Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, saya ingin sobat-sobat (kuhususnya yang seiman) untuk memerhatikan gambar dibawah ini

Apa yang pertama atau paling sobat-sobat perhatikan ?, pasti Ka’bahnya bukan ?. Terlepas dari konteks ritualnya, Ka’bah memiliki satu ciri khas yang biasa tapi dirasa sangat luar biasa. Bentuknya yang kurang lebih berbentuk kubus tentu adalah bentuk yang sangat sederhana, nyaris tidak ada bentuk bangun yang lebih sederhana dari kubus. Tapi, dalam kesederhanaan bentuknya Ka’bah memancarkan keindahan yang luar biasa. Yang mampu membuat siapapun meneteskan air mata ketika menatapnya secara langsung atau bahkan tidak langsung.

Didalam kesederhanaanya tersimpaan keberkahan yang luar biasa, keberkahan yang mampu menjadikan siapapun rindu untuk dapat mendatanginya.

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. Aali Imran: 96)

Ka’bah bukan dibangun dari emas maupun perak, tidak ada kesan mewah pada bangunan ini. Rangkaian batu kasar berbentuk kubus dan dibalut dengan Kiswah berwarna hitam, sangat sederhana. Namun, umat muslim se dunia tidak ada satupun yang meragukan keindahan Ka’bah dan wibawanya yang agung. Dibalik kesederhanaan bentuknya Ka’bah memiliki satu gambaran sifat yang patut kita benamkan kedalam diri kita.

Dikagumi Karena Kesederhanaan

Ketika kita menilai secara rasional, dari hati yang paling kecil saya yakin kita akan lebih menaruh rasa kagum dan hormat kepada orang-orang yang bersikap sederhana dan bersahaja, tidak pamer apalagi sok kaya. Kalau kita bisa melihat seperti itu, lantas kenapa tidak kita untuk bersikap hidup secara sederhana ?. Toh dengan begitu kita akan lebih berada pada posisi yang terhormat dan juga mengurangi peluang orang lain untuk berdosa dengan mempergunjingkan kemewahan kita yang memang belum tentu diperoleh secara halal.

Ketika kita berkaca pada sederhananya Ka’bah maka sepertinya kita sangat tidak layak untuk bersikap mewah apalagi sombong. Di sekeliling Ka’bah dibangun berbagai bangunan mewah dan megah seperti hotel, mall, restoran, dan lain sebagainya. Tapi semua bangunan mewah tersebut nampaknya tidak mampu menandingi keindahan yang terpancar dari Ka’bah.

Ketika orang lain disekeliling kita sibuk bermewah-mewahan, (tanpa bermakusd menggurui) saya berpendapat sepertinya yang sederhana akan tetap lebih pada posisi yang terhormat. Hadirnya tetap jauh lebih memancarkan cahaya ketimbang kilauan kemewahan.

Stabil dan Konsisten

Dasar bidang bangun Ka’bah adalah kubus, kubus memiliki sifat bentuk yang konsisten. Dengan disokong oleh panjang sisi, besar sudut, dan panjang siku yang nyaris sama, membuat kubus memiliki gambaran kestabilan yang absolut dan tahan terhadap tekanan. Berbeda dengan bentuk bola yang cenderung lebih tidak stabil dan mudah berganti arah setiap ada tekanan.

Filososfinya adalah Ka’bah yang berbentuk kubus mengajarkan bagaiamna kita untuk istiqomah pada kebenaran dan berpegang teguh pada keimanan. Jika itu diibaratkan hati pada diri kita, maka dari hati yang istiqomah dan penuh keimanan tersebut akan terpancar satu karakter yang sederhana tapi penuh wibawa. Itulah yang disebut manusia berhati Ka’bah. Mudah-mudahan kita bisa menjadi seperti itu.

Ketika hati kita sekokoh Ka’bah maka kemewahan apapun tak akan mengoncang pribadi kita. Tak terbudaki oleh kemilaunya harta dan kekayaan. Akan tetap menjadi sosok yang sederhana namun memancarkan kemuliaan. Konsistensinya akan menjadi penggerak kehidupan ketika yang lainnya menjadi lumpuh karena terlalu letih bergelinding kesana kemari layaknya bola.

Sobat, demikian sedikit uraian sederhana tentang sesuatu yang sederhana namun memiliki efek yang luar biasa. Semoga apa yang baik dari tulisan ini bisa menjadi bahan cerminan untuk kita terus berubah menjadi lebih baik, dan apa yang salah dari tulisan ini mudah-mudahan bisa kita perbaiki bersama untuk menjadi lebih baik. Yang pasti ;

Sederhana itu Indah, Seindah Ka’bah yang Sederhana