Penerbangan sore itu hanya cukup memakan waktu 50 menit. Ukuran Yogyakarta – Tangerang tidak terlalu jauh memang untuk sebuah perjalanan menggunakan pesawat terbang.

Jam 5 sore saya dan beberapa teman jurnalis berikut rombongan lainnya yang ikut Drive Test Indosat sudah kembali menapakan kaki di Bandara Soekarno Hatta. Dari situ kami berpencar ke tujuan masing-masing. Arah pulang saya sendiri tidak terlalu jauh dari Bandara, sama-sama masih dalam cakupan Tangerang Raya. Sekitar 47 km dengan menggunakan taksi.

Satu persatu pangkalan taksi saya sambangi dan semuanya harus mengantri. Begitulah, kadang saya meresa lebih enak dari Bogor kota atau Serang sekalian kalau mau ke Bandara dibanding dari tempat saya sendiri, karena setahu saya tidak ada bus Damri dari/ke arah Kabupaten Tangerang.

Tidak ada pilihan lain, taksi seperti satu-satunya alat transportasi yang bisa mengantarkan saya dari bandara sampai ke rumah.

Dengan sedikit memutar otak mencari alternatif, saya daftarkan diri di antrian Taksi Express. Untuk antrian di BlueBird, saat itu saya nyerah… antriannya terlalu panjang. Oh iya, ternyata saya tidak sendiri, masih ada teman jurnalis dari Metro TV, namanya Ninok.

Begitu saya lihat antriannya, hufttt… langsung menghela nafas. Saya mendapatkan nomor antrian 130, dengan taksi terakhir datang untuk nomor antrian 91. Kalau 1 taksi datangnya 10 menit sekali, artinya saya punya kemungkinan menunggu selama 390 menit (6 jam 30 menit).

Ide menarik muncul dari Ninok, “Mas, kita daftar di TaxiKu sekalian, siapa tau antrian disana tidak terlalu jauh“. Tidak banyak pikir, kami pun langsung daftar antrian di TaxiKu. Mana yang lebih dulu, itulah yang dinaiki.

Meski kami sudah ngobrol kesana kemari, tetap saja rasa sabar masih begitu berat dengan hitung-hitungan jam yang harus ditunggu. Baru sekitar jam 8 malam, ada telepon yang cukup mengejutkan dari Mas Hazmi Srondol “Mas Rosid, saya juga sama baru bisa keluar dari parkiran, macetnya puarah banget !“.

Waduuuhhh…. (muka bengong). Mas Hazmi bawa mobil sendiri dan diparkir di bandara, dia dari jam 5 baru bisa keluar dari parkiran jam 8 malam. 3 jam, jendral !. Kali ini saya jadi berpikir lain “alhamdulillah ya Allah, ternyata hamba diberikan nomor antrian yang masih lumayan jauh karena itu memang yang terbaik buatku“.

Kenapa bisa demikian ?

Bayangkan teman, kalau saya dapat taksi dari sore terus kejebak macet selama 3 jam hanya untuk keluar dari bandara, berapa rupiah yang harus saya bayar kalau permenitnya saja 1.000 rupiah ?, jauh lebih mahal dari ongkos normal sampai ke rumah.

Ternyata Allah punya rencana baik lain untuk saya, meski awalnya terlihat seperti kurang menyenangkan, tapi pada akhirnya semakin menguatkan nasehat “orang sabar disayang Allah“. Mungkin inilah yang disebut dengan “apa yang terlihat oleh mata kita saja kadang bisa bohong

Perkiraan waktu antri yang saya kira bisa sampai 6 jam 30 menit juga ternyata tidak sampai segitu, karena banyak orang yang pas dipanggil sesuai antriannya tidak ada ditempat dan secara otomatis dilewat oleh petugas timer. Tepat jam 8 lebih 30 menit taksi untuk Ninok sudah datang, 15 menit kemudian taksi untuk sayapun datang. Alhamdulillah, macet keluar bandaranya tidak sampai 45 menit, apalagi 3 jam.

Terimakasih ya Allah, satu pelajaran berharga soal kesabaran. Mudah-mudahan bisa semakin tumbuh lagi rasa sabar yang tidak ada batasnya itu.

sabar sedikit, ada kabar baik untukmu