Lebaran tinggal menghitung hari, banyak orang yang tersenyum ceria siap-siap menyambut hari kemenangan dengan penuh kebahagiaan, tapi tidak untuk Rani. Rani harus banyak menghela nafas dan mengusap dada setiap kali teman-teman setingkatannya di kelas 4 SD saling menunjukan baju baru yang dibelikan oleh orang tuanya masing-masing. Bagi Rani untuk lebaran yang ketiga kalinya ini ia harus kembali berlebaran seadanya, membuang angan-angan untuk mendapatkan “sepatu kaca” seperti yang sering ia lihat di telapak kaki teman-temannya.

Tiga tahun lebih sudah, Ayah Rani merantau ke negeri Jiran, jangankan mengirimkan sejumlah uang untuk membelikan baju lebaran, berkirim kabarpun tidak. Ibunya yang hanya bisa mengais rejeki dari mencuci pakaian tetangga sekitarnya tidak sanggup untuk membelikan yang Rani inginkan. Beruntung, meskipun masih kecil Rani sudah mampu mengendalikan hasratnya, paling tidak dihadapan ibunya. Rani tidak mau ibunya semakin terbebani dengan kemauan-kemauannya. Rani tahu, meskipun ibunya tidak mampu membelikan apa yang ia inginkan bukan berarti ibunya tidak memahami apa yang diinginkannya. Walau kadang di belakang ibunya tak kuat lagi meneteskan air mata, ia terus berusaha tersenyum ceria sebisa mungkin dihadapan ibunya.

Adakalanya, lebaran adalah salah satu momen yang kurang Rani sukai. Ingin sekali rasanya kalau hidup ini tidak ada lebaran, tidak ada hari yang harus membuat ia bersedih. Tapi Ranipun sadar, tidak ada yang salah dengan hari lebaran, yang salah adalah ketika kita salah menyikapi dan merayakannya. Dan meskipun demikian, Rani sangat bersyukur betul mempunyai ibu yang benar-benar pahlawan, inspirator dan motivator bagi dirinya.

Malam menjelang lebaranpun tiba, sayup-sayup suara takbir dari berbagai surau kampung akhirnya meruntuhkan benteng senyuman Rani. Ia tak kuat lagi menahan air matanya yang sudah bergelayut kuat di pelupuk mata. Sebisa mungkin ia menahan air matanya, tapi memang ia sudah tak sanggup lagi, bibirnya kelu, alur napasnya terbata-bata, seketika ia peluk ibunya dengan erat-erat, sang ibupun tak sanggup membendung air matanya. Ibu dan putri darah dagingnya berpelukan dengan penuh deraian air mata.

Lebih dari sepuluh menit lamanya Rani dan ibunya berpelukan, selain tangisan tak ada satu katapun yang terucap dari keduanya. Sebagai seorang ibu, ibu Rani faham betul apa yang sedang dirasakan didalam diri putri semata wayangnya. “Maafin Rani Bu….. maafin Rani…”, suara Rani memecah suasana yang penuh tangisan. Ibu Rani tidak menjawab satu katapun, beliau belum bisa mengendalikan nafas dan tangisannya. “Maafin Rani ya Bu…..” lirih Rani seperti penuh rasa sesal dan bersalah. Ibu Rani hanya bisa menganggukan kepala dengan air mata yang terus bercucuran dipipinya.

“Maafin Rani bu, Rani sudah banyak menyusahkan ibu, Rani sudah banyak menjadi beban pikiran ibu, Rani sudah membuat ibu bersedih…”. Rani merasa berdosa, merasa berdosa karena ia tidak mampu membendung air matanya sehingga membuat ibunyapun larut dalam tangisan, padahal ia sama sekali tidak ingin membuat ibunya bersedih, Rani sadar bahwa ibunya sudah banyak melakukan segalanya melebih batas kewajiban sebagai orang ibu.

Ibu Rani, masih tersedu-sedu dalam tangisan, serasa bingung mau menjawab apa. Banyak hal yang membuat mereka bersedih. Penjelasan apa yang harus disampaikan pada Rani, membuat ibu Rani semakin bersedih. Keduanya sama-sama tahu dan sama-sama saling memahami. Persis malam itu hanya Rani, Ibu Rani, Malaikat, dan Allah saja yang tahu apa yang sedang dirasakan oleh Rani dan Ibunya, dimana saat bersamaan orang-orang disekitar rumah Rani sedang riang gembira bercengkerama dengan seluruh anggota keluarganya.

-oOo-

Sobat, sepenggal cerita fiksi (yang mungkin ada dikenyataanya) singkat diatas menggambarkan tidak semua orang bisa tersenyum penuh ceria seperti kebanyakan orang. Ada yang bersedih karena tidak bisa berkumpul bersama keluarga, karena mereka harus bekerja jauh dari keluarga atau bahkan harus menuntut ilmu di negeri orang, atau karena orang yang terkasihi sudah tidak lagi hidup di alam yang sama. Ada yang bersedih karena tidak bisa membeli baju baru sementara orang-orang disekitarnya begitu ramai yang membicarakan hal tersebut. Banyak yang kondisinya tidak jauh lebih baik dari gambaran cerita diatas. Tapi bagaimanapun tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur.

Sobat, disaat kita tidak bisa berlebaran bersama keluarga karena jauhnya jarak, ternyata masih banyak saudara-saudara kita yang jauh lebih bersedih karena kondisinya tidak lebih baik dari kita. Sementara untuk sobat-sobat yang bisa berlebaran tanpa satu kekurangan apapun (yang seolah-olah tidak ada alasana untuk bersedih), hendaklah bersikap sewajarnya dengan menjaga perasaan orang lain yang tidak bia seperti sobat, bayangkanlah kalau sobat berada pada posisi seperti Rani diatas.

Dan mudah-mudahan kita semua, seluruh umat Islam didunia bisa bersedih berjamaah. Bersedih karena kita akan berpisah dengan bulan suci Ramadhan, dimana belum tentu kita akan menemuinya kembali di tahun-tahun yang akan datang. Bersedih karena begitu banyak waktu / momen yang disia-siakan dibulan puasa. Bersedih karena banyaknya dosa yang sudah terkumpul. Dan Turut bersedih dimana saat kita bisa berlebaran, sementara banyak saudara-saudara kita dibelahan dunia yang lain masih harus terus berlumuran darah dan ujian.