Perjuangan Bangsa Palestina23 September menjadi salah satu hari yang bersejarah bagi bangsa Palestina. Dipimpin oleh Presidennya yaitu Mahmud Abbas, Palestina mengajukan diri untuk dapat diterima menjadi anggota bagian komunitas terbesar dunia, yaitu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal ini tentunya bukan tanpa alasan, ditengah bangsa-bangsa lain yang diselimuti dengan kemerdekaan atas hak-haknya sebagai sebuah negara disaat yang bersamaan bangsa Palestina terus berada pada ketidak jelasan.

Di era yang serba canggih ini luar biasa perjuangan bangsa Palestina dalam memperjuangkan hak-haknya tanpa dibelenggu oleh bangsa Yahudi Israel Laknatullah. Apa yang menjadi hak milik bangsa Palestina hampir seluruhnya raib. Sebagian besar wilayahnya telah dicaplok oleh sang penjajah yang tak tahu diri dan tak punya hati, seakan tidak ada ruang bagi bangsa Palestina untuk bisa hidup layak dan manusiwai.

Setelah semuanya hampir tidak ada lagi untuk mereka, bangsa Palestina terus berusaha memperjuangkan hak-nya, walaupun mungkin yang tersisa hanya tinggal kehormatan atas kesucian darah perjuangan. Salah satunya adalah pengajuan diri untuk menjadi anggota PBB. Tapi sayangnya perjuangan kali inipun sudah bisa dipastikan akan kandas total.

Tidak Ada Demokrasi di PBB

Apa yang kita pahami tentang demokrasi ?. Saya tidak akan membahasa panjang lebar tentang demokrasi, karena paling tidak kita bisa memahami bahwa teorinya didalam demokrasi itu ada keadilan sosial, persamaan dan perlindungan hak, kebebasan menentukan sikap, dan lain sebagainya.

PBB yang selama ini dianggap sebagai sebuah wadah yang dibentuk untuk menjaga perdamaian dunia, memberikan perlindungan sosial, memfasilitasi hukum internasional, pengamanan internasional, perekonomian internasional, dan lain sebagainya, ternyata gagal total dalam menjalankan perannya. Begitu gencarnya PBB mengkampanyekan demokrasi tapi faktanya di tubuh PBB sendiri tidak ada yang namanya demokrasi. PBB tidak ubahnya sebuah lembaga internasional berbentuk monarki yang cacad secara peran dan fungsinya. Disana tidak ada yang namanya persamaan hak, keadilan sosial, perlindungan hukum, dan lain sebagainya.

Salah satu yang paling menonjol sebagai bukti tidak adanya demokrasi di tubuh PBB adalah adanya hak veto bagi negara-negara Amerika Serikat (AS), Rusia, Republik Rakyat Cina (RRC), Inggris, dan Perancis.

Bagaimana mungkin semua bangsa mempunyai hak yang sama kalau saja ketika salah satu bangsa memperjuangkan haknya di PBB langsung di kebiri oleh salah satu pemilik hak veto. Kalau kita melihat kesini, tidak salah-salah amat kalau pada tanggal 20 Januari 1965 Bung Karno menarik Indonesia dari PBB. Masuk menjadi bagian dari PBB kadang tidak ubahnya terlanjur masuk ke sarang penyamun. Sungguh, komunitas yang cacad, masuk salah tidak masuk juga salah.

Tidak adanya demokrasi di PBB ini juga yang kemudian akan mengkadaskan perjuangan Palestina untuk menjadi anggota PBB. Untuk mendapatkan persetujuan 9 dari 15 negara anggota Dewan Keamanan (DK) PBB mungkin masih sangat bisa diraih oleh Palestina sebagai salah satu syarat menjadi anggota PBB. Demikian juga mendapatkan 2/3 dukungan di sidang Majelis PBB, masih sangat mungkin. Tapi, dua aspek tersebut tidak akan ada artinya ketika salah satu negara pemilik hak veto tidak menyetujui kalau Palestina menjadi anggota PBB. Dan itu sudah dipastikan kalau negara yang katanya paling demokratis di dunia, yaitu Amerika Serikat akan memveto langkah bangsa Palestina dalam memperjuangkan hak-haknya sebagai negara yang tidak hanya sah secara de facto tapi juga sah secara de jure . Terbayang bukan betapa inkonsistennya AS ?.

Kekerdilan Negara Amerika Serikat

Sub-judul diatas mungkin terkesan kasar, tapi saya yakin faktanya justru layak untuk disebut lebih dari sekedar “kerdil”.

Pada tahun 2010 di Majelis Umum PBB, dalam pidatonya secara mengejutkan Obama mengatakan : “Saat kita kembali di tahun depan, kita dapat menyepakati masuknya anggota baru dari PBB, yaitu Palestina Merdeka, Berdaulat yang berdampingan dengan Israel secara damai.”. Tahun depan yang tertera di kalimat tersebut kini sudah disambangi, lalu apa yang terjadi ?. Yang terjadi adalah Obama menunjukan kekerdilan dan kemunafikan bangsanya.

Berikut cuplikan pidatonya :

Bangsa Yahudi adalah salah satu komunitas yang tingkat partisipasi pemilunya paling aktif dan paling besar bagi AS, selain itu juga memiliki peran hampir disemua lini dan sektor vital AS. Di saat yang bersamaan kita juga tahu kalau Israel adalah negara yang didirikan secara eksklusif untuk komunitas Yahudi di tanah haram milik Bangsa Palestina.

Jadi, kalau ada yang berpendapat bahwa Israel adalah pengemudi AS sangatlah tepat. Jelas bukan, betapa kerdilnya Amerika Serikat ?.

AS tidak mampu memberikan peran positif bagi kehidupan bangsa-bangsa lain, baik dari dirinya langsung maupun melui PBB. Israel memiliki peran kendali terhadap AS, dan AS juga memiliki peran kendali terhadap PBB, itu artinya Irsael juga mampu mengendalikan PBB. Jadi, jelaslah sudah kalau di PBB tidak ada yang namanya demokrasi, dan Palestina sangan kecil kemungkinannya menjadi anggota PBB.