Setidaknya, 5 kali dalam waktu 24 jam kita mengucapkan “Ihdina Shiratal Mustaqim” (seharusnya demikian sepanjang kita meyakini Islam sebagai agama yang dianut). *Ihdina Shiratal Mustaqim *(ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ),  ayat ke 6 pada Al-Qur’an surah Al-Faatihah, yang berarti “Tunjukanlah kami jalan yang lurus” adalah satu bentuk penghambaan kita terhadap Allah SWT dengan penuh harap mendapatkan arahan, bimbingan, petunjuk, dan pembeda mana yang benar dan mana yang salah, sehingga kita tidak salah dalam meniti jalan kehidupan.

Dari sudut mana kita menilai benar atau salahnya ?. Tentu saja dari sudut pandang Ke-*illahian. *Karena, hanya Dia yang paling benar. Tidak perlu kita bingung seperti apa sudut pandang-Nya, karena sudah jelas Al Qur’an ada sebagai firman-Nya yang diwahyukan sebagai arahan, bimbingan, petunjuk, dan pembeda mana yang baik dan buruk. Betapa Maha Pemurah dan Pengasihnya Ia, sebelum kita (yang terlahir sebagai generasi setelah para Nabi) meminta ditunjukkan jalan yang lurus, Ia sudah menurunkan panduan buat kita yang siapapun berhak mencetak-ulangnya secara bebas tanpa harus membayar royalti kepada-Nya.

Kebenaran yang relatif hanyalah dari sudut pandang manusia, tapi lagi-lagi perlu ditegaskan kalau kita tidak hidup untuk menghamba kepada manusia. Kita hidup untuk yang Maha Hidup, dengan segala aturan-Nya yang kalau sepenuhnya kita ikuti akan tercipta keteraturan.

Allah sudah memberi kita panduan untuk melangkah dijalan yang lurus, lalu apakah kita boleh berhenti mengatakan “Ihdina Shiratal Mustaqim” ?. Tentu saja tidak !. Ada banyak petunjuk lain (yang tidak lepas dari petunjuk di Al Qur’an) yang masih harus kita dapatkan sepanjang hidup kita, dan itu berarti setiap waktu kita harus tetap selalu meminta petunjuk kepada Allah.

Yang jadi pertanyaan kemudian adalah : Sudahkah kita menjalankan petunjuk yang Allah berikan ?.

Apa yang akan sobat rasakan ; ketika dimintai nasihat, tapi yang diberi nasihat tersebut tidak melaksanakannya dan meminta nasihat kembali (demikian terus berulang) ?. Mungkin sobat akan merasa dipermainkan. Lalu bagaimana dengan Allah ? (patut direnungkan)

Contohnya sederhana, seorang ibu meminta petunjuk kepada Allah supaya diberikan bimbingan dalam mendidik anaknya, tapi ketika Allah memberikan petunjuk :

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Q.S. Al Ahzab : 59)

tidak menjalankan petunjuk tersebut. Bukankah Al Qur’an sebagai petunjuk dari Allah SWT ?.

Sangat tidak lucu, ketika kita begitu berharap banyak akan petunjuk dari Allah tapi tidak sedikit petunjuk yang nyata malah kita abaikan bahkan kita tentang. Dibanding berjilbab penuh kesadaran dan kelimuan, malah lebih senang berpegang pada argumen : “Lebih baik tidak berjilbab, daripada berjilbab tapi sok suci”, yang tanpa disadari argumen tersebut hanya melahrikan kedengkian (sumber multi penyakit) didalam diri kita. Ini baru satu contoh, belum lagi masih banyak contoh lain yang bisa kita gali bersama tentang betapa naif-nya kita, minta petunjuk tapi tidak mau menjalankan petunjuk yang sudah ada.

Menegur Kemunkaran Dengan Hati = Selemah-lemahnya Iman, Kalau Membela ?

Kita tidak asing dengan hadist Rasulullah SAW :

“Barangsiapa di antara kamu melihat sesuatu kemungkaran, hendaklah berusaha mengubahnya dengan tangannya (termasuk dengan kekuasaan); jika tidak bisa, dengan mulutnya (menegur); jika tidak bisa, dengan hati (ingkar di dalam hati). Yang (terakhir) ini adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim dari sahabat Abu Sa’id al-Sudhry).

Bisa saja ada yang mengatakan : “Kalau bisa lebih dari sekedar dalam hati, *why not *?”, tapi faktanya mayoritas kita adalah pengecut, yah… sekali lagi pengecut. Rasa takut kita terhadap Allah hampir tidak pernah melebihi rasa takut kepada sesama manusia. Okelah, kalau kata “takut” terlalu ekstrim, mungkin bisa diganti dengan kata “malu”, yaitu ; rasa malu kita kepada Allah hampir tidak pernah melebih rasa malu kepada sesama manusia. Duh, tetap saja kita ini memang pengecut !.

Kalau menegur kemunkaran dengan hati saja adalah selemah-lemahnya iman, bagiamana dengan membela kemunkaran ?.

Saya tidak sedang mangkadar keimanan siapapun, termasuk diri sendiri. Tapi ini adalah satu titik balik pertanyaan yang bercermin kepada amal perbuatan kita dan hadist nabi diatas. Siapapun bisa saja merasa ragu atau tidak suka dengan hadist tersebut. Tapi lagi-lagi ini semakin mengerucut kepada keimanan, terutama Rukun Iman yang keempat (Beriman kepada Rasul-rasul Allah). Kita ragu terhadap sunah Rasul, berarti cacat pula rukun iman kita. Tidak kah ini logis ?.

Diputar-putar Oleh Keraguan

Saya berasumsi, bahwa sebetulnya tidak akan ada paradoks soal keimanan, seandainya saja tidak ada premis yang mengacaukannya. Yaitu potensi keraguan yang membuat pikiran dan tindakan kita seperti gamang. Salah satu contoh premis tersebut adalah seperti ketika coba-coba mengukur kekuasaan Allah dengan akal kita. Jelas saja ini keliru, bagaimana mungkin sebuah dimensi yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu coba kita jangkau oleh kemampuan otak kita yang sangat terbatas ?.

Keraguan ini mendorong kita untuk menghamba (atau justru menghujat) kepada Allah disaat kita berhadapan dengan banyak kesulitan, tapi disisi lain kita tidak pernah menjalankan aturan-Nya, yang sebetulnya ada sebagai jawaban atas keinginan kita untuk mendapat petunjuk jalan yang lurus dan bekal dalam menghadapi kesulitan. Kita meminta kepada-Nya, tapi kadang kita sendiri seperti tidak pernah memahami apa yang kita pinta. Kembali berpegang teguh kepada petunjuk-Nya adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan petunjuk-Nya.

Wallahu’alam…