[dropcap style=”font-size: 60px; color: #000000;”]K[/dropcap]alau Anda terbiasa berganti-ganti jenis parfum setiap tahunnya, ketika Anda menggunakan parfum yang pernah digunakan beberapa tahun lalu biasanya pikiran akan diingatkan lagi dengan momen paling berkesan di waktu dulu. Seperti dibawa berenang ke kolam de javu.

Misalnya begini, sewaktu SMA biasanya Anda menggunakan parfum A, begitu masuk kuliah Anda ganti ke parfum D. Selang beberapa tahun kemudian, tanpa sengaja Anda memakai parfum yang wanginya sama dengan parfum A, wangi tersebut ternyata mengingatkan Anda dengan masa-masa SMA dulu.

Saya lupa istilah atau padanan yang tepat untuk meringkas kalimat “teringat kembali dengan masa lalu”.

Momentum demikian biasanya tidak hanya diingatkan kembali oleh wewangian,  ada juga oleh suara, musik, situasi, musim, dan bahkan bulan puasapun mampu mengingatkan kita ke masa lalu, terutama masa-masa yang indah dengan segala lika-likunya bersama orang tua.

Dua hari pertama puasa tahun ini saya tidak sahur. Hari pertama kesiangan, hari kedua pas mau beli nasi hujan turun dengan deras. Payahnya lagi tidak sedia stok makanan apapun. Dengan sekilas,  pikiran saya langsung teringat sama ibu “Andaikan ada ibu, tidak ada istilah sahur kesiangan atau harus nunggu hujan reda untuk beli makanan buat sahur.”

Tanpa pikir panjang, langsung ambil *handphone *dan menelepon ibu. Ternyata momennya pas, ibu dan dua adik perempuan saya sedang sahur. Ibu tanya “udah sahur ? makan sama apa ?”, saya cuma bisa bilang “heheee… udah bu, tapi minum teh manis aja, disini hujan gede banget beli nasinya jauh”.

Ibu langsung diam, saya panggil-panggil ibu masih diam, lalu yang saya dengar malah isakan tangis. “Kapan kamu terakhir sahur bareng ibu, dan dengan gesitnya berebut lauk sama kakak dan adikmu ?”. Teeeeeng…. pikiran langsung melayang jauh, terkenang masa-masa bulan Ramadhan bersama bapak, ibu, kakak, dan adik.

Ya Allah, ternyata itu sudah lama sekali, kelas 3 SMP, karena semenjak itu  saya melalui setiap bulan Ramadhan tanpa bapak dan ibu, sampai hari ini. Setiap pulang lebaran pun tiba di rumah ya hari puasa terakhir.

Ini adalah HIKMAH PUASA yang indah di awal bulan puasa tahun ini. Ramadhan menyemikan kembali romansa cinta di awal waktu antara saya dan ibu, orang tua dan anaknya yang terpaut oleh jarak dan realita.

Ramadhan tahun ini mengingatkan bahwa ternyata dengan bisa sahur bersama anaknya saja bagi orang tua sudah sangat membahagiakan. Sementara kita (anak) kadang lalai akan hal itu.

Kadang kita juga lupa, sewaktu kecil hingga tumbuh dewasa ibu tidak pernah bosan menyuapi kita, tapi begitu sudah menjadi dewasa kadang perempuan yang pertama kali disuapi bukan ibu kita.

Dulu, sewaktu saya berpamitan sama ibu pergi merantau, pesan yang selalu diucapkan “jaga diri baik-baik”. Kenapa sesederhana itu pesannya ? kini Allah sudah menjawabnya, saya harus bisa menjaga diri baik-baik agar bisa kembali berada di sisi ibu, memeluknya, menjaganya, melengkapi kebahagiaannya.

Saya yakin tidak merasakannya sendiri, mereka yang belum atau tidak bisa merasakan kembali nikmatnya masakan ibu di saat sahur dan berbuka pasti akan terkenang kembali masa-masa indah itu. Masa dimana dengan sentuhan tangan halusnya ibu membangunkan kita, bisikannya yang lembut mengatakan “sayang, sahur dulu yuk, ibu sudah siapin masakan enak buatmu”. Kita masih belum bangun, ibu kembali membangunkan dengan tutur kata dan nada yang masih lembut.

Masih punya orang tua tapi jauh  ?

Saya ingin memastikan bahwa orang tua Anda sedang merasakan hal yang sama dengan orang tua saya. Menantikan anaknya pulang, berharap Allah SWT mengantarkan buah hatinya dalam keadaan baik-baik saja.

Beberapa hari yang lalu negeri kita dihebohkan dengan kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tanjung Gusta Medan. Di keriuhan berita tersebut ada yang menarik buat saya, mungkin juga buat Anda.

Dari 200 tahanan yang kabur ada 1 tahanan bernama Saro (divonis 15 tahun, kasus narkoba) yang mengaku nekat kabur karena kangen ibu, dia hanya ingin bertemu dengan ibunya.  Sesampai di rumah, ibu dan keluarganya meminta agar Saro mau menyerahkan diri kembali ke Lapas. Dia pun meminta agar ibunya mengantarkan. Lalu, sang ibu pun mengantarkan Saro kembali ke Lapas.

“Saat ayah meninggal, aku enggak bisa lihat. Aku rindu ibu, karena sembilan tahun lagi saya bebas, kemungkinan tidak akan melihat ibu,” kata Saro.

Saya tahu, Saro berstatus narapidana dan harus menjalani konsekuensi hukum atas kesalahannya, tapi membaca berita tentangnya membuat saya merinding dan tak tahan membendung air mata.

Saya percaya, siapapun Anda yang membaca tulisan ini mempunyai kerinduan seperti halnya Saro ketika jauh dari ibu / orang tua. Selagi ada, selagi belum terpaut terlalu jauh, selagi takdir belum memisahkan kita dengan mereka, selagi sesal belum datang, jangan biarkan ibu dan bapak dirundung dalam kerinduan dan kita terlena dalam kelalaian.

Sahabat, semoga HIKMAH PUASA kita kali ini bisa menghidupkan kembali nilai-nilai cinta yang pernah ditanam oleh orang tua pada diri kita, lalu memberi mereka kesempatan untuk menyemainya sebanyak mungkin. Karena pada akhirnya, kita sendiri yang akan merasakan manisnya buah cinta yang mereka semai.

Sumber gambar fitur :

The Atlantic, oleh Dita Alangkara (AP Photo)