Dengan datangnya surat ini ditanganmu yang halus dan lembut. Terbang tanpa sayap, berjalan tanpa kaki *(Ngeeeeeeeeesssooooootttt kaleeee? 😀 ). *Perkenankanlah hatimu dan pandanganmu sejenak untuk membaca surat ini….

Dik, (Adik apa Sidik nih maksudnya ?)

Seakan sulit memang  untuk melewatinya, tapi inilah kenyataan hidup yang harus ditempuh

Kenyataan yang tidak bisa dipungkir ataupun diusir

Kenyataan yang tidak bisa dihindar ataupun ditawar

Kenyataan yang harus menjadi cerminan untuk melangkahkan kemana kaki mengarah

Maafkanlah aku, andaikan pernah menoreh luka dihatimu yang setia

Maafkanlah aku, andaikan tidak bisa menjadi seperti yang kau pinta

Tak ada satu orangpun yang menginginkan perpisahan, tapi faktanya seringkali perpisahan adalah hal yang tidak bisa kita hindari. Dan, inilah aku… aku yang tak lebih dari seorang lelaki pecundang, lelaki yang tak berani melupakanmu. Tanpa cela, Tuhan menampakan segala kebaikanmu dimataku, sehingga sama sekali belum ku temukan ruang tempat untuk melupakanmu.

Perpisahan adalah satu hal yang pasti, hanya mungkin caranya yang berbeda. Dan inilah cara yang Tuhan kehendaki untuk kita. Dan mesikpun perpisahan sudah menjadi keputusan, Insya Allah diantara kita tidak akan pernah ada dendam dan kebencian. Serasa tidak pantas jikalau kita harus meletakan dendam dan kebencian diatas rasa sayang yang pernah menjadi tali antara kau dan aku.

Biarlah rasa sayang tersebut tetap tumbuh walaupun mungkin tidak lagi diladang hati yang sama. Paling tidak, garis hidup telah mencatat kalau rasa sayang tersebut pernah tumbuh diladang hati ini yang tak akan ku biarkan menjadi gersang dengan siraman kasih sayang-Nya.

Suka dan duka adalah dua sisi dari koin yang sama, tapi aku tak berani mengundi diri. Segala kemungkinan mempunyai peluang terbuka yang sama, seterbuka kemunginan kita untuk bertemu kembali jika Tuhan menghendaki.

Dengan perpisahan ini…

Jangan pernah kau salahkan cinta, jangan pula kau salahkan waktu. Karena semua itu, adalah  proses kehidupan yang harus kita lewati bersama

Jangan pula engkau salahkan pertemuan,  apalagi mempertanyakan “mengapa semuanya harus berakhir ?”. Karena semua itu adalah proses kehidupan yang harus berlaku pada semua orang. Tanpa itu semua kita tidak akan pernah merasakan indahnya sebuah cinta yang sebenarnya, seperti kita tidak dapat merasakan segarnya air sebelum ada dahaga yang dirasa.

Teruslah berjalan dengan berjuta semangat dan harapan. Akan hadir berjuta peluang dan kesempatan ditengah kebebasan. Langkahkanlah kaki kananmu diatas kebenaran dan kaki kirimu diatas kemuliaan. Insya Allah yang terbaik dari yang baik akan mengisi ruang hatimu yang pernah aku tempati.

Ketika jemari tak sanggup lagi saling menggengam

Ketika peluk hanya melingkar diruang kosong, hanya lengan kehilangan dan kesendirin yang bisu

Yakinlah, bahwa Tuhan akan selalu mendekapmu melebihi segela kebesaran cintaku

:berduka

*Hahaaaaaaaaaaaaayyy…. so, romantis bener ya gue. Plissss deh ah jangan lebay.  :hammer ***

***Wajahmu memang manggis, ***

watakmu juga melon-kolis,

tapi sifatmu membuat hatiku nanas dan cemburu,

sirsak napasku,

anggur lebur hatiku,

ini delima dalam hidupku,

memang sih ini juga salakku,

jarang apel malam minggu,

ya Tuhan, mohon belimbing-Mu,

kalo memang perpisangan ini yg terbaik untukku,

semangka kau bahagia dengan pria lain…

Sawonara….

 (perpisahan ala Tukang Buah)

*Eyyyyyyyyyaaaaaaa**a….. !!!! Dorong-dorong Becak Mangkal  :tkp *:tkp