Pagi itu teramat istimewa, usai subuh dan berbenah siap berangkat kerja telah tersaji hidangan untuk sarapan khas masakan Ibu. Ini mungkin memang lumrah, tapi tetap saja istimewa. Lebih istimewa lagi ketika momen indah seperti ini baru Aku temui 14 tahun setelah lulus SD. Praktis, setelah lulus SD Aku tidak tinggal sama ibu.

Boleh percaya boleh tidak, suapan sendok pertama masakan Ibu di pagi itu membuatku bergetar. Mau dibilang sugesti atau apapun namanya (entahlah), yang jelas Aku seperti mendapatkan energi baru yang tidak biasa dibanding pagi sebelumnya. Begitu beda, begitu indah, begitu nikmat.

Akupun berangkat kerja makin semangat. Langkah kaki seolah sedang berjalan menuju masa depan bersama keluargaku yang kugendong di punggung. Berat memang, tapi sarapan yang dimasak ibu membuat rasa berat itu hilang entah tersirap kemana.

Berlanjut di pagi keesokan harinya, Aku bangun lebih semangat lagi. Salah satu sebabnya adalah tidak sabar ingin menyantap sarapan buatan Ibu kembali, sebelum berangkat kerja. Begitu selesai mandi dan shalat subuh, ternyata ada yang beda, Ibu belum masak. Begitu ku tengok ternyata ibu masih tidur. Aku tidak kecewa, Aku tau Ibu kelelahan.

Sebelum berangkat kerja, kubangunkan ibu agar tak kesiangan sholat subuh. Kubangunkan secara perlahan, sebagaimana ibu membangunkanku. Ibu adalah orang yang paling tahu kalau Aku tidak suka dibangunkan secara kasar atau tergesa-tergesa.

Meski kubangungkan perlahan, ternyata ibu panik. Ya, ibu panik merasa bersalah karena telah kesiangan dan terlambat memasakan sarapan untukku.

Aku tertegun. Hanya karena terlambat membuatkan sarapan untukku, tatap mata dan raut garis wajah Ibu menyiratkan penuh rasa sesal dan bersalah. Aku coba tenangkan hati ibu bahwa aku tetap baik-baik saja dan tidak hilang semangat. Wajah yang kutatap pagi itu benar-benar memberi cerminan tentang “sejauh mana Aku mampu merasa bersalah ketika tidak dapat menumbuhkan senyum di wajah Ibuku ?, seperti Ibu yang begitu merasa bersalah hanya karena kesiangan mebuatkanku sarapan.”