Mandi sudah selesai, selanjutnya tinggal mengenakan pakaian. Tidak perlu waktu lama untuk menentukan pakaian mana yang akan dikenakan, sayapun memilih salah satu celana jeans yang biasa saya pakai. Celana yang saya pilih dari dalam lemari tersebut ternyata sedikit membuat saya kecewa, yaitu resletingnya tidak berfungsi dengan baik, kalau kata orang Sunda *mah * udah *“dol”. *Rasa kecewa saya agak sedikit bertambah (masih sedikit :-D), waktu saya yang terbuang untuk membetulkan resleting tersebut tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan, *yups… *yang terjadi resleting celananya tambah rusak.

Baru saja selesai mandi, tapi badan sudah berkeringat lagi hanya karena urusan resleting. Ini mengingatkan saya pada satu pendapat yang saya sendiri lupa siapa yang mengemukakannya, pendapatnya kurang lebih sebagai berikut :

Hal-hal yang sederhana sering membuat kita bercucuran keringat, meskipun sebetulnya kita tidak mengeluarkan banyak tenaga dari otot kita. Penyebabnya sederhana, itu karena emosi dan pikiran kita tidak bisa tenang.

Ingat dengan pendapat tersebut, sayapun berhenti “*ngebejek-bejek” resleting celananya. *Diam sejenak sambil merenungkan “ada apa dengan resleting ini ?”. Secara perlahan saya perhatikan betul setiap celah resletingnya. Mata kemana pikiran kemana, mata saya memperhatikan celah-celah resleting tapi kepala saya berpikiran lain. Secara spontan pikiran saya mengaitkan masalah resleting dengan hati.

Kurang lebi begini yang dikatakan oleh pikiran saya :

Ketika sebuah barang atau benda menggunakan resleting, semisal celana, tas, dompet, atau lain sebagainya. Maka, disaat resletingnya rusak hampir sebagian besar barang-barang tersebut tidak lagi berguna, seolah hilang semua fungsinya. Resleting sangatlah sederhana dengan pola kerja yang juga sederhana, tapi resleting seperti menjadi penentu berfungsi atau tidaknya suatu barang meskipun dibagian yang lainnya berharga cukup mahal, lebih mahal dari harga resleting.

Dari situ pikiran saya mengarahkan ke persoalan hati. Ibarat resleting, ketika sebuah hati rusak dan tidak segera diperbaiki, rasanya hampir seluruh organ dalam diri kita tidak memiliki fungsi yang berarti. Bila hati penuh dengan kedengkian pandangan kitapun penuh dengan kepicikan, bila hati penuh dengan keserakahan tangan kitapun berbuat penuh dengan kecurangan. Sejalan dengan hadist Rasulullah SAW :

[box type=”info”] ” ….ketahuilah sesunguhnya didalam jasad itu ada segumpal daging, apabila baik dia maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila rusak maka rusaklah seluruh jasadnya, ketauhilah bahwa dia itu adalah hati “.

(hadist riwayat Bukhari dan Muslim dari Abi Abdillah An-nu’man bin Basyir)[/box]

Hati dan resleting memang tidak bisa sepenuhnya sama, tapi ya memang begitulah ketika pikiran saya sering aneh dan nyeleneh. Tapi mudah-mudahan dari pengalaman resleting tersebut bisa benar-benar menjadi hidayah buat saya dalam belajar menata hati. Syukur-syukur, bisa bermanfaat juga buat yang lain.

Alhamdulillah, resleting celananya sekarang udah normal berkat keahlian tukang jahit.  😉

(gak penting banget !   :hammer )

Resleting Jeans