Di daerah ini biaya pendidikan sudah sangat murah sebetulnya, bahkan sudah mencapai skala gratis. Daerah manakah itu ? maaf, saya tidak berani menyebutkannya. Meski demikian apa yang tertuang dalam tulisan ini adalah sesuatu yang nyata.

![traficking berkedok duta budaya](https://blog.rosid.net/content/images/2013/04/traficking.jpg)
Ilustrasi (by. **[Ryo Hadi Pranata](http://ryohadipranata.deviantart.com/)**)
Meski biaya pendidikannya murah, jangan bayangkan antusiasme peserta didik anak perempuan dan orang tuanya tinggi. Miris, ketika lulus SMP sudah dianggap lebih dari cukup. Paling tidak untuk standar bisa membaca, menulis, menghitung, dan tentu saja berproses menjadi gadis remaja, begitulah dalam benak mereka.

Sebetulnya ini bukanlah kondisi yang baru. Belasan, bahkan dua puluhan tahun yang lalu sudah terjadi. Hanya grafiknya kini semakin menaik.

Begitu anak gadisnya sudah tumbuh remaja, maka bayangan yang ada pada mata orang tuanya adalah kiriman uang melimpah, membeli hektaran sewah, dan membangun rumah yang mewah. Sialnya, do’a yang sering diucapkan ketika anak-anaknya masih duduk di bangku SD adalah “cepat besar ya nak, cepat ke Jepang biar bawa uang yang banyak !“.

Kalau dulu, paling banter setelah lulus SMP anak gadisnya ditransfer ke warung remang-remang di pesisir pantai utara, sekarang menyeberang lintas pulau sentra wisata nusantara. Masih belum puas, didepak lagi melangkah ke negeri seberang ; Jepang, Taiwan, Hongkong dan Korea.

Salah satu senjata ‘agen’ dalam membujuk para orang tua yang anak gadisnya sudah dibidik oleh mata setannya yang tajam adalah dengan mengimingi-imingi pekerjaan sebagai Duta Budaya di daerah atau negara yang magnet pariwisatanya tinggi. Halusnya demikian, tegasnya “yang pangsa pasar dunia esek-eseknya tinggi”.

Ketika dikabarkan anaknya menjadi Duta Budaya, kecil kemungkinannya si orang tua menolak. Bahkan seolah ada rasa bangga anaknya membawa titisan budaya asalnya ke seantero jagad raya. Di sinilah si anak mulai dilatih (walau sekedarnya) menari tradisional.

Pelan tapi semakin menggurita, para remaja gadis semakin didorong berlatih menari tradisional dengan harapan bisa ikut terpilih menjadi ‘duta budaya’ juga. Sepintas ada semangat pelestarian budaya yang membanggakan dari para generasi ini, tapi di sisi lain ini menjadi kedok para pencari mangsa untuk menjadikan mereka mesin uang.

Babak Awal  ‘Si Duta Budaya’

Beberapa anak gadis yang dianggap sudah siap dikirim ke luar negeri dibantu proses administrasinya oleh orang-orang yang disebut ‘sponsor’, aslinya tidak lebih sebagai agen perdagangan gadis remaja. Lagi-lagi ini angin segar bagi orang desa yang rata-rata masih awam soal pengurusan paspor, visa, dan sebagainya.

Setelah beberapa bulan di tempat tujuan, kiriman uang datang dari sang anak ke orang tuanya. Tidak tanggung-tanggung, bisa puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Orang tua mana yang tidak girang bukan kepalang ?, apalagi untuk skala masyarakat pedesaan. Apakah mereka di sana menjadi pembantu rumah tangga ? duh, jangan ngawur, mana ada pembantu rumah tangga dilatih menari dan mampu mengirim uang sekaligus puluhan bahkan ratusan juta di waktu yang singkat ?.

Fenomena ini tentu saja menghebohkan se isi kampung. Rama-ramai anak gadis remaja yang masih ada di kampung menjadi bulan-bulanan orang tuanya yang menganggap kalau anak gadisnya tidak berguna. Anggapan ini muncul karena rasa iri ketika anak tetangga bisa mengirimkan uang melimpah dari negeri antah berantah.

Lambat-laun, kondisi ini menjalar ke tiap-tiap rumah (bahkan lintas desa) dalam memproyeksikan anak gadisnya supaya bisa menyusul ‘angkatan’ sebelumnya yang sudah lebih dulu berangkat. Sekarang bukan lagi satu – dua gadis yang pergi, tapi sudah puluhan dari satu kampung.

Anda yang tidak pernah lewat ke kampung-kampung tersebut bisa jadi akan merasa aneh ketika menyaksikan perkampungan yang dikelilingi sawah tapi rumahnya mewah-mewah.

Pulang Malu, *Gak *Pulang Rindu

Istilah di atas sudah tidak aneh lagi di kuping kita. Umumnya menggambarkan seseorang yang ingin pulang dari perantauan, tapi tertahan oleh rasa malu karena banyaknya hutang yang harus dibayar, ditambah belum menuai hasil yang cukup di tanah perantauan.

Pada kasus ‘duta budaya ganjil’  ini istilah “Pulang Malu Gak Pulang Rindu” sudah mengalami perubahan makna.

Siapa yang tidak rindu tanah kelahiran saat di perantauan ?, tentu saja tidak ada. Demikian juga dengan para gadis yang dikirim ke luar negeri. Awal berangkat penuh antusias, tapi ketika pulang ke tanah air lebih banyak mengurung diri di dalam kamar. Ada apa ini ?

Aib itu lama kelamaan terbongkar juga, mereka pergi ke sana ternyata bukan semata-mata menjadi duta budaya, jauh dari itu. Maaf, saya harus mengatakan ini, mereka ada yang menjadi penari bugil, pelayan panti pijat++, bahkan… ah sudah lah tanpa saya katakan pun rasanya Anda bisa mengerti.

Parahnya rasa malu ini hanya sementara. Ketika hampir setiap rumah mengirimkan anak gadisnya untuk menjadi mesin uang di luar negeri, rasa malu diantara para ‘alumni’ itu sudah tidak ada. Ya iyalah, orang ‘sama-sama’ kok !. Babak selanjutnya adalah “karena sudah terlanjur nyebur, adu kejar kekayaan sekalian“.

Antara Bos, Agama, dan Perubahan Sosial

Titik jenuh, istilah ini nampaknya disadari juga oleh para gadis pemburu dolar itu. Sadar bahwa mereka tidak mungkin terus-menerus ada di dunia seperti itu, apalagi harus jauh dari keluarga di waktu yang lama, fokus mereka pun beralih ke pasangan hidup.

Ketergantungan gaya hidup mewah mendorong mereka untuk mendapatkan suami yang kaya raya. Tidak peduli jadi istri yang keberapa atau bahkan agamanya apa. Beberapa di antaranya bahkan ada yang nekat pindah keyakinan mengikuti calon suami. Celakanya lagi, orang tua mereka seperti menganggap itu bukan masalah selama status sosial dilihat dari derajat kekayaan hartanya meningkat. Seolah menjadi terhormat luar biasa ketika anak gadisnya menikah dengan bos-bos dari kota atau bahkan manca negara.

Suasana lebaran tidak lagi kental dengan khidmat takbir, tapi menjadi ajang adu ledakan kembang api. Jauh lebih meriah dari suasa kota. Letupan-letupan kembang api dari tiap rumah menjadikan langit kampung terang benderang seperti pembukaan Olimpiade Beijing 2008. Tanpa sadar, mulut saya sampai berucap “Ini Gila !!!”.

Perubahan sosial terjadi pada pola pernikahan. Karena banyak gadis desa yang menikah dengan bos-bos dari kota dan manca negara, mau tidak mau memaksa kaum bujangan untuk pergi merantau dan mencari jodoh dari daerah lain. Mereka seperti tak kuat harus menyiapkan mahar bagi gadis se desa sendiri. Apalagi anak laki-laki kadang dianggap tak sehebat anak perempuan yang mampu menghasilkan uang melimpah.

Menggelar hajatan pernikahan atau khitanan lebih dari 2 hari 2 malam bukan lagi barang baru. Gengsi dan kesombongan benar-benar memainkan peranan disini.

Majelis-majelis pengajian hanya diisi oleh ibu-ibu yang sudah lanjut usia dan anak kecil yang masih duduk di bangku SD. Ada juga guru ngaji setempat yang kebijaksanaanya sudah diakui warga sekampung, tapi harus menahan sedih dan malu yang luar biasa ketika cucunya sendiri menjadi mesin uang di klub-klub malam. Dengan segala daya yang ada, ia tak mampu mencegahnya.

Perubahan lain yang terjadi adalah menaiknya harga jual tanah. Maklum, luas tanah terbatas, sementara kiriman uang dari luar negeri terus mengalir. Ini mendorong masyarakat berani membeli lebih mahal asalkan tanah atau sawah yang ada bisa menjadi miliknya.