golput adalah sahBanyak deskripsi tentang golongan putih atau golput. Meskipun banyak deskripsi tentang golput, tapi jarang ada penjelasan detil tentang golput, entah penjelasannya yang belum sampai ke mata dan pikran saya atau mungkin sayanya yg kurang serius mencari penjelasan tentang golput. Percaya atau tidak, sampai opini ini saya tulis di wikipedia sendiri belum ada ulasan tentang “Golput”.

Kalau ada yg berpendapat ; “*Golput adalah orang-orang yang tidak menentukan pilihan pada Pemilihan Umum, Pilkada dan lain  sejenisnya”. *Saya sangat tidak setuju. Boleh dong kita berbeda pendapat ?, yang penting kan tidak *gondok-gondokan *dan kelaperan. Heheheheee…

Saya lebih setuju kalau golput diartikan sebagai orang-orang yang memilih untuk tidak memilih pilihan yang ada. Jelas berbeda kan dengan pendapat diatas ?. Itu artinya golput juga merupakan pilihan dan hak setiap orang. Ada beberapa kalimat yang *ujug-ujug *muncul dipikiran saya :

Kalau kita diwajibkan (mau tidak mau) untuk memilih calon yang ada, itu artinya demokrasi memaksa dong ?. Paling tidak memaksa rakyatnya untuk memilih dari sekian banyok calon pemimpin yang oleh sebagian orang dianggap tidak layak. Lalu dimana letak kemerdekaannya dari demokrasi ?.

Sebagai negara yang mengadopsi faham demokrasi, semua warga negara punya hak yang sama (katanya), demikian juga dalam menentukan pilihan pada pemilu. Bebas memilih calon nomor 1, 2, dan lain sebagainya yang jumlahnya *seabrek, *harusnya bebas juga untuk memilih calon yang ada atau tidak tidak memilih calon yang ada.

[![Para Pendukung Golput di Pemilu 2009](https://blog.rosid.net/content/images/2011/06/64148_demonstrasi_mendukung_golput_dalam_pemilu-300x224.jpg "Para Pendukung Golput di Pemilu 2009")](https://blog.rosid.net/content/images/2011/06/64148_demonstrasi_mendukung_golput_dalam_pemilu.jpg)
Para Pendukung Golput di Pemilu 2009 (ureport.vivanews.com)
Andaikata golput dianggap sah sebagai “suara” rakyat bagaimana ?. Oke, rasanya itu tidak mungkin. Tapi perlu diketahui bahwa banyak juga orang yang golput dengan dasar ideologi yang kuat. Baik ideologi yang bertolak belakang dengan demokrasi itu sendiri maupun yang sangat menjunjung faham demokrasi. Dan inilah yang disebut “Golput tapi berpolitik”. Banyak hal memang yang meyebabkan setiap orang untuk memilih atau tidak memilih pada Pemilu :

Masalah Internal KPU Dalam Penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Indonesia sudah beberapa kali menyelenggarakn Pemilu, harusnya masalah seperti ini sudah tidak perlu terjadi. Kalau hal ini tidak terjadi sepertinya akan lebih berkesan dari Pemilu 1955 yang dianggap sebagai Pemilu paling membanggakan sepanjang sejarah.

Menyusun DPT adalah tugasnya KPU dan Pemerintah. Kalau untuk menyususn DPT saja masih babak belur dan *amburadul *bagaimanamungkin hasil pemilunya bisa dibilah sah. Kesalahan dalam penyusunan DPT bisa disebabkan secara sistematis maupun keteledoran, tapi ada juga keteldoran yang sistematis. Ada satu bagian dari Pemilu yang dihilangkan dari zaman orde baru, yaitu Panitia Pendaftaran Pemilih (Pantarlih). Dengan hilangnya Pantarlih ini Pemilu 2004 dan 2009 selalu diributkan dengan persoalan DPT.

Saya tahu persis banyak petugas-petugas pendataan pada Pemilu 2009 yang tidak mendata langsung secara door to door. Mereka banyak menggunakan data sensus atau data kependudukan lain yang tidak jarang sudah bisa dibilang basi, basi karena diantara nama-nama penduduknya sudah ada yang meninggal dunia. Belum lagi ditambah dengan masyarakat muda yang baru memiliki hak pilih.

Apatisme Masyarakat

Apatisme masyarakat dalam Pemilu tentunya bukan tanpa alasan. Kalau penguasa berkoar-koar rakyatnya supaya tidak golput dan bersikeras mengajak rakyat untuk memilih saya rasa percuma saja. Percuma, karena rakyat sekarang mulai tidak mudah dibodohi. Lima tahun mereka *dikadali * dan dikecewakan dengan janji-janji palsu sang calon yang kini berkuasa, wajar saja kalau mereka apatis. Dengan kata lain “milih calon atau tidak sama saja, lebih baik memilih tidak milih”. Jadi tunjukanlah kepada rakyat kalau rakyat tidak salah memilih Anda. Saya yakin, pada saatnya pemilu nanti tidak disuruhpun rakyat akan mendukung Anda kembali.

Memilih Golput Karena Ideologi

Ini memang tidak sebanyak yang apatis, tapi percayalah kalau prosentase orang-orang yang golput karena ideologis semakin meningkat. Jangan salahkan rakyat kalau mereka mempunya ideologi yang berbeda, tapi lihatlah diri Anda yang menjadi ujung tombak ideologi yang dipakai saat ini, jangan-jangan perilaku politik Anda saat ini sangat menunjukan kebobrokan ideologi yang Anda usung.

Masyarakat yang golput karena alasan ideologi bisa dibilang jauh lebih berpolitik dibandingkan orang-orang yang berprinsip “mau tidak mau, ya pilih aja yang ada”. Kebobrokan-kebobrokan para penguasa dan lingkungan yang setiap hari dikabarkan oleh media memberikan gambaran kalau “tidak ada satu partaipun yang baik dan benar, berarti ikut memilih sama saja ikut memperburuk keadaan”. Ini semakin memberikan alasan kepada mereka untuk beralih pada ideologi lain baik secara religius maupun dengan menunggu sampai adanya perombakan sistem ideologi secara signifikan.

Banyak alasan orang untuk golput, seperti banyaknya pula alasan orang untuk memilih calon yang ada. Tapi saya lebih percaya kalau orang yang golput itu mempunyai alasan yang lebih logis untuk memilih golput ketimbang kebanyakan orang yang “mau tidak mau, ya pilih aja yang ada”.

Pada Pemilu Legislatif  2009, Dari 171.265.442 jumlah pemilih yang terdaftar sebagai pemilih tetap, hanya 121.288.366 orang yang menggunakan hak pilih. Dengan demikian terdapat 49.677.076 pemilih yang tidak ikut mencontreng. Sedangkan partai pemenangnya sendiri meraih 21.703.137 suara. Ini baru golput dari yang terdaftar, belum lagi yang tidak terdaftar. Kalau golput dianggap sebagai sebuah “pilihan” sudah jelas golputlah pemenangnya. Jadi jangan heran kalau tindak-tanduk angota parlemen kita sering menegecewakan, wong sama sekali mereka tidak mewakili keseluruhan rakyat Indonesia.

Kalau saja golput itu dihitung sebagai “pilihan”, maka bisa dipastikan saat ini kita tidak mempunyai wakil yang sah. Dan kalau golput dihitung sebagai suara yang sah, maka Ada apa dengan sistem kenegaraan kita ?.