Di satu waktu kita wajib untuk melakukan sesuatu, tapi di waktu lain adakalanya kita tidak perlu atau bahkan tidak boleh untuk melakukan sesuatu tersebut, itulah fleksibilitas hidup. Banyak hal yang kadang tidak bisa menjadi baku, bersifat elastis dan memiliki saat-saat pengecualian, semisal hukum, prinsip, pendapat, dan sikap.

Tergantung situasi dan kondisi, atau fleksibilitas hidup adalah hal yang sepertinya sederhana tapi sebetulnya tidak sepele. Karena pada situasi dan kondisi tertentu mengharuskan kita mengambil satu sikap atau keputusan yang tepat. Dalam momen seperti itu hal yang biasanya dianggap salah bisa menjadi benar atau hal yang sebetulnya benar bisa menjadi sangat salah.

Misalnya begini, berbohong adalah satu hal yang dilarang dan tidak disukai. Tapi dalam konteks apa berbohong itu dilarang, kita akan menemukan pengecualian untuk situasi dan kondisi tertentu, seperti untuk mendamaikan dua atau lebih sahabat yang berselisih, atau untuk menjaga perasaan istri ketika masakannya terasa kurang enak tapi kita harus mengatakannya enak.

Demikiannya dengan jujur, jujur mungkin adalah sifat yang sangat terpuji. Tapi ketika kejujuran tidak ditempatkan pada tempatnya maka celakalah yang akan terjadi. Contoh, kita tahu tentang permasalahan pribadi sahabat kita, dan ketika ada yang menanyakan hal tersebut kepada kita maka dengan jujurnya mulut kitap menceritakan semua permasalahan sahabat kita tadi. Akhirnya dalam hitungan detik kita sudah mendeklarasikan diri menjadi musuh bagi sahabat kita.

Contoh lain yang lebih ekstrim adalah membunuh, hampir semua aturan baik aturan negara maupun agama melarang kita untuk membunuh. Namun, dalam keadaan tertentu kita bukan hanya dilarang, tapi diwajibkan untuk membunuh, dan itu bisa dibenarkan baik oleh hukum negara yang kita tempati maupun agama yang kita yakini. Dan itu adalah salah satu poin gambaran dari logika hukum.

Situasi dan kondisi mengajarkan kita bagaimana harus menjadi pribadi yang lentur. Pribadi yang bisa menyesuaikan diri pada setiap keadaan, namun dalam kondisi biasa harus kembali pada posisi normal pribadi kita, ibarat karet yang bisa ditekan dan ditarik namun dalam kondisi normal tetap berada pada sifat normalnya.

Kadang saya berpikir mungkin* “tergantung situasi dan kondisi” *adalah satu jawaban yang cukup untuk banyak pertanyaan terutama mengenai satu rencana tanpa mengurangi sedikitpun niat yang telah ditetapkan. Kalimat “tergantung situasi dan kondisi” kadang menggambarkan satu ketidakpastian momentum waktu, karena memang kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi 1 detik yang akan datang dan seterusnya. Peristiwa yang akan terjadi mungkin pasti terjadi, hanya persoalannya “kapan ?” kita tidak pernah tahu, seperti halnya maut dan sakit.

Tanpa bermaksud SARA, berawal dari obrolan waktu kopdar KBBC bersama Om Bagus, Zanu, Jay Boana, Uzanc, dan Caca, yang membahas permaklmuman dalam berbohong, saya coba menarik persoalan “tergantung situasi dan kondisi” kepada agama yang saya yakini, yaitu Islam. Paling tidak saya menemukan bebereapa pengecualian yang berkaitan dengan situasi dan kondisi tertentu, yaitu :

1. Diperbolehkan berbohong dalam situasi dan kondisi tertentu seperti

  • Untuk mendamaikan pihak-pihak yang berselisih
  • Menjaga perasaan
  • Siasat dalam berperang

2. Diperbolehkan membunuh dalam situasi dan kondisi tertentu. Semisal seorang algojo yang mendapatkan mandat untuk menghukum mati seorang terdakwa pelaku pembunuhan dalam perampokan.

3. Diperbolehkan tidak berpuasa wajib dalam situasi dan kondisi tertentu, seperti :

  • Hamil dan menyusui
  • Dalam perjalanan yang sangat jauh dan kendaraan yang digunakan tidak mendukung untuk berpuasa
  • Masa Haid
  • Sakit

4. Diperbolehkan tidak beribadah haji dalam situasi dan kondisi tertentu, seperti :

  • Belum mempunyai biaya yang cukup
  • Kondisi kesehatan yang tidak mendukung

5. Dan lain sebagainya

Tapi ternyata ada juga hal yang sama sekali tidak mendapat pengecualian, apapun situasi dan kondisinya, yaitu seperti** berzina. **Dan dari situ saya sedikit banyaknya mendapat satu pelajaran, pantas saja berzina merupakan satu dosa yang sangat besar dan dikatakan sangat keji. Tidak ada satu alasan apapun yang bisa membenarkan perbuatan zina.

Sahabat, istilah “tergantung situasi dan kondisi” meskipun mengartikan sesuatu yang fleksibel bukan berarti juga membenarkan inkonsistensi. Konsistensi akan niat awal harus tetap dipegang, namun pada pelaksanaanya kita juga harus memahami kondisi yang terjadi.

Tergantung situasi dan kondisi adalah satu momentum yang mengingatkan kita supaya tidak keras kepala atau bahkan kaku. Ketika kita tetap keras dan tidak bisa menjadi sesuatu yang fleksibel, maka bukan tidak mungkin kita akan dipatahkan oleh situasi dan kondisi tertentu.