Ada satu kebiasaan yang sering saya lakukan kalau naik taksi, yaitu ngajak pengemudinya gobrol. Apapun taksinya.

Umumnya saya ngajak ngobrol dimulai dari pertanyaan “sudah berapa lama menjadi sopir taksi di armada tempat dia bekerja”. Selanjutnya obrolan ya  mengalir begitu saja. Tujuan saya hanya ingin suasana di dalam mobil itu menjadi cair, tidak ada gap seolah-olah penumpang adalah raja. Jangankan dengan sopir taksi, dengan tukang ojekpun ya begitu.

Saya pernah bertanya “tantangan apa yang paling sulit dihadapi ketika mengemudi di jalanan ?”. Jawabannya beragam, ada macet, sepi penumpang, ancaman keamanan, stereotif negatiie karena ulah oknum sopir nakal, dan lain sebagainya.

Dari sekian banyaknya jawaban, ada satu jawaban yang cukup menarik, yaitu “seperti dianggap bukan manusia”.

Ketika Anda naik taksi berdua, maka di dalam mobil taksi menjadi bertiga (dengan sopir). Kebanyakan orang, ketika naik taksi berdua hanya asyik berbicara berdua saja, apapun topiknya. Sopir taksi diacuhkan begitu saja, seolah ia tidak tahu, tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak mengerti apa-apa yang kita katakan dan kita perbuat.

Betul memang, bisa jadi obrolan kita tidak ada urusannya dengan sopir taksi. Tapi bagaimanapun yang menjadi  sopir taksi tersebut adalah manusia yang punya akal, perasaan dan pendengaran. Kita sering lupa, bahwa pada saat itu sopir taksi sedang berperan menjadi sopir pribadi kita.

Sopir taksi sadar, itu bukan urusannya. Tapi kita bisa membayangkan bagaimana setiap harinya ia harus mendengar obrolan dan melihat kelakuan penumpangnya yang beragam,  yang  tidak perlu dan tidak ingin ia dengar.

Bagi sebagian sopir taksi mungkin sudah terbiasa dengan mengabaikan apa yang baru saja terjadi di dalam taksi yang ia kemudikan, tapi bagaimana dengan yang lainnya ?, apalagi yang sensitivitas berpikirnya tinggi.

Kita memang tidak harus melibatkan sopir taksi ke dalam obrolan kita, tapi tidak berbicara masalah pribadi di dalam taksi rasanya adalah pilihan yang lebih bijak. Paling tidak, kita sudah mengurangi beban si pengemudi karena  mendengar yang tidak semestinya ia dengar.