lebih begitulah kira-kira…”

Ha ha ha ha ha haaaa… kamipun tertewa kecil bersama-sama.

“Single bukan berarti jomblo to ?”

“Ya jelas bukan pa, single itu kan prinsip sedangkan jomblo itu nasib. Itu juga katanyaaaaa… sih pak”

“Hahahahaaaaaa…. yang pasti bukan kata Khalil Gibran kan ?”

Lagi-lagi kamipun tertawa kecil bersama-sama, suasana menjadi seikit cair. Mencairkan suasana hari saat itu yang terus membayangi isi kepala. Tidak perlu ditanya suasananya seperti apa, mungkin cukup aku dan Tuhan yang tahu.

“Nah terus kalau Mas Rosid yang mana, single apa jomblo ?”

“Waduh, saya perpaduan keduanya kayaknya”

“Hemmmmmm… rumit juga ya, tapi itu artinya sampean beruntung. Bernasib jomblo disaat punya prinsip masih pengen sendiri”.

“Ya nggak begitu juga pak, kalau prinsipnya belum mau punya pasangan sampai ada yang menerima kita apa adanya kan bisa juga single plus jomblo”. Jawab saya sabil sedikit tertawa kecil

“Bentar-bentar…. *belum mau punya pasangan sampai ada yang menerima kita apa adanya ???”. *Pak Rusli tampak merenungkan kalimat terakhir yang ku ucapkan.

“Berarti, kalau gak ada yang menerima kita apa adanya itu sama saja berpegang pada prinsip tapi juga terima nasib ya ?”

“Ya…. begitulah pak kira-kira. Ribed ya pak ?”

Sampai disini Pak Rusli terdiam, beliau diam sayapun  diam. Diamnya beliau bukan karena tidur, dari raut wajahnya tampak dia seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Tau nggak mas ?”

“Iya pak !”. Jawabku rada sedikit terkaget.

“Apa yang sampean bilang tadi mengingatkan pengalaman saya di 25 tahunan yang lalu.”

“Maksudnya  ?”

“Sewaktu masih bujangan dulu, saya pernah menyukai seorang perempuan. Saat itu saya benar-benar suka, benar-benar cinta. Bodohnya saya waktu saya tidak sadar diri kalau saya ini terlahir dari keluarga yang sangat miskin.

Saya terlalu percaya diri untuk mengungkapkan rasa cinta. Tidak peduli kanan – kiri, yaitu orang-orang yang mungkin bersaing dengan saya untuk mendapatan si perempuan tersebut. Tidak peduli juga depan – belakang, yaitu keluarga dan latar belakang si perempuan tersebut dan juga latar belakang dan keluarga saya. Pokok’e saya nekat.

Kenekatan saya nggak sia-sia mas. Si perempuan tersebut menerima saya sebagai pacarnya.

Petaka mulai muncul sewaktu saya tidak bisa mengimbangi cara hidup dia. Ya dia gak minta apa-apa emang mas. Tapi rasa cinta kita sama dia itu membuat kita kepengen jadi sosok yang seimbang dengan dia. Kalau seimbang kan paling tidak kalau jalan gak kaya majikan (dia) sama jongos (saya).”

“Terus pak ?”. Tanyaku penuh penasaran

“Akhirnya saya lelah sendiri mas. Kalau pacaran saja kaya begini gimana kalau menikah ?. Dan sampai menikahpun kayaknya gak mungkin, dan sampai saat itupun dia belum tahu tentang kondisi saya sebetulnya”

“Nah terus selama bapak ngimbangin itu gimana ?, pakai cara apa bapak ngimbanginnya ?

“Wah itu gak bisa saya jelasin mas, suram dah pokoknya. Saya sendiri nyesek kalau nginget masa itu”

“Lanjutin nih ya mas…”

“Iya pak”

“Ternyata apa yang saya perkirakan emang bener, begitu saya berterus terang sama dia akhirnya kitapun langsung bubar jalan mas. Mungkin kalau bubarnya karena dia sudah dibohongi rada sedikit terhormat kali ya mas, ya paling tidak ada harapan buat minta maaf atas kebohongan sayalah. Lha ini bubarnya asli karena saya kismin mas”

“Berawal dari situ saya mulai minder mas”

Kata “minder” disinilah mula sedikit menyinggung perasaanku. Kesinggung tapi semakin penasaran dengan kisah si bapak Rusli tersebut.

“Sejak itu… saya selalu berpikir lebih dari dua kali sampai akhirnya harus memendam setiap rasa suka terhadap perempuan. Meskipun yang nyatain cintanya duluan si perempuan lho mas”

“Ko bisa pak, justru itu kan enak pak ditembak duluan”

“Begini mas, sekarang saya mau tanya dulu sama sampen ; enak nggak kira-kira kita ditembak duluan kemudian juga diputusin duluan. Alasannya karena miskin. ?”

“Ya jelas enggak lah pak”

“Nah itu dia mas. Sewaktu dia menyatakan suka sama saya mungkin karena sebatas yang dia lihat dan dia dengar, bukan dengan yang dia ketahui. Suka itu gampang mas, tapi buat seperti yang sampean bilang tadi, * menerima apa adanya *itu belum tentu mas.”

“Terus sekarang bapak sudah berkeluarga ?”

“Alhamdulillah anak sudah tiga”

“Nah itu bisa punya istri pak ?, bisa nerima apa adanya dong tentunya ?. kasih ilmunya dong pak !.” Pertanyaanku yang asli rada nyeleneh.

“Entar mas… itu masih jauh, setelah melewati proses yang sangat panjang”

“Owhh.. oke deh pak”

“Kembali ke yang tadi ya. Sejak kejadian itu saya jadi beranggapan kalau orang miskin seperti saya ini dilarang jatuh cinta sama Tuhan”

“Maksdunya pak ?”. Pertanyaanku penuh penasaran memotong pembicaraannya.

“Sekarang begini mas, kalau saya menikah sama orang kaya itu sangat kecil kemungkinannya. Sekalipun terlaksana, mungkin saya dianggap rejeki yang buruk bagi keluarga si perempuan. Karena tidak sedikit orang yang menganggap bahwa jodoh bagi seorang perempuan itu tak ubanya rejeki. Meskipun mungkin anggapan tersebut tidak bisa dianggap sepenuhnya benar.

Kemudian seandainya saya menikah dengan orang miskin, sepertinya itu sama dengan memperberat program kerja pemerintah dalam memberantas kemiskinan mas.”

“Ha ha ha ha haaaa… bisa aja ah si bapak”.

“Beneran lho mas… Lebih diri itu, mungkin saya ini masih miskin hati, miskin  kepedulian, dan miskin kepala. Ketiga hal tersebut  saya rasa yang lebih berbahaya daripada miskin yang pertama.

Saya meyakini mas, kalau pasangan hidup itu adalah amanah buat kita. Dan tandanya Tuhan sayang sama kita itu Ia akan memberikan amanat sesuai dengan kekayaan (kemampuan) diri kita. Siapapun kepingin punya pasangan yang kaya akan kebaikan mas, tapi siapapun sering lupa memperkaya dirinya dengan kebaikan, baik itu hati, kepedulian, dan juga pikiran. Ketiga hal tersebut terpenuhi insya Allah kekayaan materi akan mengikuti”

Dari obrolan awal yang penuh canda gurau, sekarang saya menjadi sedikit termenung dengan begitu luar biasanya hikmah pengalaman yang dibagi dari seorang lelaki setengah baya yang saya jumpai di kereta Depok – Jakarta. Tanpa terasa kereta sudah singgah di stasiun Gambir dan Pak Ruslipun harus berpamitan dengan saya.

Pukul setengah dua belas malam saya baru tiba di Tangerang. Mata belum bisa terpejam, dimana saat bersamaan masih terpikirkan banyak hal yang penuh kesan selama seharian. Penuh hikmah dan insya Allah mengandung berkah.

Kisah dan kesan yang kali ini baru saja sempat aku ceritakan… Demikian sobat, semoga bermanfaat.

orang miskin dilarang jatuh cinta