Assalamu’alaikum sobat, alhamdulillah ya, Allah masih memberi kesempatan buat saya menulis lagi disini, dan juga buat sobat-sobat membaca tulisan ini.

Kali ini saya ingin menyampaikan satu opini sekaligus pengalaman singkat, pengalaman  yang saya mohon jangan dianggap itu sebagai curhat colongan (curcol), ambil positifnya saja ya.

[![Guru dan Murid (ilustrasi : thebestrendezvous.com)](https://blog.rosid.net/content/images/2012/01/Guru-dan-Murid.jpg "Guru dan Murid (ilustrasi : thebestrendezvous.com)")](https://blog.rosid.net/content/images/2012/01/Guru-dan-Murid.jpg)
Guru dan Murid (ilustrasi : thebestrendezvous.com)
Ada satu kecenderungan yang menurut saya cukup memprihatinkan di dunia pendidikan kita, yaitu saat terjadinya hubungan yang disahrmonis antara guru dan murid. Mungkin ini tidak terlalu banyak nampak, tapi saya yakin pasti banyak terjadi.

Kadang-kadang hubungan antara sang guru dan sang murid terkesan biasa-biasa saja, tapi ketika berada di sisi lain seorang guru mempunya catatan khusus baik tertulis di hati maupun dikertas tentang anak didiknya. Begitupun dipojokan sana sang murid tidak mau kalah, ia mempunyai catatan hati dan pikiran tersendiri  mengenai guru-guru yang bermasalah (baca: menyebalkan) menurut pikirannya, atau bahkan yang sangat menyenangkan. Mungkin itulah yang disebut dengan kesan.

 Kenapa sang guru bisa demikian ?, karena itu memang tugasnya. Kenapa sang murid bisa demikian ?, karena dia juga manusia yang masih perlu bimbingan.

Keinginan Menjadi Guru Yang Menyenangkan

Saat masa pembelajaran kelas dua SMA akan berakhir dan siap-siap beranjak ke kelas tiga. Salah satu guru saya pada sesi jadwal mengajar terakhirnya di tahun ajaran tersebut membagikan sebuah amplop kosong ke setiap siswa di ruangan kelas. Waktu itu saya rada bingung, bahkan seorang teman ada yang nyeletuk “yah kosong bu amplopnya, jangan-jangan mau mintain sumbangan buat perpisahan ya bu ?”.

Ibu guru tersebut tidak memberikan jawaban apapun sampai akhirnya semua siswa kebagian amplop yang beliau bagikan. Lalu, dengan intonasi halus ibu guru bilang :

“Hari ini adalah jadwal ibu terakhir mengajar di kelas ini. Selama kita saling mengajar dan belajar tentunya banyak hal yang kalau itu diceritakan bisa diambil hikmahnya. Ibu ingin kalian menuliskan catatan khusus tentang kekurangan-kekurangan ibu selama mengajar kalian, inget ya… “kekurangan”. Kemudian ibu mohon tambahkan saran-sarannya. Lalu apa yang kalian tuliskan silahkan masukan kedalam amplop kosong yang ada ditangan kalian, kemudian silahkan dikumpulkan oleh ketua kelas”.

Teman di belakang saya menyahut :

“Tapi kan gak enak hati bu kalau harus menuliskan kekurangan…”

“Tidak perlu merasa gak enak hati, kalian tuliskan saja. Jangan diberi nama, karena ini tidak masuk kategori tugas”

Kemudian ibu guru meninggaklan kami diruangan kelas untuk menuliskan apa yang sudah disampaikan.

Sobat, kisah diatas merupakan sebuah kejadian nyata saya sewaktu SMA.  Dari cerita tersebut ada satu gambaran bagaimana seorang guru berusaha sebisa mungkin meng-upgrade kompetensi dirinya supaya bisa menjadi guru yang menyenangkan tapi juga berkualitas bagi anak didiknya.

Inilah tugas terberat lain bagi seorang guru, lebih berat dari menghancurkan sebuah gunung. Yaitu merubah sifat sendiri, paling tidak ketika berhadapan dengan siswa. Meskipun pepatah mengatakan “tetaplah menjadi diri sendiri”, faktanya itu tidak terlalu berlaku buat seorang guru. Terlebih lagi memang tidak semua hal yang ada pada diri kita itu baik semuanya, apalagi saat harus berhadapan dengan serbuan penilaian dari banyak kepala.

Menjadi guru yang menyenangkan tentunya bukanlah tujuan utama, melainkan sebuah tujuan untuk langkah awal supaya bisa menjadi magnet penyemangat buat belajar siswa, agar kehadirannya selalu diharapkan dan ketidakhadirannya tidak disyukuri.

Pepatah untuk seorang siswa mengatakan “sukai dulu gurunya, selanjutnya akan menyukai mata pelajarannya”. Suka yang dalam artian positif, yang menjadi jembatan transformasi ilmu dan teladan dari seorang guru kepada seorang murid.

Benih-benih Disharmonisasi Hubungi Guru dan Murid

Bebin-benih awal yang memicu terjadinya hubungan yang kurang baik antara seorang guru dengan muridnya tidak jarang terjadi karena masalah “menyenangkan dan tidak menyenangkan”.

Di mata seorang siswa ada klasifikasi guru yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, begitu juga di pandangan seorang guru ada murid yang menyenangkan juga tidak menyenangkan. Celakanya adalah ketika saling beranggapan “dia tidak menyenangkan !”.

Adanya sifat “menyenangkan” dan “tidak menyenangkan” kadang sebetulnya itu bukan faktor bawaan atau alamiah, akan tetapi ada faktor-faktor lain yang memberikan pengaruh kepada diri seorang guru maupun siswa.

Contohnya begini, ada siswa yang sangat menyebalkan sekali, tingkahnya *petitilan, tengil, *dan juga sombong. Usut punya usut ternyata sifat itu tumbuh karena dia terlahir dari keluarga kaya raya namun kurang bimbingan soal moral karena kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja.

Kemudian contoh lainnya adalah ada seorang murid yang selalu terlihat pendiam tapi murung, respon belajarnya tidak fokus dan kurang bersemangat. Sifat ini tentu kurang  menyenangkan buat seorang guru, karena guru pasti lebih senang kepada siswa yang aktif dan memberikan respon. Ketika ditinjau lebih dekat ternyata sifat si anak tersebut dipengaruhi oleh banyak problem baik di keluarganya maupun kelabilan emosionalnya, dan ia merasa tidak ada sosok satupun yang bisa ia jadikan sebagai tempat menumpahkan keluh kesahnya, selain ada rasa malu juga takut.

Terbuka Untuk Dimengerti, Mengerti Supaya Terbuka

Belajar dari contoh kedua, masalah akan muncul ketika seorang guru tidak melakukan pendekatan yang halus dan persuasif untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Disinilah tantangan kembali hadir bagi seorang guru, ia dituntut untuk bisa menjadi pribadi yang bisa dipercaya oleh sang murid. Dituntut untuk bisa menjadi pendengar yang baik dan juga pemberi solusi yang tepat. Dituntut untuk membuka kebesaran jiwanya supaya bisa memahami persoalan yang sebenarnya. Intinya, dituntut untuk menjadi orang yang tepat buat jadi tempat curhat anak didiknya.

Masalah lainnya adalah ketika dipikiran si anak murid yang sedang dalam problem dan membuatnay menjadi tidak menyenangkan itu mulai muncul pikiran “hih, tidak ngerti amat sih nih orang !”. Dia ingin dimengerti oleh orang lain termasuk gurunya, sedangkan dia sendiri tidak bercerita apapun tentang persoalanya. Mungkin ia hanya sekedar berharap kalau orang sekitarnya bisa memahami kalau dia sedang punya masalah, tapi kan justru pada dasarnya kebanyakan ingin dimengerti dan dipahami sampai ke akar permasalahannya dia, kalau perlu sampai tuntas dan paling tidak bisa ditumpahkan biar ngemplong.

Disini, pesan buat seorang murid yang ingin dimengerti tentang kondisi dan persoalannya ; Jangan dipendam, karena orang tidak akan pernah mengerti seutuhnya kalau kita tidak mau mengungkapkannya. Cobalah jelaskan apa adanya, jelaskan kepada orang yang tepat, yang menurut logika kita orang tersebut bisa dipercaya dan bahkan bisa memberi solusi, mungkin salah satunya adalah guru kita.

Antara guru dan murid harus terbangun kedekatan emosional yang baik, yang tidak memberi celah adanya dusta diantara keduanya.

Sewaktu SMA saya termasuk yang banyak problem, dan itu sempat menggangu kegiatan belajar saya. Berat memang ketika kemana-kemana kita membawa persoalan dan seakan tidak ada yang bisa mengerti. Ternyata masalahnya bukan orang lain yang tidak mau mengerti, tapi sayanya sendiri yang tidak pernah memberikan penjelasan.

Pernah satu ketika ada agenda *study tour *ke Jogja. Dengan ongkos ratusan ribu  rupiah saat itu saya jelas tidak sanggup. Ongkos ke Jogja cukup buat makan saya satu bulan. Dari informasi yang beredar, kegiatan tersebut terkesan sangat diwajibkan, apalagi selama perjalanannya kita diharuskan membuat berbagai macam tugas akhir. Tekanan mental serasa bertambah, apalagi kalau tidak ikut berarti kita tidak bisa membuat karya tulis yang menjadi salah satu faktor nilai tambah Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN).

Untuk memaksakan ikut sepertinya sangat sulit, tapi kalau tidak ikut saya serasa tidak lulus sekolah sebelum ujian. Akhirnya, disatu kesempatan saya menemui langsung kepala sekolah dengan mengutarakan semua kondisi saya sehingga saya tidak bisa ikut kegiatan tersebut. Setelah pihak sekolah mendengar semua penjelasan saya yang apa adanya tanpa mengurangi niat kesungguhan saya, pihak sekolahpun bisa memaklumi. Namun saya tetap harus membuat karya tulis dengan konteks yang berbeda tanpa mengurangi substansi. Alhamdulillahnya semua guru mata pelajaran yang menugaskan pembuatan karya tulis sangat bisa memahami.

Jadi, mulailah terbuka agar bisa dipahami dan mengerti oleh guru dan orang-orang sekitar. Juga mulailah belajar lebih memahami agar setiap siswa mau terbuka supaya bisa membantu mendapatkan solusi terbaik.

Demikian, majulah terus pendidikan Indonesia !.