Berbicara masalah pangan jelas erat kaitannya dengan ujung tombak para pejuang pangan itu sendiri, ya… siapa lagi kalau bukan petani. Di era keemasannya Indonesia pernah menjadi salah satu negara dengan swasambada pangan terbesar di Asia bahkan di dunia. Masa-masa kejayaan saat itu tidak terlepas dari kegigihan semangat para petani yang dibarengi dengan dorongan inovasi dari pemerintah baik dari segi pola-pola pengembangan pertanian maupun regulasi-regulasi di bidang pertanian.

Lain dulu lain sekarang, lain pula karakter dan nasib petaninya. Dulu, dengan bertani saja masyarakat Indonesia sudah merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mulai dari sandang, pangan, papan dan biaya pendidikan. Kini keadaannya lain, dengan segala biaya hidup yang sangat tinggi rasanya terkesan mustahil bagi para petani Indonesia untuk hidup sejahtera dan berkecukupan dengan hanya bertani. Hal ini akhirnya lambat laun mendorong banyak petani Indonesia berbondong-bondong meninggalkan profesinya sebagai petani, dan sekaligus juga meninggalkan daerahnya untuk merantau keluar daerah (kota) atau bahkan ke luar negeri. Mereka tidak tahan lagi dengan terus menjadi pekerja berat dengan hasil yang minim.

Keadaan semakin parah, ketika budaya instanitas melanda bangsa Indonesia. Semua orang terpancing dengan segala kemewahan duniawi dan tuntutan hidup yang tadinya tidak penting menjadi pokok, inipun semakin memupuskan semangat sebagian besar penduduk Indonesia dalam bertani, apalagi bertani masih dianggap sebagian profesi rendahan.

Petani Indonesia umumnya memang adalah petani-petani kecil dengan median luas kepemilikan lahan sekitar 0,35 ha per rumah tangga petani (RTP), itupun dengan hitungan kasar rata-rata padahal faktanya sebagian besar petani Indonesia adalah petani buruh yang tidak memiliki lahan sendiri dan berprofesi sebagai buruh tani bagi mereka-mereka para pemilik lahan. Bisa kita bandingkan dengan petani padi di Thailand yang luas lahannya 4 ha/RTP; Malaysia 7 ha/RTP; Vietnam 2 ha/RTP;  Myanmar 2 ha/RTP; atau petani padi Australia : 150 ha/RTP; Amerika Serikat: 200 ha/RTP. (Republika, hal. 2 Kamis, 31 Maret 2011).

Tapi jangan salah sobat, dengan luas lahan rata-rata hanya 0,35 petani kita sudah dapat mencukupi kebutuhan pangan keluarga dan juga sebagian besar bangsanya. Subhanallah. Namun entah mengapa, profesi petani masih saja dianggap profesi rendahan padahal bukankah sudah sepatutnya kita menaruh rasa hormat dan bangga kepada para petani kita yang telah begitu berjasa dalam “menghidupi” bangsa tanpa korupsi, kolusi dan nepotisme.

Dengan fakta-fakta yang ada saat ini sepertinya sesuatu yang sulit atau bahkan mustahil untuk menjadikan bangsa Indonesia swasembada pangan seutuhnya. Selain persoalan status sosial dan kesejahteraan yang jauh panggan dari api pada para petani kita tadi, hal yang semakin mempersulit swasembada pangan adalah semakin sempitnya lahan-lahan pertanian. Bisa kita lihat di daerah-daerah paling dekat dengan kita yang selama ini dikenal sebagai lumbung padi seperti Karawang, Subang, Cianjur, Garut, dan daerah lainnya kini mulai bermunculan kawasan-kawasan industri yang berdiri diatas lahan-lahan pertanian. Dengan demikian, berarti bukan hanya masyarakatnya saja yang semakin apatis dengan menggeluti pertanian, tetapi pemerintahnyapun mulai memalingkan pandangan.

Kalau pemerintah daerah sendiri sudah memalingkan pandangan dari dunia pertanian, maka ini paling tidak menimbulkan 2 (dua) kemungkinan. *Pertama, *pemerintah daerah yang sebagian besar daerahnya merupakan jantung pangan bangsa ternyata tidak memiliki konsep dan manajemen yang baik tentang pertanian di daerhanya sendiri. *Kedua, *pemerintah daerah sendiri sudah mulai gerah dengan kecilnya Pendapatan Daerah dari sektor pertanian yang sudah tidak mencukupi untuk membiaya program-program pembangunan di daerahnya. Saya rasa, kalau dikelola dengan baik setiap sektor pertanian yang ada didaerah hasilnyapun akan baik dan bisa menyejahterakan. Hal ini sudah dicontohkan oleh Propinsi Gorontalo dengan konsep pengembangan pertanian jagungnya yang luar biasa, sehingga benar-benar meng-goalkan Gorontalo Swasembada Jagung, bayangkan dengan swasembada jagung saja Gorontalo sudah mampu menggratiskan pendidikan sampai tingkat SLTA, sementara disaat yang bersamaan biaya pendidikan di daerah-daerah lain (yang dikategorikan daerah industri dan maju) pendidikan masih mahal.

Ketika pemerintah saat ini kembali gencar menggalakan Indonesia Swasasembada Pangan, saya tidak begitu ini akan berhasil selama faktanya :

  1. Profesi petani masih dianggap profesi rendahan, harus digerakan perubahan opini dan fakta bahwa petani juga adalah pengusaha.
  2. Bertani tidak dapat memberikan kesejahteraan, disatu sisi pemerintah menekan harga komoditi pangan lokal semurah-murahnya tapi disi lain juga pemerintah tidak begitu memperhatikan nasib para petani.
  3. Generasi kita semakin dicekoki hal-hal yang berbau modernisasi dan semakin menjauhkan semangat untuk bertani. Mereka hampir tidak pernah mengenal sawah, tidak tahu kebun, tidak pernah keladang. Sekalinyapun pernah itu dalam acar wisata tradisional ke kampung wisata. Padahal, sejatinya bertani itu sendiri merupaka sesuatu yang harus diwariskan dan menjadi tradisi. Tanpa petani, kita mau makan apa ?
  4. Lahan-lahan pertanian yang ada terus dikurangi dan beralih fungsi menjadi kawasan-kawasan industri, kawasan-kawasan komplek perumahan dan lain sebagainya. Ini akan menjadi semakin parah ketika kawasan-kawasan baru tersebut menghasilkan limbah yang mencemari tanah-tanah pertanian lain yang masih berada pada fungsinya.
  5. Tidak adanya inovasi pertanian dari lembaga pemerintah yang membidangi pertanian untuk memperbaiki pola-pola pertanian yang ada menjadi jauh lebih baik dengan hasil komoditas yang unggul dan mencukupi, kalau perlu ya sampai swasembada itu tadi.
  6. Kurangnya sosialisasi kepada para petani mengenai inovasi-inovasi pertanian terbaru yang akan lebih menguntungkan para petani.
  7. Tidak stabilnya harga pangan, khusunya hasil para petani lokal yang kadang justru malah merugikan. Persoalan seperti ini adalah hal yang paling menyedihkan bagi para petani. Kalau ini masih terjadi, maka tidak perlu kaget kalau para petani kita memilih beralih profesi dan swasembada pangan hanya tinggal mimpi.

Baik sobat, semoga kedepannya dunia pertanian kita semakin maju dan kita juga tidak takut untu berprofesi sebagai petani, karena petani adalah pahlawan bangsa, agama, dunia dan akherat. Tanpa petani, (sekali lagi) kita mau makan apa ?.

Semangat Terus Petani Indonesia !