Sobat, sebelum saya melangkah lebih jauh dalam membuat tulisan ini, saya ingin meminta maaf jika selanjutnya didalam tulisan ini ditemukan banyak kesalahan. Saya bukan seorang ahli ekonomi, saya bukan seorang pengusaha, saya bukan seorang ahli peningkatan SDM, dan saya juga bukan seorang lulusan perguruan tinggi. Apa yang saya tuliskan ini adalah sebuah opini yang muncul didalam benak pikiran, dan rasanya tangan saya tak tahan gatal sekali ingin menuliskannya disini. Baik, mudah-mudahan bermanfaat.

Tulisan ini terinspirasi dari fakta sosial yang terjadi di masyarakat tentang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau Buruh Migran Indonesia (BMI). Salah satu fakta sosial yang terjadi dimasyarakat adalah banyaknya TKI (khususnya Tenaga Kerja Wanita (TKW)) yang pergi menjadi pekerja informal diluar negeri secara berkali-kali, berulang-ulang, dan bertahun-tahun. Artinya begini, begitu masa kontraknya sudah habis seorang pekerja pulang ke tanah air, ironisnya tidak lama kemudian dalam hitungan bulan atau 1-2 tahun pekerja tersebut berangkat kembali menjadi TKI, dikarenakan uang hasil kerja kerasnya dipemberangkatan pertama habis tanpa makna.

Ini adalah sebuah fakta. Saya tidak melakukan observasi lebih jauh memang, tapi saya bisa merasakan dari lingkungan sosial terdekat saya, seperti dari saudara dan tetangga saya menjadi tenaga kerja di luar negeri.

Memahami Motivasi Keberangkatan Seorang TKI

Sebagian besar saudara-saudara kita yang bekerja di luar negeri tidak didasari oleh motivasi keahilan yang khusus, oleh karena itulah banyak yang bekerja di sektor informal. Banyak juga motivasi keberangkatan para TKI kita yang (sebetulnya) didasarai oleh masalah-masalah internal sang TKI, misalnya :

[box]

  1. Seorang TKI memutuskan menjadi pekerja diluar negeri karena masalah himpitan ekonomi keluarga dan terlilit hutang-piutang.
  2. Tidak jarang seorang TKW nekat menjadi pekerja di luar negeri karena sudah muak dengan tingkah laku sang suami, (sudah miskin nakal pula).
  3. Ada pula yang nekat menjadi TKI karena tidak tahan melihat kesejahteraan dan kelayakan hidup (sandang, pangan, dan papan) tetangga dan masyarakat sekitar.
  4. Dan, yang paling pasti adalah susahnya mencari pekerjaan dengan penghasilan yang layak di dalam negeri sendiri.

[/box]

Yang harus paling kita garis bawahi adalah poin 1, 2, dan 3. Sedangkan nomor 4 saya anggap bukan cuma masalah internal sang TKI. Motivasi yang saya anggap “bermasalah” inilah yang sebetulnya bisa memicu masalah yang berefek domino di sesi berikutnya, meskipun secara motivasi kerja saya rasa cukup bagus karena akan memberikan semangat tersendiri bagi seorang TKI. Tapi masalahnya sejauh mana sang TKI bisa bertahan dari titik jenuh dan lelah, serta mempunyai kemampuan untuk melakukan pekerjaannya ?, belum lagi ditambah tekanan rindu ingin bertemu sanak saudara.

Kalau melihat poin-poin diatas, sangat dimungkinkan kalau para pekerja kita di luar negeri yang bekerja di sektor informal sebagian besar didorong oleh modal “nekat” yang sangat luar biasa. Sejatinya, jangankan bekerja di luar negeri, di dalam negeri saja kita tidak cukup dengan sekedar rasa nekat.

Efek Domino Dari Kesalahan Motivasi Menjadi TKI

Sekarang kita ibaratkan dulu ada banyak jutaan tenaga kerja kita di luar negeri yang berangkat kerja dengan landasan motivasi poin 1, 2 dan 3. Begitu mereka pulang dari luar negeri dengan membawa sejumlah uang, akan mereka gunakan apa uang-uang tersebut ?. Jawaban berikut saya rasa sedikit banyak punya kaitan dengan poin 1, 2, dan 3 diatas.

Namanya uang sudah ditangan, biasanya siapapun sangat mudah lalai dan sulit untuk mawas diri.

[box]

  1. Ia lunasi hutang yang melilit diri dan keluarganya. Kemudian sisanya dipergunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. (lihat poin 1 diatas). Lama-kelamaan sisa uang yang ada habis tak bersisa. Karena kesulitan hidup sepertinya kembali mendekati, iapun nekat untuk berangkat kembali menjadi TKI di luar negeri.
  2. Begitu pulang, ia lupa kalau dulu suaminya sudah sering mengkhianatinya. Ia pun kembali rujuk dengan sang suami. Suaminyapun jelas mau, karena istrinya punya uang banyak. Begitu uangnya habis, suaminya mulai nakal lagi. (lihat poin 2 diatas). Sang istripun mulai prustasi kembali, dan akhirnya nekat untuk pergi lagi menjadi TKI.
  3. Karena uang sudah ditangan, dengan segera ia renovasi rumah menjadi lebih bagus, sisanya dibelikan perhiasan, alat-alat elektronik dan furnitur, tanah, dan kalau masih ada lebihnya itulah yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.  Tidak terpikirkan olehnya untuk merintis wirausaha (bisa jadi juga karena takut gagal), sehingga dikemudian waktu segala macam barang yang ia dibeli dijual kembali untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, sampai kemudian habis kembali. (lihat poin 3 diatas).

[/box]

Inilah efek domino yang lahir dari awal motivasi keberangkatan yang saya bilang “bermasalah”. Begitu TKI pulang kembali ke tanah air dengan selamat dan membawa hasil yang diusahakan, “motivasi bermasalah” tersebut memang bisa diselesaikan, tapi itu sementara. Karena salah satu kunci permasalahan pokoknya ekonomi, maka begitu uang habis ‘dejavu’ masalahpun muncul kembali.

Ingat, saudara-saudara kita (mungkin diri kita sendiri) yang menjadi TKI tidak diberikan pembekalan untuk menjadi seorang wirausahawan, melainkan hanya dibina untuk menjadi seorang pekerja. Mungkin, inilah salah satu kunci permasalahannya.

Pembinaan (Mantan) TKI Menjadi Pewirausaha

Berdasarkan uraian diatas, sepertinya sangat beralasan kalau (mantan) TKI kita diberikan pembinaan untuk menjadi pewirausaha. Jadi, selain proses pembinaan untuk menjadi pekerja yang baik di perusahaan-perusahaan seharusnya pemerintah juga mempunyai tim khusus yang akan membina TKI-TKI kita untuk berwirausaha begitu sekembalinya mereka ke tanah air. Pola-polanya mungkin sederhana saja ya ;

Pola Sederhana TKI Menjadi Pewirausaha

[box]

  1. Berikan bimbingan dan panduan mengenai jenis usaha apa yang akan dirintis, tentunya dengan melihat potensi dan bakat dari sang TKI. Bakat-bakat tersebut kemudian diasah oleh tim dari pemerintah.
  2. Terus-menerus secara simultan memberikan bimbingan teknis mengenai jenis usaha yang sedang dikelola.
  3. Lakukan monitoring secara ketat dan juga evaluasi mengenai pengembangan usaha sang TKI yang mungkin jika sampai disini bisa disebut mantan TKI.

[/box]

Secara modal, jelas ini jauh lebih efektif, karena calon pewirasusaha yang notabene mantan TKI tidak perlu meminjam dari luar baik koperasi maupun perbankan.

Mengenai bimbingan, monitoring, dan evaluasi seperti diatas sangat perlu. Salah satu kegagalan yang terjadi pada program PNPM-nya Pemerintah Indonesia melalui alokasi BLM adalah tidak adanya pola ini. Meskipun pemerintah memberikan bantuan modal yang besar, karena tidak dibarengi dengan bimbingan usaha, maka tidak jarang modal yang besar tesebut akhirnya habis untuk urusan perut. Akhirnya macetlah pengembalian modal-modal tersebut, yang harus digulirkan kepada peminjam lainnya.

Sobat, ketika seorang mantan TKI sukses menjadi pewirausaha (amiin..), tentunya tidak akan ada alasan lagi bagi dirinya untuk kembali menjadi pekerja di luar negeri. Kalau saja diumpamakan ada 5.000.000 (lima juta) TKI kita di luar negeri, kemudian begitu pulang (minimal separuhnya dan syukur-syukur semuanya) berhasil dibina menjadi pewirausaha. Bayangkan, betapa mandirinya bangsa kita ?. Memang semuanya tidak semudah meludah, tapi semuanya masih mungkin kan ?. Yang penting sejauh mana kita punya kemauan dan sejauh mana kita mewujudkan kemauan tersebut.

Sekian, mudah-mudahan bermanfaat.

Informasi Seputar Buruh Migran Indonesia :

website : http://buruhmigran.or.id

facebook :   Buruh Migran

twitter : @infoburuhmigran