Setelah merasa “tertipu” oleh Google Maps tentang lokasi kantor pos terdekat dari tempat kos saya di Bogor, akhirnya saya memutuskan untuk okelah saya langsung ke kantor pos yang di Jalan Pajajaran saja. Lumayan, setelah berjalan kaki sekitar 30 menitan (tadinya mengira kalau kantor pos seperti yang tertera di google maps itu benar-benar dekat, ternyata setelah berjalan  sampai Sukasari tidak kunjung nampak bangunan yang selalu berwarna orange itu) sayapun lebih memilih naik Angkot karena berkejaran dengan kerjaan yang harus saya selesaikan.

Jam 9 lebih beberapa menit, saya baru keluar dari kantor pos. Waduh, ternyata waktu sudah mepet banget ke kerjaan saya, ditambah lagi belum sempat sarapan. Akhirnya saya memutuskan langsung menuju ke Taman Koleksi (Takol) yang berlokasi di samping Botani Square. Sarapannya nanti aja sekalian makan siang.

Bagi masyarakat Bogor mungkin sudah tidak asing lagi dengan Takol. Takol ini sebuah taman yang cukup asri dan sejuk meskipun berada di pusat kota (Wew… wajar aja, orang pusat kotanya juga di kelilingi gunung 😀 ). Takol sering menjadi tempat favorit buat banyak orang, entah tua maupun muda. Baik yang sekedar nongkrong untuk santai-santai sejenak, ataupun buat yang mau mengerjakan tugas sekolah/ kuliah dengan situasi yang fresh.

[![Pohon Randu Taman Koleksi](https://blog.rosid.net/content/images/2012/02/TAMAN-KOLEKSI.jpg "Pohon Randu Taman Koleksi")](https://blog.rosid.net/content/images/2012/02/TAMAN-KOLEKSI.jpg)
Pohon Randu Taman Koleksi (foursquare.com)
Titik yang menjadi favorit adalah di bawah sebuah pohon randu besar yang disekelilinya ada sekitar enam tempat duduk plus meja yang terbuat dari beton. Situasinya kurang lebih seperti gambar disamping.

Begitu saya sampai di Takol, alhamdulillah masih ada satu tempat duduk plus dengan mejanya yang masih kosong di bawah pohon randu. Langsung buka netbook, colokin modem, mulailah saya bekerja.

Karena hari sudah agak sedikit menuju siang, saya mulai merasa terganggu oleh sorotan matahari yang menyinari saya secara langsung melalui celah-celah diantara rindangnya daun pohon randu. Apalagi ketika sorotan tersebut mengenai layar netbook, kerasa silaunya meskipun pakai Unbacklight.

Saya perhatikan tempat duduk yang diisi oleh orang lain, sepertinya adem-adem saja.

Begitu ada salah satu tempat yang ditinggalkan orangnya, sayapun bergegas pindah ketempat itu karena sepertinya tidak kena sorotan matahari. Selang beberapa detik saya pindah, ternyata kejadiannya sama saja dengan sebelum saya pindah, kena sorotan matahari juga.

Penasaran dengan tempat duduk yang ditinggalkan oleh orang lain, sayapun kembali pindah untuk yang kedua kalinya. Hemhh… untuk kali ini tidak sama sob, tapi beda sedikit, lebih panas !. Padahal tadi sewaktu saya perhatikan dari tempat saya sepertinya lebih teduh. Mau balik lagi ketempat semula, sudah ada yang ngisi.

Untuk yang ketiga kalinya sayapun lakukan hal yang sama, pindah begitu ada yang kosong. Yups… bisa ditebak, sama saja. Mudah-mudahan gak ada yang memperhatikan “kelakuan aneh” saya dengan pindah-pindah tempat duduk.

Untuk kali ini saya pasrah, setelah mencoba duduk di empat tempat. Kemudian saya baru ngeuh kalau ternyata kerjaan saya rada sedikit terbengkalai karena konsentrasi cenderung fokus mikirin tempat duduk yang seratus persen tidak tersorot sinar matahari langsung, padahal seharusnya saya fokus ke kerjaan.

Begitu waktu dzuhur tiba, sayapun beranjak sholat dan juga makan siang. Tapi penasaran masih sedikit menggantung dipikran saya. Sayapun nekat mengelilingi pohon randu tersebut buat merhatiin satu persatu tempat duduknya, apakah semuanya kena sorotan sinar matahari atau tidak. Biarin dah orang mau menilai saya aneh atau apa. Setelah semuanya saya kelilingi, kesimpulan akhirnya adalah : “semuanya kena sorotan matahari, hanya memang akan terlihat samar ketika dilihat dari tempat duduk saya yang berjarak beberapa meter, ditambah lagi dengan kondisi mata saya yang minus”.

Kesimpulan

Seringkali kita tertipu oleh hawa nafsu dan fananya duniawi. Kita sering merasa kalau “rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput kita”, yang padahal tidak jauh berbeda dengan rumput kita sendiri. Padahal dengan arah sibakan yang dibantu oleh sorotan sinar saja bisa membuat warna rumput menjadi berbeda. Seperti warna rumput di stadion yang bisa belang-belang. Banyak yang mengira kalau itu memang beda warna atau bahkan dipotongnya tinggi sebelah. Padahal itu sebagian besarnya adalah sebuah teknik ilusi yang cukup dengan mengatur bungkukan rumput.

Hal yang paling sering terabaikan adalah rasa syukur atas apa yang sudah kita dapatkan, seperti mungkin saya yang kurang bersyukur ketika masih ada tempat duduk yang kosong dibawah pohon randu tersebut.

Menjadi lebih mengkhawatirkan ketika itu diibaratkan mencari pasangan hidup.

Mungkin pernah ada yang tahu kisah tentang seseorang yang disuruh memilih rumput yang paling bagus dari satu ujung lapangan bola ke ujung yang lainnya tanpa boleh mundur kembali. Orang tersebut selalu berpikiran “ah siapa tahu ada yang lebih baik dari rumput ini”, tidak terasa ia sudah sampai di ujung lapangan bola tanpa satupun rumput ditangannya, dan apa yang dihadapannya saat ini adalah kumpulan rumput yang sangat kurang bagus, mau tidak mau diapun harus mengambil diantara yang tidak bagus tersebut.

Kurang lebih begitu pula dengan kisah saya di bawah pohon randu tersebut. Kita terlalu sibuk berandai-andai “ah siapa tahu” tanpa memperdulikan masalah “waktu” dan “kesempatan”. Akhirnya waktu dan kesempatan banyak terbuang, hasilnya tidak memuaskan, kenyamanan dalam prosespun tidak didapatkan. Hemh… saya jadi ingat dengan apa yang tertuang di Al Qur’an :

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Meskipun ayat itu menjelaskan tentang hukum perang dalam Islam, sepertinya berlaku juga untuk perang melawan hawa nafsu kita, hawa nafsu yang sering merasa tidak puas dan lupa untuk bersyukur. Wallahu’alam, mudah-mudahan ini bukanlah sebuah kekeliruan dalam pemahaman saya, dan kalaupun itu sebuah kekeliruan semoga Allah meluruskan kekeliruan saya.