[![Kesan Pertama Langsung Menggoda](https://blog.rosid.net/content/images/2012/04/kesan-pertama-300x235.jpg "Kesan Pertama Langsung Menggoda")](https://blog.rosid.net/content/images/2012/04/kesan-pertama.jpg)
Kesan Pertama Langsung Menggoda (ilustrasi, pra-edit by purduecco.wordpress.com)
Sebagian besar dari kita, tentunya sudah tidak asing lagi ya sobat dengan istilah yang pernah dipopulerkan oleh sebuah iklan ; *“kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda…!”. Nah, *bagaimana menurut sobat-sobat tentang kesan pertama ?.

Cara orang memandang dan memegang kesan pertama itu ternyata berbeda juga ya, ada yang menganggapnya sangat penting, ada juga yang bilang kalau itu tidak penting. Kalau saya sendiri ada di “belahan” yang mana ?, nanti terserah sobat menyimpulakannya sendiri.

Orang-orang menganggap kesan pertama itu penting paling tidak dalam dua hal, menarik atau tidak. Kalau menarik, *its oke, *ada peluang buat menjadi yang terpilih. Sementara kalau kesan pertama saja tidak menarik atau bahkan menyebalkan, maka siap-siap buat tereliminasi. Ini bukan cuma sekedar dalam soal pasangan hidup, tapi juga bisa berkaitan dengan pekerjaan, atau juga pertemanan.

Mementingkan kesan pertama tentunya bukan tanpa resiko. Kalau dalam menilai kita beranggapan bahwa kesan pertama itu penting, kita harus siap pada konsekuensi pilihan yang kita ambil. Misalnya begini ;

Ada seseorang yang baru pertama kali bertemu dengan kita, sudah sangat memberikan kesan yang mendalam, sampai-sampai tidak bisa tidur karena langsung kesengsem alias naksir.

Pada kondisi demikian, pikiran kita jarang sekali mampu berkembang untuk menghadirkan aspek lain sebagai bahan penilaian, dan itu butuh waktu yang tidak cukup sebentar. Kalau mudah terbius oleh kesan pertama yang sepertinya menggoda, berarti harus siap-siap dengan resiko “terjebak”.

Kebalikan dari kesan pertama yang mengesankan adalah “*kesan pertama begitu menyebalkan”. *Tapi, kita bisa bertanya kepada beberapa pasangan yang sudah menikah tentang bagaimana kesan mereka saat pertama kali berjumpa dengan orang yang kini menjadi pasangan hidupnya. Tidak sedikit dari mereka yang mengatakan ; *“hemh… awalnya menyebalkan, tapi gak tau kenapa lama kelamaan menjadi suka, dan sekarang malah merasa bahagia”. Nah, *bagaimana kalau kesan pertama yang menyebalkan itu langsung dikunci tanpa memberikan diri mereka kesempatan untuk menilai lebih luas ?, mungkin satu kesempatan yang membuat mereka bahagia harus dalam episode yang berbeda, antara bisa didapatkan atau tidak.

Kadang pentingnya sebuah kesan pertama menjadi terbentuk karena stereotip yang terlanjur terbangun di masyarakat. Stereotip bahwa “kesan pertama harus menyenangkan” setidaknya sudah menuntut banyak orang harus bersikap menyenangkan untuk sebuah awal pertemuan, meskipun itu harus berpura-pura dan dengan cara yang bukan karakter fitrah dirinya. Hubungan antara orang-orang yang menganggap pentingnya sebuah kesan pertama dengan orang-orang yang harus patuh pada “menyenangkan” di kesan pertama mendorong lahirnya tradisi bahwa ; siapapun harus bersikap menyenangkan di kesan pertama.

Ketika semua orang “terpaksa” untuk menjadi pribadi yang menyenangkan di kesan awal, secara tidak disadarai kadang ini menjadi sebuah jebakan bagi para penilai yang menganggap bahwa The first impression must be temptingjika tidak benar-benar piawai dalam menilai. Yang malang adalah mereka-mereka yang pribadi aslinya sangat menyenangkan, tapi karena faktor “x” (kurang beruntung mungkin) ia terlihat kurang menyenangkan di sebuah awal pertemuan. Tentunya, ini kerugian juga buat yang menilai hanya dari sisi kesan pertama.

Stereotip kesan pertama juga tidak bisa lepas dari peran positifnya. Dari faham pentingnya kesan pertama, bisa menjadi celah untuk mencuri kesempatan, baik itu untuk melangkah menjadi pasangan hidup atau mitra kerja. Tapi, kesempatan yang diraih berkat kesan pertama yang menyenangkanpun tentunya tidak berarti apapun, ketika kesempatan yang didapat tidaklah mampu dipertanggungjawabkan sesuai kesan awal yang ditampilkan.

Dari situ, kemudian saya beropini kalau untuk “mitra” jangka panjang, entah itu soal karir maupun pasangan hidup, saya tidak bisa bergantung pada kesan pertama. Harus tetap ada proses yang dilalui, paling tidak untuk membuktikan apa yang ditangkap dari kesan pertama, konsisten baik atau buruk kah ?, ada perubahan yang positif atau negatif kah ?. Lebih bagus lagi mungkin kita tahu track record-nya sebagai bahan pertembingan, tidak sepenuhnya rekam jejak tersebut dijadikan acuan, karena siapapun punya kemungkinan untuk berubah menjadi lebih baik.

Namun, bagaimanapun kesan pertama memang sudah terlanjur menjadi bagian dari sebuah pertemuan dan penilaian, dan kitapun tetaplah harus menyenangkan. Tapi, alangkah lebih elok lagi kalau menyenangkannya kita tidak hanya untuk kesan pertama, tapi untuk semenjak pertama hingga seterusnya, dan semakin menyenangkan. Semoga, kita bisa menjadi orang-orang yang selalu dan semakin menyenangkan 🙂

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)