Awalnya saya sama sekali belum terpikirkan hubungan yang mungkin ada (atau bahkan saya paksakan menjadi ada) antara membangun bangsa dengan membangun masjid, sampai akhirnya terjadilah peristiwa “lipat sajadah” yang kemudian menginspirasi saya untuk menulis artikel ini.

Bangsa manapun (tidak ditentukan) bisa membangun kehidupannya seperti membangun masjid. Kita bisa melihat bahwa hakikatnya atau selayaknya masjid bisa menjadi contoh filosofis dalam membangun bangsa, namun memang tidak semua masjid  memiliki makna filosofis demikian karena kadang tidak dibangun dengan “selayaknya”, contoh : ada seorang koruptor yang membangun masjid dari hasil korupsi, ini jelas sangat tidak layak dan tidak memiliki filosofi membangun bangsa.

Dibangun Dari Uang Halal

Disini mungkin akan muncul satu pertanyaan ; *“Bagaimana kalau membangun masjid dari uang haram ?”. *Kita bisa menjawabnya dengan satu kaidah umum “Innallaha thayyibun la yaqbalu illa thayyiban.” ( Allah adalah baik dan hanya menerima dari yang baik ).

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang mengumpulkan harta dari jalan yang haram, kemudian dia menyedekahkan harta itu maka sama sekali dia tidak akan memperoleh pahala, bahkan dosa akan menimpanya.” (HR Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban, dan al-Hakim)

Jelas, bahwa dihadapan Allah SWT kita tidak bisa “mencuci uang” hasil korupsi dan lain sejenisnya.

Demikian halnya dengan membangun bangsa, tidak akan suatu bangsa menjadi baldatun thoyyibatun warobbun ghofur, yaitu bangsa yang adil dan makmur, serta diberkati oleh Allah SWT, jika dibangun dengan menentang aturan-Nya. Jadi, untuk menjadi bangsa yang diberkati oleh Allah SWT sudah barang tentu kita harus membangunnya dengan mengikuti aturan-Nya.

Dibangun Dari Amal Jariyah dan Gotong Royong

Saya sering merasa jika masjid yang dibangun dari hasil amal jariyah dan gotong royong jauh lebih berkesan dibanding masjid yang dibangun sendirian. Mohon maaf kalau ini keliru, mungkin ini hanya perasaan saya saja.

Pembangunan sebuah masjid tidak hanya berarti pembangunan fisiknya saja, tapi harus ada pembangunan kemakmurannya juga. Makmurnya masjid yaitu ketika tidak pernah ditinggalkan oleh jamaahnya, dan berhasil membangun semangat keimanan jamaahnya.

Demikiannya pula dengan sebuah bangsa, tidak bisa bangsa tersebut menjadi kokoh dan kuat jika hanya dibangun oleh satu – dua orang. Harus banyak orang yang terlibat bahu-membahu membangun, masing-masing harus mengambil peran yang konstruktif.

Dibangun Dengan Transparansi

Dalam waktu tertentu (misal : setiap hari jum’at sebelum sholat jum’at), Panitia Pembangunan Masjid (PPM) atau Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) selalu mengumumkan rekapitulasi dan pengelolaan anggaran masjid. Jarang sekali ada PPM atau DKM yang disumpah jabatan dalam mengemban tugas sebagai orang yang dipercaya masyarakat, dan sepertinya (Insya Allah) hampir tidak pernah orang-orang yang dipercaya tersebut memakan uang sumbangan dari umat untuk pengelolaan masjid.

Mereka percaya, meskipun tidak disumpah jabatan, dalam sehari minimal mereka bersumpah sebanyak lima kali dihadapan Allah SWT melalui shalat lima waktunya. Bersumpah atas Tuhan dan Rasulnya, bersumpah atas hidup dan matinya, bersumpah atas amal dan ibadahnya.

Bayangkan, kalau saja pengelola negeri ini transparan dalam membangun bangsa, dan takut kepada Allah SWT. Akan sangat jauh luar biasa pembangunannya. Sekalipun mungkin tanpa harus disumpah !

Dibangun untuk Membangun

Inilah luar biasanya Masjid, tidak dibangun untuk dijadikan hiasan atau pajangan. Masjid dibangun untuk selanjutnya harus menjadi peran sebagai jantung pembangunan moral dan spiritual masyarakat.

Seharusnya, suatu negara atau bangsapun dibangun supaya bisa menyejahterakan masyarakatnya. Bukan menjadi satu basis kesengsaraan sekumpulan manusia.

Penuh Kesetaraan

Siapapun yang masuk kedalam masjid, sandal atau sepatunya harus dilepas, tak terkecuali pejabat tinggi, presiden, atau raja sekalipun. Baik imam maupun makmum tidak ada yang menggunakan sepatu ataupun sandal. Kita semua tahu itu, tapi pernahkah kita terbayangkan kalau itu juga memiliki pesan moral dalam membangun hukum negara ?.

Dari sini kita bisa mengambil contoh bagaimana seharusnya suatu bangsa dalam menegakan hukum. Merata, tidak ada pilih kasih. Mau kaya atau miskin di hadapan hukum sama, tidak ubahnya ketika kita memasuki masjid, batas suci berlaku tanpa terkecuali.

Meluruskan dan Merapatkan Barisan

Ketika shalat berjamaah, kita diperintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf (barisan) shalat. Dari sinilah lahir inspirasi dalam benak pikiran saya untuk menulsikan artikel ini. Satu hari (tepatnya hari Jum’at) saya silaturahmi ke rumah teman, ketika tiba waktu shalat jum’at teman meminjami saya satu buah sajadah, ukuran lebarnya melebihi badan saya.

Setibanya di masjid, orang di kanan dan kiri saya sama-sama menggunakan sajadah masing-masing. Kalau salah satu saja tidak menggunakan, mungkin gelaran sajadah yang saya gunakan akan saya bagi dua. Karena ukuran sajadahnya lumayan lebar, akhirnya sajadah tersebut saya lipat empat yang penting cukup buat alas sujud saya dengan alasan supaya rapatnya barisan shalat.

Usai shalat, teman saya menanyakan alasan saya melipat sajadah tersebut. Saya jelaskan alasannya sampai akhirnya dia bisa mengerti dan sangat logis (menurut dia).

Untuk menjaga persatuan bangsa, kita bisa juga mengambil pesan moral diatas untuk merapatakan barisan diatas ketegasan dan keadilan hukum. Buang semua sifat-sifat individualis yang hanya akan mendorong kita menjadi bangsa yang hedonis.

Kepatuhan dan Saling Mengingatkan

Ada satu peranan penting yang selalu ada didalam masjid ketika kita shalat berjamaah, yaitu Imam atau pemimpin dalam shalat berjamaah dengan ilmu yang lebih matang daripada jamaahnya. Syarat mutlak imam adalah adanya makmum (jamaah). Tidak ada ceritanya ketika seorang imam sujud maka makmumnya takhyat akhir. Akan tetapi ketika Sang Imam salah atau khilaf dalam gerakan atau bacaan dalam shalat, maka makmum wajib mengingatkannya (dengan kalimat Subhanallah) dan imampun menerimanya dengan dasar kepatuhan atas aturan Allah.

Dalam membangun suatu bangsa, disini kita bisa  mengambil pelajaran wajib hukumnya memiliki pemimpin yang tentunya dengan kriteria kematangan ilmu seperti hal-nya seorang imam. Wajib bagi rakyat (jamaah) untuk mematuhinya. Wajib bagi rakyat untuk mengingatkan ketika sang pemimpin salah ataupun khilaf. Dan tentunya, wajib juga bagi sang pemimpin untuk menerima masukan yang mengingatkan atas kesalahannya dengan dasar kepatuhan pada hukum dan ketaatan sebagai manusia yang berketuhanan.

Kesimpulan

Alangkah indahnya bukan kalau pelajaran membangun bangsa dari membangun masjid di atas dimiliki oleh bangsa kita. Sehingga bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur*, *bangsa yang ***sesuatu banget ***baik bagi rakyatnya sendiri maupun dunia internasional.