Sudah lama sekali tangan ini tidak mengayunkan kuas di atas kanvas, menorehkan aneka warna yang bisa berurai makna dan cerita. Meski bukan seorang pelukis profesional, tapi hobi masa kecil itu pernah membantu memetik beasiswa SD selama 1 tahun dan SMA selama 2 tahun.

Rindu untuk melakukan hal itu ?

Tentu saja iya. Rindu itu muncul disertai dengan bayang-bayang rasa khawatir tangan sudah kaku untuk meracik pesona indah yang muncul dari imajinasi pikiran dan luapan perasaan.

Saat pikiran bertanya “*kapan rindu itu akan kau labuhkan ?”. *Dengan sendirinya pikiran menjawab “*kelak, saat suasana memungkinkan untuk itu”. *Sampai disitu pikiran diam, karena enggan menguraikan suasana yang memungkinkan itu seperti apa.

Bayangan terlontar jauh ke belakang, melayang ke saat-saat masih duduk di kelas 2 SD. Saat dimana imajinasi mengajari saya melukis menggunakan cat air di atas kertas tanpa sketsa pensil. Resiko salahnya besar, meski ada strategi menimpanya dengan warna lain tetap tidak akan serupa dengan pulasan tanpa kesalahan.

Orang tua mendukung hobi saya, tapi dalam bentuk spirit, bukan materi. Tahukah Anda ? bahwa dukungan seperti itu ternyata efeknya lebih dahsyat dari dukungan materi, karena di dalamnya ada kemerdekaan yang memberi kita ruang bebas berekspresi tanpa hambatan. Saya yakin, bagi para seniman manapun ruang bebas berekspresi adalah dukungan yang paling penting, karena tanpa itu tidak akan lahir karya-karya yang dahsyat, sekalipun menggunakan material yang paling mahal.

Beranjak usia beranjak pula media lukisnya, dari lembaran karton ke bentangan kanvas. Tantangan kian bertambah, bukan hanya tentang bagaimana belajar beradaptasi dari cat air ke cat minyak, tapi juga bagaimana caranya mendapatkan tambahan celengan yang lebih besar agar bisa membeli kanvas, cat minyak, dan lain sebagainya yang harganya diatas kertas dan cat air.

Lama tak bergelut dengan aktivitas lukis-melukis menginspirasi saya pada satu pelajaran penting soal falsafah hidup yang bisa diambil dari melukis, apapun alirannya, dan bagaimanapun rupa hasilnya.

Ya, hidup tak ubahnya melukis (tanpa penghapus). Setiap torehannya adalah jejak abadi yang akan terus memberi bekas. Saat torehan itu dipulaskan, kita selalu dihadapkan pada pilihan mengakhirinya (menyerah) atau melanjutkannya dengan rasa semangat serta yakin bahwa pulasan selanjutnya akan mampu menumbuhkan pesona lebih indah. Dengan sendirinya pulasan sebelumnya yang salah akan sirna oleh kesan indah pulasan terbaru. Walau mungkin tak sepenuhnya sirna, itu sudah menujukan bahwa kita berusaha untuk lebih baik.

Hidup itu seperti melukis, pada prosesnya kadang rumit, terlihat berantakan, kusut, semrawut, tapi sejatinya itu adalah rangkaian menuju hasil akhir yang indah. Kecuali jika kita menyerah dan berhenti pada titik rumit yang berantakan.

Hidup itu seperti melukis, nyaris hanya kita dan Tuhan yang mengerti seperti apa wujud sebuah lukisan yang lahir dari pikiran kita. Ini memberi pelajaran bahwa kita yang tahu, kita yang mengerti, berarti kita yang harus melakukannya. Tidak bergantung kepada orang lain untuk sesuatu yang ingin benar-benar persis seperti yang kita harapkan. You can think it, you can do it !

Hidup itu seperti melukis, melakukan sesuatu yang bukan sekedar dari apa yang dilihat, tapi dari apa yang dirasakan. Apa yang dikatakan oleh diri sendiri dari apa yang dilihat. Inilah naluri, inilah hati kecil yang sulit dibohongi sekalipun oleh mata yang melihat langsung.

Hidup itu seperti melukis, dibalik lukisan yang indah selalu ada pelukisnya, begitu juga dibalik indahnya alam kehidupan pasti ada Maha Penciptanya.

Lukisan adalah puisi diam, dan puisi adalah lukisan yang berbicara.

– **Plutarch – **