Beberapa waktu lalu, saya benar-benar dalam kondisi yang sulit secara materi karena baru saja “diwisuda” jadi pengangguran, ditambah lagi dengan beberapa problem. Sempat terpikirkan dalam benak saya untuk menjual laptop yang kurang lebih baru sekitar 11 bulan menemani aktivitas saya dalam ngeblog. Apa yang terpikirkan itu akhirnya menjadi satu keputusan bulat.

Berat memang rasanya, apalagi selanjutnya sudah terbayang saya akan sangat kesulitan kalau mau ngeblog. Padahal, ngeblog bisa dibilang satu-satunya kegiatan yang mengibur juga mendidik buat saya. Beberapa teman, pastinya masih ingat ketika saya menawarkannya.

Saya minta tolong sama Ramy (si pembantah kalau dirinya bukan alien) buat ngejualin laptop saya di KasKus. Yah… saya nitip sama dia karena memang reputasinya di Kaskus cukup bagus. Responnya benar-benar diluar diguaan, dalam hitungan jam sudah ada yang mengubungi saya. Dari beberapa yang menghubungi ada satu yang harganya dirasa cocok, akhirnya dibuatlah kesepakatan untuk bertemu dan bertransaksi secara langsung. 

Karena jarak saya dan si calon pembeli cukup jauh, akhirnya kamipun sepakat untuk bertemu di lokasi yang bisa dibilang berada di tengah-tengah, yaitu daerah Kebon Nanas – Tangerang. Keesokan harinya sesuai jam yang disepakati sayapun langsung meluncur ke Kebon Nanas. Tidak berselang lama saya tiba di Kebon Nanas, langit yang terang benderang seketika gelap gulita, dan… hujan deras disertai petirpun turun. 

*Handphone *berbunyi, ternyata panggilan dari si calon pembeli. Apa yang tidak dikehendaki terjadi, si calon pembeli tidak bisa melanjutkan ke Kebon Nanas karena cuaca sangat tidak memungkinkan baginya yang menggunakan sepeda motor. Sayapun langsung lesu, kesal. Keluhan demi keluhan saya lontarkan kepada Allah SWT. Tidak sampai kepada hujatan, istighfar coba terus saya ucapkan seraya menjaga hati agar tetap mampu bersabar, meskipun tetap penuh tanya : “Ya Allah… ada apa sebenarnya ini ????”.

Saat itu, tak ada satupun yang tahu persoalan inti yang saya hadapi. Sudah menjadi kebiasaan buruk mungkin, kalau ada problem terus dipendam sendiri. Tapi memang kadang saya lebih suka memilih demikian ketimbang harus berbagi dengan orang yang tidak tepat. Sebelumnya saya lebih senang curhat kepada ibu, tapi kini saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak berbagi keluh kesah dengan ibu. Dengan jauh dari nya saja sudah pasti saya menjadi beban kekhawatirannya, apalagi kalau ditambah dengan curhatan berbagai persoalan.

Kembali ke masalah laptop !.

Sepanjang perjalanan pulang kembali dari Kebon Nanas, pikiran tak henti-hentinya mengeluh dan bingung ; *“Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan ?”. *Sebisa mungkin bathin meyakinkan seluruh raga kalau Allah pasti akan memberi jalan. Dan, semenjak ada kesepakatan harga dengan si calon pembeli yang tadi tidak ada lagi yang menghubungi saya. Sempat ada harapan ketika esok akan mencoba bertemu lagi di tempat yang sama.

Keesokan harinya, si calon pembeli menelepon saya, dia memberitahukan kalau pembeliannya dibatalkan, karena uangnya dipinjam oleh bibinya buat biaya persalinan. Pada dasarnya saya bisa memahami dan memakluminya, tapi iblis terus berusaha menggoda hati saya untuk merasa kecewa, dan faktanya memang tidak bisa dipungkiri rasa kecewa itu tetap ada.

Sekitar satu minggu kemudian, ditengah isi kantong yang sudah sangat menipis, kakak saya meminta tolong untuk mengantarkan beberapa dokumen angkutan logistik ke temannya di Bekasi karena ia tidak sempat. Dari banyaknya dokumen yang harus saya bawa dan juga di jaga, diluar dugaan saya diberi upah 400 ribu rupiah. Lumayan, tapi itu masih dirasa belum cukup untuk bekal saya yang rencananya akan mencoba mengadu nasib di Kota Kembang. Tapi *its okey, *saya percaya selama niatnya baik pasti ada jalan. 

H – 2 saya akan nekat berangkat ke Bandung, seorang teman dari Bogor menawarkan saya pekerjaan. Sangat diluar dugaan, benar-benar kejutan. Setelah saya pikirkan kembali, akhirnya saya memilih ke Bogor dengan berbagai pertimbangan, termasuk pertimbangan soal hati. Heheheheeeeee…

Beberapa bulan kemudian, tepatnya hari ini. Saya dengan payahnya baru menyadari ada hikmah yang luar biasa. Pekerjaan yang saya lakukan sehari-hari saat ini sangat bergantung dengan gadget yang beberapa bulan lalu akan dijual.

Apa jadinya jika jadi terjual ?, saya tidak bisa melakukan pekerjaan ini, sementara uang hasil penjualan sudah sangat besar kemungkinannya habis tanpa perlu waktu yang lama. Mungkin juga skenario hidup saya tidak lebih baik dari saat ini.

Allah punya rencana yang luar biasa, sementara saya sering tidak menyadarinya. Sutradara yang Maha Hebat.

Apa jadinya kalau si calon pembeli tersebut jadi membeli laptop saya ?, bibinya akan kesulitan untuk mencari pinjaman buat biaya persalinan.

Inilah, yang disebut dengan *“dibalik kegagalan rencana kita, Allah mempunyai rencana yang jauh lebih baik”. *Bodohnya saya mungkin suka menghujat kegagalan tanpa pernah berpikir positif sedikitpun tentang skenario indah dari Allah SWT.

Sungguh, sebuah pelajaran yang berharga buat saya untuk bisa berpikir dan bersikap lebih *qanaah *terhadap segala keputusan-Nya, syukur-syukur bisa sampai zuhud. Karena, Allah pasti mempunyai skenario indah buat umat-Nya. Persoalannya adalah tinggal sayanya bersabar atau tidak. Sabar yang harus diikat dengan tali prasangka baik kepada-Nya.

“**Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 45-46)

Semoga Allah mengampuni segala prasangka buruk kita terhadap-Nya, dan jangan biarkan prasangka buruk itu tumbuh dalam diri kita walaupun dalam ukuran yang sangat kecil. Ampuni kami Ya Allah…

[![Seperti Dandelion yang terbang tanpa arah, padahal disetiap hembusan anginnya ada rencana Allah SWT](https://blog.rosid.net/content/images/2012/04/dandelion.jpg "Seperti Dandelion yang terbang tanpa arah, padahal disetiap hembusan anginnya ada rencana Allah SWT")](https://blog.rosid.net/content/images/2012/04/dandelion.jpg)
Seperti Dandelion yang terbang tanpa arah, padahal disetiap hembusan anginnya ada skenario Allah SWT